Dr. Zainal Habib: BLU, Jalan Baru Kemandirian dan Keberkahan PTKIN

Screenshot_2025-10-28-16-20-54-627_com.android.chrome-edit

Malang | Serulingmedia.com – Gagasan segar dan visioner datang dari Dr. Zainal Habib, M.Hum, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Wakil Rektor 2 UIN Maliki.

Dalam refleksinya berjudul “Dari Spirit Pengabdian ke Kemandirian: BLU sebagai Pilar Transformasi PTKIN”, ia menegaskan pentingnya Badan Layanan Umum (BLU) sebagai fondasi menuju kemandirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Momentum Dies Maulidiyah ke-64 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa ( 28/10/2025) disebutnya bukan sekadar peringatan usia, melainkan waktu yang tepat untuk menegaskan arah baru transformasi PTKIN: dari lembaga pengabdian menuju lembaga yang mandiri, profesional, dan berdaya saing global tanpa kehilangan ruh keislaman.

“BLU bukan sekadar status administratif, tetapi instrumen strategis untuk mewujudkan perguruan tinggi Islam yang unggul dalam ilmu, dalam spiritualitas, dan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis nilai,” ungkap Dr. Zainal Habib dalam tulisan reflektifnya.

Menurutnya, perubahan menuju BLU merupakan jawaban atas tantangan zaman yang menuntut efisiensi dan kemandirian.

Kini, PTKIN tidak cukup hanya mengandalkan dana APBN, tetapi juga dituntut mampu mengelola potensi internal secara kreatif dan produktif.

Data Kementerian Keuangan (2024) mencatat, dari 58 PTKIN, sebanyak 32 telah berstatus BLU—menandai era baru transformasi pendidikan Islam.

Namun, Dr. Zainal menegaskan bahwa kemandirian finansial tidak boleh mematikan spirit pengabdian. Justru dengan manajemen berbasis kinerja, profesionalisme, dan transparansi, nilai-nilai pengabdian dapat tumbuh dalam bentuk baru yang lebih relevan.

Ia mencontohkan langkah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang memadukan konsep Green and Smart Campus dengan Halal Ecosystem, serta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mengembangkan Innovation Center untuk membina wirausaha mahasiswa.

“Kemandirian yang sejati bukan berarti meninggalkan nilai, tetapi mengelola nilai itu secara produktif dan berkelanjutan,” ujarnya menekankan.

Dalam refleksinya, Dr. Zainal juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam tata kelola BLU. Menurutnya, sistem digital seperti SIBLU dan e-BLU Dashboard bukan hanya soal kecepatan administrasi, tetapi juga wujud nyata dari akuntabilitas publik.

“Transparansi adalah ibadah sosial. Setiap rupiah yang dikelola adalah amanah,” tulisnya dengan nada moral yang kuat.

Ia menambahkan, keberhasilan BLU sejati tidak diukur dari besarnya pendapatan, melainkan dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat. Oleh sebab itu, kepemimpinan di era BLU harus berkarakter: mampu menyeimbangkan antara spiritualitas dan manajerialitas.

“Pemimpin PTKIN hari ini bukan sekadar birokrat akademik, tetapi transformator nilai,” tegasnya.

Pada bagian akhir, Dr. Zainal mengingatkan bahwa transformasi BLU adalah perjalanan nilai, bukan sekadar pembaruan administratif. Ia menyebutnya sebagai babak baru kemandirian PTKIN yang berakar pada keadaban dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

“Ilmu tanpa adab adalah kesesatan, dan kekayaan tanpa amanah adalah kehancuran,” tulisnya mengutip Imam al-Ghazali.

Melalui gagasan reflektif ini, Dr. Zainal Habib mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan kemandirian bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai jalan baru pengabdian — tempat ilmu, iman, dan inovasi bertemu demi masa depan pendidikan Islam yang berdaya dan beradab.(Eno).