Dari Kecil Menjadi Besar: Kisah Sukses Ibu Siti Mengembangkan Usaha Tas Plastik dari Dusun Rejoso Desa Junrejo Batu
Batu | serulingmedia.com – di sebuah dusun Rejoso desa Junrejo kecamatan Junrejo Kota Batu, hiduplah seorang wanita bernama Ibu Siti bersama keluarganya. Kehidupan sehari-hari mereka sederhana, namun penuh dengan semangat dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Ibu Siti, seorang ibu rumah tangga yang gigih, memulai perjalanan yang kelak akan menginspirasi banyak orang dengan mengembangkan usaha tas plastik.
Tekad Kuat Yang Menggerakkan
Ibu Siti tidak memiliki latar belakang bisnis. Bersama suaminya Rifa’i mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan sumber penghasilan tambahan menjadi sangat mendesak.
Dengan tekad kuat, Ibu Siti memutuskan untuk mencoba membuat dan menjual tas plastik. Ia memilih tas plastik karena bahan bakunya mudah didapat dan proses pembuatannya relatif sederhana. Berbekal keterampilan menjahit dan menganyam yang dimilikinya, Ibu Siti memulai usaha kecil ini dari rumahnya sendiri.
Berawal pada tahun 2001, Ibu Siti dengan dukungan suaminya, Rifa’i, mengawali usaha pembuatan tas kranjang plastik. Modal awal mereka adalah uang pinjaman senilai Rp. 500 ribu dari PT. Angkasa Pura Juanda Surabaya.
Dengan modal tersebut, mereka mulai memproduksi tas plastik secara sederhana, menghasilkan sekitar 100 hingga 200 tas dalam satu produksi.
“Dengan bekal modal ini, saya dan suami saya, Rifa’i, mengawali usaha pembuatan tas kranjang plastik. Mampu menghasilkan tas sebanyak 100 – 200 tas,” ungkap Ibu Siti mengawali ceritanya di Kiosnya, Selasa ( 18 /6/2024 ).

Kerja Keras tanpa kenal lelah
Pada awalnya, usaha Ibu Siti tidaklah mudah. Ia harus belajar dari awal, mencari tahu cara membuat tas yang kuat dan menarik. Ia bekerja siang malam, sering kali mengorbankan waktu tidurnya untuk menyelesaikan pesanan.
Dukungan dari suami dan anak-anaknya sangat penting dalam tahap ini. Mereka membantu Ibu Siti dalam berbagai hal, mulai dari membeli bahan baku, membantu menjahit, hingga mengemas tas-tas yang sudah jadi.
Dalam memasarkan produknya, Ibu Siti dan suaminya tidak segan-segan keluar masuk pasar, mulai dari Pasar Batu, Kota Malang, hingga ke daerah-daerah pinggiran.
Mereka secara gigih menawarkan tas kranjang plastik buatan mereka meskipun banyak masyarakat yang belum mengenal model tas tersebut.
“Pokoknya di mana ada pasar, kami tawarkan. Maklum, masyarakat banyak yang belum mengenal model tas kranjang plastik seperti ini. Alhamdulillah, ada saja yang membelinya,” lanjutnya.
Usaha keras mereka mulai membuahkan hasil. Pesanan semakin bertambah, dan produk mereka mulai dikenal di kalangan tetangga dan teman-teman. Lambat laun, tas plastik buatan Ibu Siti dikenal karena kualitas dan keunikan desainnya. Kerja keras Ibu Siti dan keluarganya menjadi kunci utama dalam mempertahankan dan mengembangkan usaha ini.
Keuletan dan kesabaran mereka dalam menjalankan usaha ini, ditambah dengan selalu berkreasi membuat model baru, mulai membuahkan hasil.
Ibu Siti mengakui bahwa dia belajar membuat tas plastik secara otodidak; dia yang merancang, dan suaminya yang memotong bahan.
“Kami selalu melihat perkembangan model tas yang kini sedang berkembang, kami contoh modelnya dan kami buat model tas plastiknya. Jadi produk kami selalu mengikuti perkembangan pasar,” tambahnya.
