Alika Naili Putri: Bintang Kecil dari Kolam yang Bersinar ke Langit
Batu | Serulingmedia. com – Siapa sangka, niat sederhana seorang nenek agar cucunya doyan makan justru menjadi pintu gerbang lahirnya seorang atlet muda berbakat dari Kota Batu.
Alika Naili Putri, anak dari Ibu Oktavia Agus Setiyarini , tumbuh di bawah asuhan penuh kasih sayang kakek dan neneknya, Bapak Nuryanto dan Ibu penjual bakso di Jalan Indragiri, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu.

Sejak kecil, Alika sudah akrab dengan kolam renang—bukan untuk mengejar prestasi, tetapi demi sehat dan nafsu makan yang baik.
Kakeknya, Nuryanto—seorang Kasatgas Linmas sekaligus pedagang material galvalum—adalah sosok penting di balik langkah awal Alika.
“Kami memasukkan ke klub renang Lotus agar dia mau makan yang banyak dan bisa gemuk,” kisahnya.
Dari niat yang polos itu, tanpa disadari, bakat Alika mulai menyembul ke permukaan.
Di usia 4,5 tahun, Alika sudah rutin berlatih sepulang sekolah madrasah ibtidaiyah Mihtakhul Ulum Batu.
Setiap sore, pukul 15.30 hingga 17.30 WIB, sang kakek mengantar Alika berlatih di kolam renang Orchid atau Arhanud Pendem. Dari situ, kemampuannya berkembang pesat.

Ia mulai ikut berbagai event renang di Batu dan Malang, di rumahnya di pajang puluhan kalung medali dan piagam penghargaan sebagai bukti prestasi bahkan menembus kejuaraan internasional di Bali tahun 2024 dan masuk enam besar.
Meski awalnya fokus di cabang renang, pelatih kemudian mengarahkan Alika ke nomor loncat indah.
“Kita coba alihkan karena dia cepat adaptasi dan nggak takut ketinggian,” ungkap Nuryanto.
Sejak Mei, Alika menjalani latihan intens seminggu empat sampai lima kali. Anak ini disiplin, tak banyak mengeluh, dan punya mental kuat—hal langka untuk anak seusianya.
Puncak prestasi itu datang di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur ke IX. Ketika pertandingan digelar, Alika tampil tenang. Ia melompat dengan ringan dan lincah, membelah udara sebelum tubuh mungilnya menukik tajam ke air tanpa beriak.
Skor muncul dengan nilai 5,22 di nomor tepian cukup untuk membawanya meraih medali emas. Tidak ada gemuruh sorakan, tapi sorot mata semua orang tahu: seorang bintang telah lahir dari Kota Batu.

Namun, prestasi emas itu seolah berlalu tanpa gema dari para pemangku kebijakan. Ketika ditanya, apakah ada kepala desa, camat, atau walikota yang datang ke rumah untuk sekadar memberi ucapan selamat, Nuryanto hanya tersenyum dan menggeleng. “Tidak ada,” jawabnya singkat.
Ia hanya menyebut Alika sempat menerima bonus mentas sebesar Rp7,5 juta—itu pun satu-satunya bentuk penghargaan yang ia terima sejauh ini.
Kisah Alika bukan hanya soal kemenangan di kolam, tetapi juga tentang potret talenta muda daerah yang kadang luput dari perhatian.
Dari kolam sederhana di Desa Sumberejo, Alika menunjukkan bahwa kerja keras, cinta keluarga, dan ketekunan bisa melahirkan prestasi gemilang.
Kota Batu seharusnya bangga dan mulai lebih peka. Sebab dari rumah sederhana di kaki Gunung Panderman, telah lahir bintang masa depan olahraga Indonesia—Alika Naili Putri, sang putri loncat indah dari Batu.( Buang Supeno).






