Puasa di Tengah Gejolak Ekonomi, Refleksi Kesabaran Spiritual dan Tantangan Daya Beli
Makassar | Serulingmedia.com – Bulan Ramadan selalu disambut umat Islam dengan penuh kegembiraan sebagai momentum meningkatkan kualitas spiritualitas.
Namun di tengah dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, ibadah puasa juga menjadi refleksi kesabaran dalam menghadapi tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia (FEB UMI), Mahfud Nurnajamuddin, menilai bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga waktu refleksi diri untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir Ramadan hadir bersamaan dengan tantangan ekonomi yang dirasakan masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, fluktuasi harga pangan, serta menurunnya daya beli.
“Bagi sebagian masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, meningkatnya harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan sering menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Kebutuhan sahur, berbuka puasa hingga persiapan Idulfitri menyebabkan pengeluaran rumah tangga meningkat,” ujarnya.
Situasi tersebut menjadi semakin berat ketika pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan harga barang.
Banyak keluarga akhirnya harus melakukan penyesuaian dalam mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Dalam pandangannya, di tengah kondisi seperti ini nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa menjadi sangat relevan. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta memperkuat ketahanan batin manusia.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa tujuan diwajibkannya puasa adalah untuk membentuk ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.
“Ketakwaan itu mendorong manusia bersikap bijaksana, sabar, dan mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk ketika menghadapi tekanan ekonomi,” jelasnya.
Selain memiliki dimensi spiritual, puasa juga mengandung makna sosial yang penting. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari, ia diharapkan mampu memahami kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dengan demikian, puasa menjadi sarana pendidikan moral yang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
Namun Mahfud juga menyoroti adanya paradoks yang sering muncul setiap Ramadan. Di satu sisi Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri, tetapi di sisi lain konsumsi masyarakat justru cenderung meningkat.
Berbagai hidangan berbuka disajikan secara berlebihan, aktivitas belanja meningkat, dan promosi produk konsumsi semakin marak. Fenomena ini sering mendorong masyarakat membeli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.
Padahal Islam secara tegas mengingatkan agar umatnya tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-A’raf ayat 31 yang menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan dalam pola konsumsi.
“Prinsip kesederhanaan sangat relevan dalam menghadapi tekanan ekonomi saat ini. Dengan mengelola konsumsi secara bijak, masyarakat dapat menjaga stabilitas pengeluaran tanpa mengurangi makna spiritual Ramadan,” katanya.
Lebih jauh, Ramadan juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Tradisi berbagi ini menjadi mekanisme penting untuk membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi.
Mahfud menambahkan bahwa nilai kedermawanan yang dicontohkan Rasulullah SAW pada bulan Ramadan seharusnya menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk saling membantu dan memperkuat kepedulian sosial.
“Ramadan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah individual, tetapi juga sebagai momentum memperkuat kesadaran sosial dan ekonomi. Kesejahteraan tidak selalu diukur dari banyaknya konsumsi, tetapi dari kemampuan hidup sederhana, bersabar, dan berbagi dengan sesama,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan, nilai-nilai spiritual seperti kesabaran, pengendalian diri, kesederhanaan, serta solidaritas sosial menjadi fondasi penting bagi masyarakat.
“Puasa pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membangun ketahanan moral dan sosial di tengah dinamika kehidupan,” pungkasnya. (Yah/Eno).






