Alpukat Haz Batu Tembus Pasar Modern, Digadang Jadi Primadona Baru Pertanian Kota Batu

1464257_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Koperasi CooSAE berhasil membuka peluang baru bagi sektor pertanian di Kota Batu melalui pengembangan alpukat Haz yang kini mulai menembus pasar modern nasional.

 

Permintaan komoditas tersebut terus meningkat dari sejumlah jaringan retail besar seperti Lotte Jakarta, Superindo hingga Lai-Lai.

Keberhasilan tersebut dinilai menjadi sinyal munculnya komoditas baru yang berpotensi menggeser dominasi apel sebagai ikon pertanian Kota Batu yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan perkembangan.

Chief Executive Officer (CEO) CooSAE, Rakhmad Hardiyanto atau yang akrab disapa Hardi mengatakan, keberhasilan menembus pasar modern tidak lepas dari upaya koperasi dalam menjaga kualitas produk melalui sertifikasi GAP (Good Agricultural Practice).

 

“Alhamdulillah kami dibantu Dinas Pertanian Kota Batu. Sertifikasi GAP itu dikeluarkan provinsi dan saat ini sudah ada sekitar 12 komoditas yang tersertifikasi. Itu menjadi salah satu kelebihan produk kami sehingga bisa masuk retail modern,” ujar Hardi, Jum’at (22/5/2026).

Menurutnya, strategi tersebut dilakukan agar produk petani anggota CooSAE memiliki segmen pasar berbeda dan tidak berbenturan langsung dengan pasar tradisional lokal.

Ia menjelaskan, konsep yang dibangun tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga penguatan sistem pasca panen guna meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

“Ke depan kami ingin ada packing house untuk proses sortir, packing dan penanganan pasca panen yang lebih baik. Karena sekarang kami masih tahap awal,” katanya.

Hardi mengungkapkan, harga alpukat Haz di tingkat petani saat ini berkisar Rp26 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Harga tersebut dinilai cukup menjanjikan sehingga mendorong semangat petani untuk memperluas budidaya.

Bahkan, permintaan pasar dari Jakarta dan Bali disebut terus meningkat hingga mencapai puluhan ton. Namun kapasitas produksi petani di Kota Batu masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar.

“Ada permintaan sampai 20 ton, tapi kami belum sanggup memenuhi karena produksi masih terbatas dan tanaman masih dalam tahap panen awal,” ujarnya.

Ia menilai alpukat Haz yang dibudidayakan di Kota Batu memiliki kualitas unggul dibanding daerah lain. Selain ukuran buah lebih besar, warna kulit lebih menarik dan karakter rasa dinilai lebih baik.

Kondisi geografis Kota Batu disebut menjadi salah satu faktor utama keberhasilan budidaya alpukat Haz. Tanaman tersebut sangat cocok dikembangkan di wilayah dengan ketinggian antara 1.000 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl), sementara sebagian besar kawasan Kota Batu berada pada ketinggian ideal tersebut.

Sejumlah wilayah seperti Sumbergondo, Tulungrejo, Giripurno dan Bumiaji kini mulai berkembang menjadi sentra alpukat Haz di Kota Batu.

Saat ini jumlah petani anggota CooSAE yang mengembangkan alpukat Haz masih sekitar 15 hingga 16 orang. Meski demikian, masing-masing petani rata-rata telah memiliki 200 hingga 300 pohon alpukat Haz sehingga dinilai memiliki prospek produksi besar di masa mendatang.

Pengembangan alpukat Haz dinilai menjadi salah satu langkah diversifikasi pertanian Kota Batu di tengah tantangan yang dihadapi komoditas apel akibat perubahan iklim dan dinamika pasar.

Dengan dukungan pasar modern serta peningkatan kualitas budidaya, alpukat Haz kini mulai diproyeksikan sebagai komoditas unggulan baru yang mampu memperkuat ekonomi petani sekaligus menjaga identitas Kota Batu sebagai kawasan agropolitan di Jawa Timur. ( Eno).