Bersih Hati di Bumi Jayabaya: Putra Wayah Mataraman Merawat Tradisi, Menjaga Persaudaraan

1574194_11zon

Kediri | Serulingmedia.com – Ratusan warga dari berbagai daerah berkumpul di Desa Menang, Kabupaten Kediri, Senin (15/6/2026), untuk mengikuti prosesi jamasan atau penyucian Batu Manik Sang Prabu Sri Aji Jayabaya.

 

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, tradisi tersebut menghadirkan pesan sederhana tetapi mendalam: persaudaraan harus terus dirawat, sebagaimana hati yang senantiasa dibersihkan.

Prosesi yang berlangsung di kawasan Pamuksan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya itu tidak hanya menjadi ritual penyucian benda pusaka.

 

Masyarakat menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan refleksi diri, memperkuat ikatan sosial, sekaligus meneguhkan identitas budaya yang diwariskan leluhur.

 

Hartono, pengelola Desa Wisata Menang, menjelaskan bahwa Batu Manik merupakan simbol kebijaksanaan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya dalam membaca tanda-tanda zaman.

“Penyucian ini bukan sekadar membersihkan pusaka. Yang lebih penting adalah membersihkan hati dan pikiran kita. Batu Manik menggambarkan kebijaksanaan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya dalam menjelangkan berbagai peristiwa kehidupan,” ujar Hartono.

 

Prosesi penyucian berlangsung hingga menjelang siang dan dilanjutkan kembali pada sore hari.

Sementara itu, kirab 1 Suro dijadwalkan dimulai dari halaman Balai Desa Menang menuju Pamuksan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya, kemudian berlanjut ke Sendang Tirta Kamandanu.

 

Di balik kekhidmatan acara, tampak semangat gotong royong yang begitu kuat.
Makruf atau Tosok dari Gajah Purwo Nusantara membagi peserta penyucian ke dalam tiga kelompok berdasarkan tiga Batu Manik, yakni Loka Muksa, Loka Busana, dan Loka Mahkota, untuk memperkuat kebersamaan keluarga besar Mataraman.

Kelompok tersebut terdiri atas keluarga Mbah Rofii, Mbah Manadi, Mbu Sumina, Mbah Sodhik, Pak Wito, keluarga Banyuwangi, Jambean, Tajinan, Gus Khoiri atau Wong Bodho, Mbah Ji, hingga Mbah Khusen.

 

Bagi Tosok, warisan leluhur akan tetap hidup apabila dijaga bersama dengan semangat kerukunan.

 

“Tradisi ini mengajarkan bahwa kita semua saudara. Jangan merasa paling benar atau paling penting. Yang tua mengayomi yang muda, yang muda menghormati yang tua. Kalau hati bersih, persaudaraan akan tetap kuat,” katanya.

Ia menambahkan, kebersamaan yang terbangun dalam prosesi jamasan merupakan kekayaan yang tidak ternilai.

 

“Warisan leluhur bukan untuk diperebutkan, melainkan dirawat bersama. Kita boleh berbeda, tetapi jangan sampai kehilangan rasa guyub dan saling peduli,” ujar Tosok.

 

Prosesi diawali dengan doa pembuka di Loka Pamuksan yang dipimpin juru kunci Mbah Sunarto atau Mbah Gabin, didampingi Mbah Khusen, Mbak Mukri, serta Mbah Semiaji.

 

Setelah penyucian perdana dilakukan, keluarga besar Mataraman melanjutkan jamasan secara bergantian dengan penuh kekhusyukan.

 

Kepala Desa Menang, Indrawati, mengapresiasi keterlibatan Putra Wayah Mataraman yang turut menjaga kebersihan dan kelancaran pelaksanaan tradisi tersebut.

“Atas nama pribadi, keluarga, pemerintah desa, juga kabupaten, kami sangat berterima kasih. Sebelum acara dibersihkan, setelah acara juga dibersihkan. Kehadiran teman-teman ini sangat membantu desa. Monggo, semoga tradisi ini terus dilanjutkan setiap tahun,” tutur Indrawati.

Tradisi jamasan Batu Manik akhirnya tidak hanya menghadirkan romantisme masa lalu. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak boleh memutus manusia dari akar budayanya.

Dari Desa Menang, masyarakat belajar bahwa masa depan yang baik tidak semata dibangun oleh kecanggihan dan kecepatan. Masa depan juga ditopang oleh hati yang bersih, tangan yang ringan membantu sesama, serta persaudaraan yang terus dijaga lintas generasi.

Sebab, seperti pesan yang diwariskan dari Bumi Jayabaya, manusia akan tetap kuat bukan karena mampu berjalan sendiri, melainkan karena memilih berjalan bersama. ( Eno).