Haul Eyang Djoego ke-156: Ruang Spiritual yang Menyatukan Tradisi Jawa dan Tionghoa Blitar kembali menjadi magnet spiritual
Blitar | Serulingmedia.com – ketika ribuan peziarah memadati Padepokan Eyang Djoego Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Minggu (19/4/2026).
Momentum Haul Eyang Djoego ke-156 bukan sekadar peringatan wafat seorang tokoh spiritual, melainkan peristiwa budaya yang hidup—menghadirkan pertemuan lintas tradisi, keyakinan, dan harapan dalam satu ruang sakral yang sarat makna.

Sejak pagi, arus manusia datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka membawa tumpeng, doa, dan harapan yang disematkan dalam ritual ngalap berkah di hadapan pendopo utama Eyang Djoego.
Tumpeng-tumpeng yang tersusun rapi bukan sekadar simbol syukur, tetapi juga representasi hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta penghormatan kepada leluhur yang dimuliakan.

Pesanggrahan Eyang Djoego sendiri menyimpan jejak sejarah dan spiritualitas yang unik. Terletak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Blitar, tempat ini dahulu menjadi padepokan sebelum Eyang Djoego berpindah ke Gunung Kawi.
Nuansa Jawa yang kental berpadu harmonis dengan pengaruh budaya Tionghoa yang begitu kuat. Hal ini tampak dari keberadaan klenteng-klenteng seperti pemujaan Kwan Im, Kwan Kong, hingga Ti Kong yang berdiri berdampingan dengan petilasan Eyang Djoego.

Tidak hanya dari bangunan fisik, perpaduan budaya juga tercermin dalam praktik ritual. Hiolo (tempat dupa), puakpwe, serta bekas bakaran hioswa menjadi bagian dari lanskap spiritual di kawasan tersebut. Menariknya, batas-batas budaya seolah mencair di tempat ini.

Warga Jawa tidak segan melakukan ritual ala Tionghoa, sementara peziarah Tionghoa turut membakar kemenyan dan mengikuti tradisi Jawa. Sebuah akulturasi yang tumbuh alami tanpa sekat.
Menurut juru kunci, Arif Yulianto Wicaksono, momen-momen tertentu seperti malam Senin Pahing, malam Jumat Legi, hingga Bulan Selo menjadi waktu yang paling ramai dikunjungi.

“Setiap malam Senin Pahing dan Jumat Legi, peziarah selalu datang. Apalagi saat Bulan Selo, suasananya jauh lebih ramai karena banyak yang meyakini itu waktu sakral untuk berdoa dan ngalap berkah,” ungkapnya.
Arif juga menuturkan bahwa keberagaman ritual di tempat ini sudah berlangsung sejak lama dan menjadi ciri khas Padepokan Jugo.
“Di sini tidak ada batasan.Siapa pun boleh berdoa dengan cara masing-masing. Yang penting niatnya baik, mencari berkah dan ketenangan batin,” tambahnya.
Fenomena ini tidak lepas dari kisah yang berkembang di masyarakat bahwa Eyang Djoego pernah menetap di Tiongkok semasa hidupnya.

Ungkapan Arif , memperkuat ikatan emosional bagi sebagian peziarah Tionghoa yang datang, bahkan ada yang meyakini memiliki garis keturunan dengan tokoh tersebut.
Namun pada akhirnya, latar belakang itu tidak menjadi pembeda, melainkan justru menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai keyakinan dalam satu tujuan: mencari berkah.
Haul Eyang Djoego ke-156 /2026 menjadi cermin nyata bagaimana spiritualitas dapat melampaui batas etnis dan budaya.
Di tengah dunia yang kerap diwarnai sekat perbedaan, Padepokan Jugo menghadirkan wajah lain Indonesia—tentang harmoni, toleransi, dan kebersamaan yang tumbuh dari akar tradisi.
Di tempat ini, doa-doa dipanjatkan dalam beragam cara, namun bermuara pada harapan yang sama: kehidupan yang lebih baik, rezeki yang lancar, kesehatan, hingga jodoh yang dipermudah.
Dan di antara asap dupa yang mengepul serta aroma kemenyan yang menguar, tersimpan satu pesan kuat—bahwa keberkahan sering kali hadir dari kebersamaan yang tulus, tanpa memandang perbedaan. ( Eno)






