Disdik Jatim Bentuk Satgas Sekolah Anti Kekerasan, Wujudkan SMK Aman, Ramah, dan Bermartabat

WhatsApp-Image-2025-11-06-at-17.46.02_1cbe3ba7

Batu | Serulingmedia.com — Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur membentuk Satgas Sekolah Anti Kekerasan yang melibatkan guru, siswa, dan konselor sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan.

Langkah Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur guna memperkuat komitmennya dalam menciptakan sekolah yang aman, ramah, dan berkarakter.

Secara konkret diwujudkan melalui pembentukan Satgas Sekolah Anti Kekerasan yang terdiri dari guru, siswa, dan konselor sekolah.

Komitmen itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Dr. Aries Agung Paewai, dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Anti Kekerasan di Sekolah SMK yang berlangsung di Hotel Batu Suki, Kota Batu, pada 5–7 November 2025.

Kegiatan tersebut diikuti para guru, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, serta pengurus OSIS dari SMK Negeri yang mewakili 24 Cabang Dinas Pendidikan se-Jawa Timur.

Selain itu, hadir pula para Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan dari berbagai daerah untuk memperkuat koordinasi dan implementasi kebijakan anti kekerasan di lingkungan sekolah kejuruan.

Dr. Aries Agung Paewai menegaskan bahwa pembentukan Satgas Sekolah Anti Kekerasan merupakan bagian dari strategi besar pencegahan dan penanganan kekerasan di dunia pendidikan.

“Kita ingin setiap sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, sekolah hebat bukan diukur dari banyaknya piala yang diraih, melainkan dari rasa aman dan kebahagiaan siswa dalam belajar.
“Sekolah yang hebat bukan diukur dari banyaknya piala, tapi dari seberapa aman dan bahagianya siswa belajar di dalamnya,” ujar Aries.

Program ini dijalankan melalui tiga tahapan utama. Pertama, Pencegahan (Pra Kejadian), yaitu dengan menguatkan pendidikan karakter dan membangun budaya sekolah yang positif.

Melalui pembentukan Satgas Sekolah Anti Kekerasan, guru, siswa, dan konselor didorong untuk aktif mengidentifikasi potensi masalah sejak dini.

Kedua, Penanganan Sekunder (Saat Terjadi), dilakukan dengan memberikan respon cepat terhadap insiden kekerasan melalui pendekatan restoratif tanpa kekerasan balasan.

Dalam tahap ini, pelaku dan korban akan dipisahkan sementara untuk mencegah trauma lebih lanjut, disertai pendampingan intensif dari guru BK serta koordinasi dengan psikolog, Dinas Sosial, dan kepolisian.

Ketiga, Rehabilitasi (Pasca Kejadian), berupa pendampingan psikologis bagi korban, pembinaan karakter bagi pelaku, serta evaluasi sistem sekolah agar kasus serupa tidak terulang.

Selain strategi teknis, Disdik Jatim juga menggerakkan budaya positif di sekolah melalui gerakan 3S: Senyum, Sapa, Salam.

Gerakan sederhana ini dinilai berdampak besar dalam menciptakan atmosfer ramah dan menyenangkan di lingkungan pendidikan.

Aries juga mendorong sekolah untuk menjadikan kegiatan rutin seperti upacara dan apel pagi sebagai sarana pembiasaan nilai empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

“OSIS, Pramuka, dan kegiatan ekstrakurikuler harus dilibatkan aktif dalam kampanye anti-bullying,” ujarnya.

Dengan semangat tersebut, Disdik Jatim meluncurkan slogan “SMK Aman, Ramah, dan Bermartabat” sebagai simbol komitmen menciptakan ruang belajar yang menghargai setiap individu.

Program Sekolah Aman dan Ramah ini menjadi bagian dari langkah besar Disdik Jatim dalam membangun ekosistem pendidikan berkarakter dan inovatif.

Sejumlah program lain juga tengah dijalankan, seperti Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) dan East Java Innovation Education Summit (EJIES), untuk memperkuat misi Jatim Cerdas.

“Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter dan budaya damai. Dari sekolah yang aman dan bahagia, akan lahir generasi cerdas yang berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Dr. Aries Agung Paewai.( Eno).