Di Bumi Jayabaya, Pawon Gajah Purwo Menjaga Tradisi Berbagi Tetap Menyala

1568821_11zon

Kediri | Serulingmedia.com – Ribuan peziarah diperkirakan kembali memadati kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, dalam rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa 1 Suro 2026.

Mereka datang dari berbagai daerah dengan beragam tujuan; berdoa, berziarah, mengikuti ritual adat, hingga menepi sejenak untuk mencari keteduhan batin.

 

Di tengah sakralnya prosesi kirab dan doa-doa yang dipanjatkan, ada satu pemandangan yang tak pernah absen dan selalu menghadirkan kehangatan: kepulan asap dari Pawon Gajah Purwo Nusantara.

 

Dapur umum yang didirikan Yayasan Gajah Purwo Nusantara itu kembali membuka layanan makan gratis bagi para peziarah selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.

 

 

Bagi banyak orang, pawon tersebut bukan sekadar tempat menyediakan makanan, melainkan ruang persaudaraan yang menjamu siapa saja tanpa membedakan asal-usul dan latar belakang.

 

Ketua Yayasan Gajah Purwo Nusantara, Ahmad Thohir Setyawan, mengatakan tradisi berbagi ini telah menjadi bagian dari pengabdian yayasan dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

 

“Peziarah yang datang tidak perlu khawatir memikirkan kebutuhan makan. Kami siapkan makanan gratis selama kegiatan berlangsung. Siapa pun boleh datang ke Posko Pawon Gajah Purwo Nusantara untuk makan bersama,” ujarnya.

 

Bagi Ahmad Thohir, melayani para tamu yang hadir di Petilasan Sri Aji Jayabaya merupakan bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar menjaga nilai gotong royong yang telah diwariskan para leluhur.

Tahun ini, Pawon Gajah Purwo Nusantara menghadirkan sajian istimewa. Ahmad Thohir mendatangkan kambing kendit asal lereng Semeru untuk diolah dan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

 

Pilihan itu bukan sekadar menu makan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, kambing kendit kerap dimaknai sebagai simbol harapan akan keselamatan, keberkahan, dan keseimbangan hidup.

 

Di tangan para relawan, bahan-bahan makanan diolah sejak dini hari. Ada yang bertugas memasak, membungkus hidangan, menyiapkan peralatan makan, hingga menyambut para peziarah yang singgah ke posko.

 

Mereka bekerja tanpa pamrih, memastikan tak ada tamu yang pulang dalam keadaan lapar.

 

Suasana hangat begitu terasa. Para peziarah duduk berdampingan menikmati hidangan. Tak ada sekat antara warga setempat, tamu dari luar daerah, kaum berada maupun mereka yang sederhana. Semua dipersatukan oleh semangat kebersamaan.

 

Perayaan 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya sendiri merupakan tradisi tahunan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kediri.

 

Tahun ini, rangkaian kegiatan diawali dengan pagelaran Campursari dan Keroncong Mahkota Buana, dilanjutkan pencucian Batu Manik dan kenduri bersama di Pamuksan Sri Aji Jayabaya.

 

Perayaan 1 Suro sendiri merupakan tradisi tahunan untuk mengenang kebesaran Prabu Sri Aji Jayabaya sekaligus melestarikan adat dan budaya Kediri.

 

Rangkaian acara tahun ini diawali dengan pagelaran campursari dan keroncong, dilanjutkan pencucian Batu Manik, kenduri bersama, wayang kulit dengan lakon Sirnane Angkaramurka, hingga puncak kirab menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirta Kamandanu.

 

Pada puncaknya, Selasa Wage, 16 Juni 2026, digelar kirab dan upacara ritual dari Pendopo Balai Desa Menang menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirta Kamandanu. Prosesi tersebut dilengkapi pameran dan jamasan pusaka, Ruwatan Agung, serta pagelaran Jemblong Kang Santri.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro merupakan momentum untuk melakukan perenungan, introspeksi, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan serta sesama manusia.

 

Nilai-nilai itulah yang tampaknya diterjemahkan secara sederhana oleh Pawon Gajah Purwo Nusantara: menghadirkan manfaat bagi orang lain melalui sepiring makanan.

 

Di Bumi Jayabaya, warisan leluhur ternyata tidak hanya dijaga melalui kirab pusaka dan ritual adat. Warisan itu juga hidup dalam kepedulian, gotong royong, serta ketulusan tangan-tangan yang memilih melayani dalam sunyi.

Ketika ribuan orang datang mencari berkah di Petilasan Sri Aji Jayabaya, Pawon Gajah Purwo Nusantara mengajarkan bahwa berkah sejati bukan hanya tentang apa yang diterima, melainkan juga tentang apa yang dibagikan kepada sesama.

 

Sebab api yang menyala di pawon itu bukan sekadar untuk memasak makanan. Ia adalah nyala kasih, persaudaraan, dan tradisi berbagi yang terus dijaga agar tak pernah padam di Tanah Jayabaya. ( Eno).