UMI Satukan Akademisi 7 Negara, Dorong Riset Berkelanjutan Berbasis Inovasi dan Nilai Islam
Makassar, Serulingmedia.com – Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar International Conference on Sustainable Development and Its Impact in ASEAN and Global Context di Auditorium Al Jibra Kampus UMI, Senin (8/6/2026).
Forum internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari tujuh negara untuk membahas strategi pembangunan berkelanjutan yang relevan bagi kawasan ASEAN dan dunia.
Konferensi tersebut dihadiri peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, India, Belanda, dan Spanyol.
Selain menjadi ruang pertukaran gagasan dan hasil riset, kegiatan ini juga diarahkan untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, transisi energi, hingga dinamika ekonomi dan geopolitik.
Direktur Pascasarjana UMI, Prof. Dr. H. La Ode Husen, menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan dalam perspektif Islam merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifatullah fil ardh yang bertugas menjaga, merawat, dan memakmurkan bumi.
“Dalam Islam, pembangunan berkelanjutan bukan sekadar konsep modern, tetapi merupakan perwujudan tanggung jawab manusia sebagai pemimpin di muka bumi,” ujarnya saat membuka konferensi.
Menurut Prof. La Ode Husen, keberlanjutan tidak dapat diwujudkan hanya melalui pendekatan ilmiah semata.
Dibutuhkan sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, serta nilai-nilai agama dan moral agar solusi yang dihasilkan mampu menjawab persoalan global secara komprehensif.
Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dan riset dalam menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang.
Ia menyebut perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat solusi, bukan hanya lembaga penghasil lulusan.
“UMI tidak ingin hanya menjadi penghasil ijazah. UMI ingin menjadi penghasil solusi,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan inovasi, UMI saat ini telah mencatatkan 511 hak cipta terdaftar dan dua merek terdaftar.
Menurut Prof. Hambali, hasil penelitian harus mampu dihilirisasi menjadi teknologi tepat guna, produk industri, perusahaan rintisan berbasis inovasi kampus, hingga solusi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia juga menilai kawasan Indonesia Timur memiliki potensi besar sebagai laboratorium masa depan Indonesia karena didukung kekayaan biodiversitas, sumber daya kelautan, energi hijau, mineral strategis, dan ekonomi maritim yang dapat menjadi basis pengembangan riset berdaya saing global.
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Masrurah Mokhtar, mengatakan konferensi ini merupakan ikhtiar intelektual untuk mempertemukan gagasan dan pengalaman dari berbagai negara dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Ia berharap forum tersebut menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi pemerintah, industri, dan masyarakat ASEAN.
Sementara itu, dalam sesi utama konferensi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, menegaskan pentingnya riset berbasis data dan bukti ilmiah untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Ia memaparkan sejumlah inovasi yang dikembangkan BRIN, di antaranya varietas tanaman tahan salinitas untuk menghadapi dampak perubahan iklim, teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar melalui metode fast pyrolysis, serta pemanfaatan teknologi nuklir untuk sektor kesehatan, pangan, dan iradiasi produk ekspor.
Menurutnya, berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan berkelanjutan yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi guna menjawab tantangan masa depan secara nyata.( Yah/Eno).






