CooSAE Kembangkan Alpukat Hass, Primadona Baru Pertanian Kota Batu

ALP[UKAT HASS_11zon

Batu | Serulingmedia.com – CooSAE (Cooperative Smart Agriculture Ecosystem) terus menunjukkan langkah progresif dalam mendorong komoditas unggulan pertanian Kota Batu. Salah satunya melalui pengembangan Alpukat Hass yang kini mulai diproyeksikan sebagai primadona baru dengan potensi pasar nasional hingga ekspor, melengkapi komoditas andalan daerah seperti apel dan jeruk.

CEO CooSAE Batu, Rakhmad Hardiyanto, atau yang akrab disapa Hardi, menyampaikan bahwa Alpukat Hass dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat, baik di dalam maupun luar negeri.

“Alpukat Hass ini punya karakteristik premium, sehingga nilai jualnya tinggi. Ini menjadi peluang besar bagi petani Batu untuk naik kelas,” ujarnya di ruang kerjanya, Rabu ( 22/4/2026 ).

Ia menjelaskan, CooSAE (Koperasi Multi Pihak Smart Agriculture Ecosystem) merupakan koperasi pertanian berbasis ekosistem inklusif yang menghubungkan petani, pengolah, pemasar, serta mitra pendukung dalam satu sistem terintegrasi.

“Fokus utama kami adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui teknologi, inovasi, dan kolaborasi,” terang Hardi.

Menurutnya, CooSAE tidak hanya berfungsi sebagai koperasi simpan pinjam, tetapi juga sebagai ekosistem pertanian modern yang mengelola rantai nilai dari hulu hingga hilir. Konsep inclusive closed loop diterapkan agar seluruh pihak, mulai dari petani hingga pemasar, mendapatkan manfaat secara berkelanjutan.

Selain itu, CooSAE aktif memberikan pemberdayaan kepada petani melalui pelatihan budidaya berbasis standar Good Agricultural Practices (GAP), pendampingan usaha, akses sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida), hingga dukungan teknologi pascapanen.

“Dengan pendekatan ini, petani bisa meningkatkan produktivitas, kualitas, sekaligus nilai jual produk mereka,” imbuhnya.

Alpukat Hass sendiri merupakan varietas unggulan asal Australia yang memiliki ciri khas kulit tebal, kasar, dan berbatu. Saat matang, warnanya berubah dari hijau menjadi ungu kehitaman. Daging buahnya berwarna kuning keemasan, tebal, pulen, serta memiliki rasa gurih khas seperti mentega atau kacang. Selain itu, daya simpannya yang lebih lama menjadikannya sangat diminati di pasar ekspor.

Di Kota Batu, pengembangan Alpukat Hass telah dilakukan oleh anggota CooSAE di beberapa wilayah seperti Tulungrejo, Sumbergondo, serta Bulukerto. Kawasan ini berada di pinggiran hutan dan ditanam berdampingan dengan tanaman kopi, sehingga sangat cocok sebagai penahan erosi tanah dan potensi longsor melalui konsep agroforestry.

Meski jumlah petani masih terbatas, produktivitasnya cukup menjanjikan. Bahkan, satu petani mampu memiliki ratusan pohon dalam satu lahan.

Harga di tingkat petani pun tergolong premium, berkisar antara Rp26.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Tingginya permintaan dari pasar seperti Jakarta dan Bali menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki prospek cerah, meskipun saat ini produksi masih terus ditingkatkan.

Tak hanya fokus pada budidaya, CooSAE juga mengintegrasikan seluruh rantai pasok melalui model inclusive closed loop, sehingga mulai dari produksi hingga pemasaran berada dalam satu sistem yang saling terhubung dan menguntungkan.

Dalam waktu relatif singkat, CooSAE telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak, di antaranya PT Sweet Greens Indonesia, Superindo, serta Koperasi Amanah Samboja Sejahtera sebagai mitra distribusi dan pemasaran produk pertanian.

Selain itu, CooSAE juga memperkuat kualitas produk melalui sertifikasi Good Agricultural Practice (GAP), yang menjadi standar penting untuk menembus pasar modern dan ekspor.

“Ini bukan hanya soal hasil panen, tapi bagaimana menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan menguntungkan petani,” tambah Hardi.

Dengan pendekatan berbasis teknologi, kolaborasi, dan inovasi, CooSAE tidak hanya berperan sebagai koperasi, tetapi juga menjadi motor penggerak pemberdayaan petani di Kota Batu.

Ke depan, Alpukat Hass diharapkan mampu menjadi ikon baru pertanian Batu yang tidak hanya unggul di pasar lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar global. ( Eno)