Kreativitas sebagai Kunci Sukses
Ibu Siti menyadari bahwa untuk bersaing dengan produk-produk lain di pasaran, ia harus mengembangkan kreativitas dalam desain tas plastiknya. Ia mulai bereksperimen dengan berbagai warna, pola, dan ukuran. Ibu Siti juga memperhatikan tren pasar dan permintaan konsumen. Dengan inovasi yang terus-menerus, tas plastik Ibu Siti menjadi semakin populer.
Ia tidak hanya membuat tas untuk keperluan sehari-hari, tetapi juga mulai memproduksi tas-tas dengan desain khusus untuk acara-acara tertentu, seperti pernikahan dan ulang tahun. Kreativitas Ibu Siti dalam menciptakan produk yang unik dan menarik membuat usahanya semakin berkembang pesat.
Perjalanan panjang selama 23 tahun dalam usaha produksi tas plastik akhirnya mulai membuahkan hasil yang lebih besar.
Kini, produk tas plastik buatan Ibu Siti sudah merambah pasar nasional. Setiap kali pengiriman, sebanyak 5.000 hingga 10.000 biji tas dikirim ke berbagai daerah seperti Kalimantan, Mataram, Tarakan, Jakarta, Surabaya, dan Malangraya.
Model tas yang diproduksi oleh UKM Ibu Siti sangat bervariasi model warna putih, pink dengan pernik bunga dengan harga yang terjangkau mulai dari Rp. 10 ribu hingga Rp. 35 ribu. Tas souvenir dijual seharga Rp. 35 ribu, sementara tas kranjang biasa seharga Rp. 15 ribu.
Dampak Positif bagi Keluarga dan Komunitas
Keberhasilan usaha tas plastik Ibu Siti tidak hanya membawa perubahan positif bagi keluarganya, tetapi juga bagi komunitas sekitarnya.
Hasil perjuangan mereka yang gigih kini mampu menyekolahkan anak kedua mereka di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sementara anak pertamanya membantu dalam pengembangan usaha.

Meskipun sudah berhasil mengembangkan usahanya, Ibu Siti mengakui bahwa selama ini usahanya belum pernah mendapat binaan dan bantuan modal kerja dari dinas terkait. Hanya mengandalkan pinjaman dari Bank Pemerintah saja.
“Semuanya berkat usaha modal sendiri, kami belum pernah ada binaan dan bantuan modal kerja dari dinas hanya menggantungkan pinjaman dari Bank Pemerintah saja ,” jelas Ibu Siti.
Dengan berkembangnya usaha ini, Ibu Siti mampu mempekerjakan beberapa tetangganya yang membutuhkan pekerjaan. Ini tidak hanya membantu mengurangi angka pengangguran di desanya, tetapi juga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.
Dalam proses produksi tas plastiknya, Ibu Siti memperkerjakan lebih dari 50 ibu-ibu tetangganya. Mereka mengambil bahan yang sudah dipotong, kemudian dianyam di rumah masing-masing. Setelah selesai, mereka menyetorkannya kembali kepada Ibu Siti. Sistem borongan per biji berkisar antara Rp. 3 ribu hingga Rp. 10 ribu tergantung modelnya.
“Mereka mengambil bahan yang sudah dipotong, kemudian dianyam di rumah masing-masing setelah selesai disetorkan ke kami. Sistem borongan per biji antara Rp. 3 ribu sampai Rp. 10 ribu tergantung modelnya,” papar Ibu Siti.
Selain itu, Ibu Siti aktif berbagi pengetahuan dan keterampilannya dengan ibu-ibu lain di desa melalui pelatihan-pelatihan sederhana. Ia mengajarkan mereka cara membuat tas plastik dan memulai usaha kecil sendiri. Dengan demikian, Ibu Siti berkontribusi dalam membangun semangat kewirausahaan di kalangan masyarakat desa Junrejo.
Cerita Ibu Siti dan keluarganya dalam mengembangkan usaha tas plastik menjadi bukti bahwa dengan tekad kuat, kerja keras, dan kreativitas, usaha kecil dapat berkembang dan memberikan dampak positif yang signifikan.
Usaha yang awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kini telah menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi banyak orang di komunitasnya.
Keberhasilan Ibu Siti mengajarkan kita bahwa dengan semangat pantang menyerah dan inovasi, impian sekecil apapun bisa menjadi kenyataan dan memberikan manfaat yang luas bagi lingkungan sekitar.( Buang Supeno ).






