Dari Ampel untuk Abadi: Puisi Para Alumni STIKOSA-AWS Menyatukan Kenangan, Menyapa Masa Depan

PUISI1_11zon

Surabaya | Serulingmedia.com – Suasana hangat penuh rasa haru menyelimuti Delima Restaurant, Quds Royal Hotel kawasan Ampel Surabaya, Rabu (15/4/2026), saat peluncuran buku antologi puisi dan catatan alumni STIKOSA-AWS lintas angkatan bertajuk “Kawah Pena Hebat (KPH)” digelar. Perhelatan ini tak sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang temu kenangan, karya, dan jiwa yang tak pernah padam oleh waktu.

Acara yang berlangsung semarak dan khidmat ini bertepatan dengan Festival Pecel Pincuk Surabaya, menghadirkan nuansa budaya yang kental. Para alumni dari berbagai generasi hadir, membawa cerita panjang perjalanan hidup yang kini terangkai dalam untaian puisi dan catatan reflektif.

Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Surabaya, Imawan Mashuri, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas terbitnya buku tersebut. Ia mengajak seluruh alumni untuk terus menjaga semangat berkarya.

“Selama kita masih diberi umur panjang oleh Sang Khalik, mari teruskan aktivitas positif ini. Karya seperti buku puisi KPH adalah jejak yang tak akan hilang,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kepekaan sosial, tanggung jawab, dan kejujuran sebagai jurnalis maupun insan intelektual. Menurutnya, pertemuan lintas angkatan ini menjadi bukti kuat bahwa ikatan terhadap almamater tak pernah benar-benar usai.

Senada dengan itu, dosen senior STIKOSA-AWS, Zainal Arifin Emka, menyebut karya yang dibukukan sebagai warisan berharga. Ia menilai, perpaduan puisi dan esai populer dalam buku ini adalah bentuk aktualisasi diri yang tak ternilai.

“Karya ini bukan hanya monumental, tapi juga akan dikenang oleh anak cucu kita,” tuturnya, mengenang perjalanan panjangnya dari dunia jurnalistik hingga akademik.

Sementara itu, Siti Andarini, yang kini telah berusia sekitar 83 tahun, turut berbagi kenangan mengajar di kampus AWS Kapasari. Ia mengingat betul semangat para mahasiswa yang sebagian besar sudah bekerja namun tetap disiplin dalam belajar.

“Meski lelah setelah bekerja, mereka tetap fokus. Nilai-nilai mereka bagus, dan kini terbukti banyak yang menjadi orang hebat,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Buku setebal 245 halaman ini digagas oleh Kris Mariyono bersama para alumni lintas angkatan, dari era 1970-an hingga 1980-an. Nama-nama seperti Amang Mawardi, Mushadi, Karsono, Riamah Daulat, hingga generasi berikutnya seperti Dony, Nur Hidayah, dan lainnya menjadi bagian dari mozaik karya yang memperkaya isi buku.

General Manager Quds Royal Hotel, Pungki Kusuma, turut memberikan apresiasi atas inisiatif para alumni. Ia menilai semangat berkarya di usia senja adalah sesuatu yang luar biasa.

“Ini layak diacungi jempol. Semangat mereka menunjukkan bahwa usia bukan batas untuk terus berkarya,” katanya singkat namun penuh makna.

Peluncuran buku semakin hidup dengan alunan musik Kroncong Guyub Rukun bersama Arul, serta penampilan dalang cilik Jalu Wiwoho yang membawakan lakon “Dalang Hoax”. Seni, sastra, dan kebersamaan menyatu dalam satu panggung yang menghangatkan hati.

Di tengah hiruk pikuk kota Surabaya, dari kawasan Ampel yang sarat sejarah, para alumni STIKOSA-AWS membuktikan satu hal: bahwa kata-kata, ketika dirawat dengan cinta, akan selalu menemukan jalannya untuk hidup lebih lama dari usia manusia itu sendiri. ( Eno)