Desa Giripurno Optimalkan Ketahanan Pangan, Program Ayam Petelur Masih Menunggu Baterai
Batu | Serulingmedia.com – Desa Giripurno di Kecamatan Bumiaji, Batu terus mengoptimalkan program ketahanan pangan untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan warganya.
Salah satu program unggulan, pengembangan ayam petelur yang dikelola oleh BUMDes, saat ini masih terkendala pengadaan baterai ayam sehingga belum bisa dijalankan sepenuhnya meski kandang sudah siap.
Kepala Desa Giripurno, Suntoro, menegaskan bahwa program ketahanan pangan sangat penting bagi desa.
“Tujuan utama kami adalah memastikan warga Desa Giripurno dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Dengan begitu, kita tidak terlalu bergantung pada pasokan luar dan lebih siap menghadapi krisis,” ujarnya, Kamis ( 19/2/2026 ).
Ia menambahkan, “Selain kemandirian pangan, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga, meningkatkan pendapatan, dan memberi akses pangan yang lebih sehat dan bergizi.”
Program ayam petelur menargetkan pengembangan hingga 2.500 ekor ayam. Hingga 2025, satu kandang berkapasitas 1.200 ekor telah selesai dibangun, dan dua unit kandang ukuran 8 x 24 meter telah disiapkan.
Namun, pengadaan baterai ayam masih dalam status inden akibat tingginya permintaan.
“Banyaknya pesanan membuat kami harus antre. Jadi sekarang tinggal menunggu,” kata Suntoro.
Ayam petelur rencananya akan didatangkan dari wilayah Malang Raya dan dijadwalkan masuk kandang setelah Lebaran 2026, dengan target 1.300 ekor mulai berproduksi tahun ini.
Selain peternakan, Desa Giripurno juga mengembangkan pertanian sebagai penopang ketahanan pangan.
Jagung hibrida ditanam di lahan seperempat hektare. Dari lahan tersebut, panen perdana mencapai 3,5 ton glondong basah, meski setelah pengeringan menyusut sekitar 60 persen.
Awalnya jagung akan digunakan sebagai pakan ayam, tetapi karena ayam belum tersedia, hasil panen sementara dipasarkan ke peternak.
Pemerintah desa berencana menjalin kerja sama dengan Dinas Pertanian pada 2026 untuk penyerapan hasil panen.
Program lainnya adalah pengembangan jeruk siam madu dan keprok Punten 55 di lahan seluas satu hektare. Dari lahan tersebut, panen perdana telah disetorkan ke desa senilai Rp25 juta.
Penanaman dimulai sejak 2023 dengan total 3.100 bibit, dan dua lokasi lainnya dengan 1.200 bibit diperkirakan akan mulai panen tahun ini.
Suntoro menekankan bahwa seluruh program ketahanan pangan dirancang agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Dengan adanya ayam petelur, warga bisa mendapatkan telur dengan harga lebih terjangkau karena rantai distribusi lebih pendek. Kami ingin setiap warga merasakan manfaat langsung dari program ini,” ujarnya.
Selain itu, hasil produksi desa juga dipersiapkan untuk memasok jaringan Koperasi Merah Putih.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang kemandirian ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan warga. Meski ada kendala, kami tetap optimistis program ini akan berjalan sesuai rencana,” pungkas Kades Suntoro.( Eno).






