Inovasi Dasa Wisma Lavender 14 : Dari Obrolan Santai Menuju Kegiatan Produktif, Kreative dan Ketahanan Pangan dalam Satu Gerakan

IMG-20250214-WA0058

Malang | Serulingmedia.com – Di tengah arus modernisasi, upaya pemberdayaan komunitas menjadi semakin penting untuk menjaga kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Dasa wisma (Dawis) Lavender 14 RT. 05 RW. 12 Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang adalah contoh nyata bagaimana kelompok masyarakat, khususnya ibu-ibu, dapat berkontribusi secara aktif dalam berbagai bidang, mulai dari kerajinan tangan, pelestarian budaya, hingga ketahanan pangan.

Di tengah kesibukan rumah tangga, banyak ibu-ibu yang mencari cara untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat.

Hal ini pula yang melatarbelakangi terbentuknya Dawis Lavender 14. Menurut Ketua Dawisnya, Listyaningsih, atau yang akrab disapa Lies, bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan untuk mengubah kebiasaan berkumpul menjadi sesuatu yang lebih produktif.

“Daripada berkumpul hanya untuk ngrumpi, kan lebih baik menghasilkan barang yang berguna,” ujar Lies pada Jumat (14/2/2025).

Pernyataan ini mencerminkan semangat perubahan yang ingin ia bawa dalam komunitasnya.

Mengubah Waktu Luang Menjadi Kegiatan Bernilai

Dawis Lavender 14 membuktikan bahwa kebersamaan dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan karya dan peluang ekonomi. Para anggotanya aktif dalam berbagai kegiatan produktif, seperti membuat kerajinan tangan, pelatihan batik, dan pengelolaan kawasan pangan lestari.

Dengan memanfaatkan barang bekas, khususnya galon air mineral, ibu-ibu Dawis Satu berhasil menciptakan pot bunga dan berbagai kerajinan tangan yang tidak hanya bermanfaat tetapi juga memiliki nilai jual.

Kerajinan yang dihasilkan oleh Dawis Lavender 14 tidak hanya sebatas pot bunga, tetapi juga mencakup vas bunga serta tempat buah, semuanya dibuat dengan sentuhan seni dan kreativitas ibu-ibu setempat.

Lebih membanggakan lagi, seluruh proses pembuatan dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan pihak luar. Bahkan, ada rencana untuk menjual hasil karya mereka sebagai tambahan dana kas organisasi.

” Kami akan ikutkan pameran di desa atau kecamatan sekalian memperkenalkan hasil usaha mandiri kami ” Lanjutnya.

Proses mandiri ini menjadi kebanggaan tersendiri karena menunjukkan bahwa komunitas mereka memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan lebih jauh. Bahkan, rencana menjual hasil kerajinan mereka semakin membuka peluang bagi Dawis Lavender 14 untuk menambah dana kas organisasi, yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial atau pengembangan usaha lebih lanjut.

Melestarikan Budaya dengan Pelatihan Batik

Selain menghasilkan kerajinan tangan, Dawis Lavender 14  juga memberikan pelatihan pembuatan batik kepada anggotanya. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk melatih keterampilan tetapi juga untuk melestarikan warisan budaya Indonesia.

Batik, sebagai salah satu kekayaan budaya yang telah diakui dunia, memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan baik.

Dengan adanya pelatihan ini, ibu-ibu di Dawis Lavender 14 berkesempatan mengembangkan potensi mereka dalam bidang tekstil sekaligus membuka peluang usaha baru di bidang industri kreatif dan juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi ibu-ibu di komunitas tersebut.

“‘Ini bukan sekadar upaya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu yang ingin meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan keterampilan membatik, mereka memiliki kesempatan untuk menghasilkan produk dengan nilai jual tinggi ” Tambahnya.

Ketahanan Pangan dengan KRPL Dawis Lavender 14

Tak hanya bergerak di bidang kerajinan, Dawis Lavender 14 juga mengambil peran dalam ketahanan pangan dengan membentuk Kawasan Ramah Pangan Lestari (KRPL) yang diberi nama KRPL Dawis Lavender 14.

Dengan memanfaatkan rumah kosong sebagai lahan bercocok tanam, mereka menanam berbagai jenis sayuran dan buah yang dapat dikonsumsi sendiri maupun dijual.

Selain itu, mereka juga membudidayakan ikan lele sebagai sumber protein bagi masyarakat sekitar.

Konsep KRPL ini tidak hanya mendukung kemandirian pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi komunitas.

Dengan adanya sumber pangan yang mudah diakses, ibu-ibu di Dawis Lavender 14 dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar dan menekan pengeluaran rumah tangga. Lebih dari itu, inisiatif ini juga memberikan dampak positif bagi lingkungan karena memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif.

Dengan konsep pertanian berkelanjutan, mereka turut berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Dawis Lavender 14 RT. 05 RW 12 Desa Ngijo Kecamatan Karangploso adalah contoh nyata bagaimana komunitas kecil dapat berkembang dengan semangat kebersamaan dan inovasi. Serta sebagai inspiratif bagaimana komunitas dapat berdaya secara ekonomi dan sosial melalui kreativitas dan inovasi.

Apa yang dimulai sebagai upaya sederhana untuk mengisi waktu luang kini telah berkembang menjadi gerakan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Dengan mengubah pola pikir dari sekadar berkumpul menjadi berkarya, Dawis Lavender 14 membuktikan bahwa produktivitas bisa lahir dari hal-hal kecil yang dikelola dengan baik.

Semangat ini tidak hanya meningkatkan keterampilan dan ekonomi anggota, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat luas.

Dari kerajinan tangan, pelatihan batik, hingga ketahanan pangan, mereka menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis komunitas mampu memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi anggota kelompok, tetapi juga masyarakat sekitar.

Dengan semangat gotong royong dan kemandirian, Dawis Lavender 14 telah membuktikan bahwa perubahan positif dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dikelola dengan komitmen dan keberlanjutan.( Eno).