UIN Malang di Mata Prof. Muhajir Effendy — Kampus Muda yang Melaju di Jalur Tepat

Halal bi Halal_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Dalam kunjungannya ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (31/3/2026), Staf Ahli Presiden Prof. Dr. Muhajir Effendy, MAP, memberikan pandangan mendalam tentang posisi, arah, dan masa depan perguruan tinggi Islam negeri tersebut.

Sebagai akademisi sekaligus tokoh nasional yang lama berkecimpung dalam dunia pendidikan, pernyataannya menjadi refleksi penting atas perjalanan UIN Malang selama ini.

Prof. Muhajir menegaskan bahwa secara umum, UIN kini telah setara dengan perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa kualitas lulusan dan kiprah alumni menjadi bukti konkret bahwa kampus Islam negeri bukan lagi institusi pinggiran dalam ekosistem pendidikan nasional.

“Buktinya, di Jakarta banyak sekali alumni UIN yang justru leading di beberapa sektor,” ungkapnya.

Ia mencontohkan dunia lembaga survei politik yang saat ini banyak digerakkan oleh alumni UIN. Bahkan, banyak narasumber ekonomi yang berasal dari kampus-kampus UIN, menandai semakin kuatnya kontribusi akademik dan profesional lulusan-lulusan tersebut di tingkat nasional.

Namun, Prof. Muhajir juga menempatkan UIN Malang dalam konteks realitas pertumbuhannya. Menurutnya, untuk ukuran usia, UIN masih tergolong “jabang bayi”. Dibandingkan perguruan tinggi besar yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun, UIN berada pada fase pertumbuhan awal. Meski begitu, ia meyakini bahwa arah pengembangannya sudah berada pada jalur yang tepat. “Saya kira untuk ke depan sudah on the right track,” tuturnya.

Misi Besar: Menyatukan Ilmu Umum dan Ilmu Agama

 

Lebih jauh, Prof. Muhajir menjelaskan visi fundamental yang sejak awal menjadi landasan kelahiran perguruan tinggi Islam: mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama. Gagasan ini merupakan cita-cita founding fathers pendidikan Islam modern di Indonesia.

Tokoh-tokoh seperti Kiai Wakil Rasim, Tubagus Haji Kusmo, Muhammad Rum, Hasman Sumadimejo, hingga Mohammad Natsir telah memikirkan bagaimana perguruan tinggi Islam tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan modern yang kuat.

“Misi utamanya adalah menyeimbangkan antara ilmu umum dan ilmu agama. Itu adalah gagasan para pendiri sejak awal,” jelas Prof. Muhajir.

Konsep keseimbangan ini bukan sekadar menyandingkan dua disiplin, tetapi membangun harmoni antara fondasi moral—spiritual—mental dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menekankan bahwa seorang ilmuwan, pakar, atau expert, tidak hanya harus cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat dan keyakinan yang kokoh.

“Seorang ekspertis juga harus punya fondasi moral yang baik. Itu cita-cita utama perguruan tinggi Islam,” tegasnya.

Pernyataan Prof. Muhajir menjadi cermin bahwa UIN Malang berada pada fase pembangunan yang strategis. Meski masih berusia muda, kampus ini telah menunjukkan pengaruh signifikan melalui alumninya dan terus melangkah dengan visi besar para pendahulunya.

Dengan arah yang jelas serta integrasi keilmuan yang menjadi ciri khas, UIN Malang diharapkan tumbuh menjadi perguruan tinggi yang bukan hanya mencetak ilmuwan hebat, tetapi juga insan berkarakter—mengabdi untuk kemajuan bangsa dan peradaban.

Sebuah harapan yang sejalan dengan pesan Prof. Muhajir: ilmu dan moral harus berjalan seiring, dan UIN Malang telah menapaki jalan itu dengan penuh komitmen. ( Eno)