Strategi Mengembalikan Kejayaan Apel sebagai Ikon Kota Batu

IMG-20250319-WA0018

Batu | Serulingmedia. com – Kota Batu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil apel terbesar di Indonesia. Julukan “Kota Apel” sudah melekat erat dengan identitas daerah ini.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi apel mengalami penurunan yang signifikan, dengan banyak petani yang beralih ke komoditas lain seperti jeruk, kopi, dan alpukat.

” Karena selama ini buah Apel tidak banyak peminatnya dan sulit pasarnya sehingga para pedagang dan petani beralih ke tanaman yang bisa meningkatkan perekonomiannnya ” Ujar Ludi Tanarto SP wakil Ketua satu DPRD Batu di ruang Fraksi PKS, Rabu ( 19/3/2025 ).

Melihat fenomena ini, Ludi Tanarto memberikan dukungan penuh terhadap gagasan Walikota Batu untuk mempertahankan apel sebagai ikon Kota Batu.

” Kami sangat mendukung gagasan Walikota Batu dalam mempertahankan dan meningkatkan Apel sebagai Ikon kota wisata Batu karena ini sejarah ,” Ungkap Rudi disela- sela Rapat Paripurna DPRD, Rabu ( 19/3/2025 ).

Ia juga mengusulkan berbagai strategi agar apel kembali diminati oleh petani dan memiliki daya saing yang kuat di pasaran.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam mempertahankan apel sebagai komoditas unggulan adalah menurunnya minat pasar terhadap buah ini. Banyak petani dan pedagang yang beralih ke tanaman lain karena apel dinilai kurang menguntungkan.

Oleh karena itu, Ludi Tanarto menekankan pentingnya analisis mendalam terhadap penyebab turunnya permintaan apel serta mencari solusi untuk mengembalikan kejayaan apel Batu.

Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain menciptakan regulasi yang mendorong konsumsi apel di sektor pariwisata dan perhotelan. Misalnya, setiap pengunjung yang memasuki destinasi wisata di Kota Batu dapat diberikan buah apel sebagai bagian dari pengalaman wisata mereka.

Begitu pula dengan hotel-hotel yang bisa menyajikan apel sebagai “welcome fruit” bagi tamu yang menginap. Langkah ini tidak hanya meningkatkan permintaan apel, tetapi juga memperkuat branding Kota Batu sebagai “Kota Apel”.

” tehnis bisa dibicarakan bagaimana pengusaha tidak rugi, Selain itu, penghargaan kepada petani apel yang berprestasi juga dapat menjadi dorongan moral bagi mereka untuk terus membudidayakan apel ” Lanjutnya.

Disamping itu dilakukan kerja sama dengan daerah lain, seperti Bali yang sering menggunakan apel dalam upacara adat, juga dapat menjadi peluang ekspansi pasar.

” Diadakan gerakan menanam apel di halaman kantor pemerintah maupun swasta bisa menjadi upaya simbolis yang menunjukkan komitmen daerah dalam mempertahankan apel sebagai ikon kota ” Tambahnya.

Dari sisi insentif ekonomi, Pemkot Batu bisa memberikan keringanan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi petani apel agar mereka lebih termotivasi untuk tetap bertahan dalam usaha budidaya apel.

Selain itu, merancang “Hari Apel Kota Batu” yang dijadikan agenda tahunan dapat menjadi ajang promosi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya apel bagi Kota Batu.

” Langkah-langkah ini diharapkan dapat membuka kembali peluang pasar bagi apel dan meningkatkan gairah petani untuk menanamnya ” Papar Ludi.

Sebagaimana yang dikatakan Ludi Tanarto, petani di Kota Batu sudah sangat ahli dalam teknik budidaya apel, sehingga tantangan utama yang perlu diatasi adalah bagaimana menciptakan pasar yang stabil dan menguntungkan bagi mereka.

Dengan sinergi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta, bukan tidak mungkin apel dapat kembali berjaya sebagai ikon Kota Batu yang sesungguhnya.( Eno).