Batu Art Flower Carnival 2025, Pesta Budaya yang Menyuburkan Ekonomi UMKM dan Pedagang Kecil

Batu | Serulingmedia.com – Gelaran Batu Art Flower Carnival (BAFC) 2025 benar-benar menjadi magnet luar biasa bagi masyarakat.

Meskipun hanya berlangsung satu hari, suasana Kota Batu seolah berubah menjadi lautan manusia yang tumpah ruah di sepanjang ruas Jalan Panglima Sudirman.

Sejak pagi, warga dari berbagai penjuru telah memadati kanan dan kiri jalan, menanti parade bunga dan seni yang setiap tahun selalu menjadi kebanggaan kota wisata ini.

Karnaval yang dibuka langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, tahun ini mengusung tema “Pesona Harmoni Alam dan Budaya”.

Jalanan Kota Batu disulap menjadi panggung warna-warni, dipenuhi parade mobil hias berbunga, kostum megah bernuansa flora, serta aksi seni yang memukau dari para peserta.

Peserta BAFC 2025 tidak hanya berasal dari Kota Batu, tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Kota Semarang, Kota Pasuruan, Kota Malang, dan Kabupaten Sumenep.

Kehadiran mereka menjadikan ajang ini bukan sekadar festival lokal, tetapi panggung unjuk kreativitas lintas daerah yang memperkuat citra Kota Batu sebagai kota wisata berbasis budaya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Nurochman menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar hiburan semata, tetapi juga mesin penggerak ekonomi lokal yang berdampak luas.

“Acara ini memberikan manfaat nyata bagi warga Kota Batu, terutama para petani bunga dan UMKM yang berjualan di sepanjang jalur yang dilalui peserta,” ujarnya.

Ucapan tersebut terbukti di lapangan. Di balik kemeriahan parade yang penuh warna dan kreativitas itu, terselip cerita manis dari geliat ekonomi rakyat kecil. Para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga tukang parkir merasakan langsung berkah dari padatnya pengunjung.

Salah satunya Edy (30), pedagang bakso goreng yang mangkal di sekitar jalan Sudirman. Wajahnya berseri saat menceritakan keberuntungannya hari itu.

“Alhamdulillah, jualan saya habis. Dapat sekitar dua juta, biasanya cuma tiga ratus sampai empat ratus ribu. Kalau acara seperti ini ada tiap minggu, syukur banget,” ujarnya penuh semangat.

Dalam sehari, Edy mampu menjual habis 8 kilogram bakso goreng, sesuatu yang jarang terjadi di hari-hari biasa. Suasana ramai pengunjung dan tidak adanya pembatasan lokasi jualan menjadi peluang besar bagi pedagang kecil seperti dirinya.

Cerita serupa datang dari Samsi (25), penjual tas spunbond atau goodie bag bergambar yang bisa diwarnai oleh anak-anak. Selain memberi hiburan edukatif bagi anak, Samsi juga mendapat keuntungan yang tak sedikit.

“Lumayan, bisa dapat lima ratus ribu. Anak-anak senang mewarnai, orang tua juga ikut beli. Sayang, hujan turun agak cepat,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi suasana kondusif tanpa penertiban atau penggusuran petugas, sehingga para pedagang bisa berjualan dengan aman dan tertib.

Tak hanya pedagang makanan dan cenderamata, para juru parkir di sekitar lokasi pun ikut merasakan berkah. Ramainya kendaraan membuat pendapatan mereka meningkat drastis. Bahkan, beberapa menyebutkan hasil parkir pada hari itu bisa menyamai penghasilan seminggu.

Tercatat, di sepanjang area acara terdapat puluhan pedagang kaki lima dan pelaku UMKM yang membuka lapak dagangan. Jika rata-rata setiap pedagang memperoleh pendapatan antara Rp500 ribu hingga Rp2 juta, maka total perputaran uang dari sektor informal selama satu hari gelaran BAFC 2025 ini bisa mencapai lebih dari Rp50 juta. Angka tersebut menunjukkan betapa besar dampak ekonomi dari sebuah kegiatan budaya bagi masyarakat lokal.

Fenomena ini menegaskan bahwa Batu Art Flower Carnival bukan sekadar pesta budaya dan seni, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Antusiasme masyarakat yang tinggi mampu menciptakan efek domino yang menghidupkan denyut ekonomi warga kecil.

Peran Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata patut diapresiasi. Dukungan penuh terhadap penyelenggaraan BAFC 2025 menjadi bukti nyata bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kemeriahan acara, tetapi juga memperhatikan dampak ekonominya bagi masyarakat.

Dengan menata ruang publik tanpa membatasi aktivitas ekonomi rakyat kecil, Pemkot Batu berhasil menciptakan suasana kondusif bagi para pelaku UMKM dan pedagang informal. Mereka bisa berjualan dengan tenang tanpa rasa khawatir digusur, sementara pengunjung pun menikmati suasana festival dengan nyaman.

Langkah ini sejalan dengan visi Kota Batu sebagai kota wisata berbudaya yang menyejahterakan warganya.

BAFC bukan hanya ajang unjuk kreativitas dan kebanggaan daerah, melainkan juga sarana memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku ekonomi lokal.

Dengan keberhasilan ini, banyak pihak berharap agar acara serupa dapat digelar lebih sering—tidak hanya setahun sekali—agar denyut ekonomi rakyat kecil terus berputar, seiring semangat kreatif dan gotong royong yang menjadi identitas Kota Batu.( Eno).