Sanggar Penyuwunan: Jejak Perjuangan dan Spiritualitas Eyang Sapoe Djagad
Malang | Serulingmedia. com – Di tengah hiruk-pikuk modernitas, jejak sejarah dan spiritualitas masih hidup dalam denyut kehidupan masyarakat. Salah satu tempat yang sarat dengan nilai sejarah dan kepercayaan adalah Sanggar Penyuwunan atau Mushollah Sapu Jagad, yang terletak di Dusun Maguan, Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Tempat ini menjadi saksi bisu perjuangan dan pengabdian seorang tokoh yang dikenal sebagai Raden Mas Soetedjo Ningrat atau Eyang Sapoe Djagad.

Setiap malam Jumat Legi, terutama menjelang bulan suci Ramadhan, Sanggar Penyuwunan ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka datang untuk ngalap berkah dan berdoa di tempat yang dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi. Tempat ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol persatuan berbagai kepercayaan.
Sejarah Perjuangan Eyang Sapoe Djagad

Raden Mas Soetedjo Ningrat berasal dari Mataram dan pernah menjabat sebagai Wedono di Kesamben, Kabupaten Blitar.
Ia adalah putra dari Bupati Malang ketiga dan seorang pejuang yang gigih melawan penjajahan Belanda. Namun, dalam perjuangannya, ia terdesak oleh pasukan Belanda hingga harus mengungsi ke Desa Maguan. Di tempat ini, ia membangun rumah dan meninggalkan beberapa peninggalan bersejarah, salah satunya adalah Kawah (Jedi), sebuah tempat yang diyakini masyarakat memiliki kekuatan penyembuhan.
Pada tahun 1942, Belanda akhirnya menangkap Raden Mas Soetedjo Ningrat dan membawanya ke Ambarawa, Jawa Tengah. Ia dihukum mati dengan cara dieksekusi menggunakan samurai. Namun, saat pedang hendak ditebaskan, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi batang pisang (kedebog). Kejadian luar biasa ini kemudian terdokumentasikan dalam majalah “Penyebar Semangat,” yang semakin mengukuhkan keyakinan masyarakat terhadap keistimewaannya.
Peninggalan Berharga dan Peran Yayasan Gajah Purwo Nusantara

Salah satu peninggalan penting di Sanggar Penyuwunan adalah Jedi, sebuah wadah air berbentuk wajan besar dari baja dengan diameter satu meter. Awalnya, Jedi ini digunakan untuk menampung air dari Sumber Ubalan yang berjarak 4,5 km. Namun, seiring waktu, kondisinya kurang terawat hingga akhirnya Yayasan Gajah Purwo Nusantara (GPN) mengambil inisiatif untuk melestarikan situs ini.
Ketua GPN, Achmad Tohir Setiawan, bersama puluhan anggotanya, melakukan pipanisasi untuk mengalirkan air dari Sumber Ubalan ke Sanggar Penyuwunan.
Mereka juga mengangkat Jedi ke ketinggian dua meter agar air yang tertampung lebih bersih dan membangun fasilitas kamar mandi bagi pengunjung. Proses pengangkatan Jedi dilakukan pada hari Jumat Kliwon tahun 2014 dengan berat mencapai dua kuintal.
Kepercayaan dan Wisata Spiritual

Selain Sanggar Penyuwunan, peninggalan lain yang tak kalah menarik adalah Sumber Umbul Rejo di Dusun Ubalan. Konon, mata air ini muncul setelah Raden Mas Soetedjo Ningrat menancapkan “sodo lanang” atau lidi laki-laki. Kepercayaan masyarakat terhadap kisah ini masih kuat, sehingga tempat ini sering dikunjungi peziarah, terutama pada malam Jumat Legi dan Selasa Kliwon.
Kisah perjuangan dan spiritualitas Eyang Sapoe Djagad tidak hanya menjadi legenda, tetapi juga bagian dari sejarah yang terus hidup dalam budaya masyarakat. Dengan adanya upaya pelestarian oleh berbagai pihak, termasuk Yayasan GPN, diharapkan warisan ini tetap terjaga dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Sanggar Penyuwunan bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol perjuangan, ketabahan, dan kebersamaan dalam keberagaman.( Eno).






