Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting, Ini Tips Puasa Sehat Menurut Ahli Gizi UNAIR

1100923_11zon

Surabaya | Serulingmedia.com – Puasa Ramadan dan intermittent fasting, ini tips puasa sehat menurut ahli gizi UNAIR. Meski memiliki tujuan yang berbeda, keduanya sama-sama mengatur waktu berpotensi memberi manfaat kesehatan apabila diterapkan dengan pola gizi yang tepat dan seimbang.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara puasa Ramadan dan intermittent fasting terletak pada tujuan pelaksanaannya. Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib umat Muslim, sementara intermittent fasting umumnya dijalankan untuk tujuan kesehatan, seperti pengendalian berat badan dan perbaikan metabolisme.

“Walaupun tujuannya berbeda, keduanya menerapkan konsep time-restricted eating atau pengaturan jendela makan. Jika dijalani dengan benar, keduanya bisa berdampak positif bagi kesehatan,” ujarnya, Selasa ( 3/3/2026).

Ia menjelaskan, durasi puasa Ramadan di Indonesia rata-rata berlangsung 13–14 jam, sejak sahur hingga berbuka, tanpa asupan makanan dan minuman.

 

Sementara itu, intermittent fasting memiliki beberapa variasi pola, salah satunya metode 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan delapan jam waktu makan.

 

Pada pola ini, masih diperbolehkan konsumsi minuman non-kalori seperti air putih atau kopi tanpa gula.

Dari perspektif ilmu gizi, Mahmud menekankan pentingnya memahami ritme biologis tubuh dan kebutuhan energi harian. Tubuh memerlukan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan, serta memiliki mekanisme penyimpanan energi dalam bentuk glikogen yang akan digunakan saat asupan makanan berkurang.

“Puasa dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan pengendalian gula darah. Namun, kebutuhan energi minimal tubuh atau basal metabolic rate tetap harus terpenuhi agar fungsi organ vital berjalan optimal,” jelasnya.

Ia mengingatkan, asupan kalori yang terlalu rendah dalam jangka panjang dapat memicu defisit energi. Kondisi ini berisiko menyebabkan tubuh menggunakan protein otot sebagai sumber energi, sehingga berdampak pada penurunan massa otot.

Untuk menjalani puasa Ramadan secara sehat, Mahmud menyarankan pola makan seimbang dengan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan selingan sehat bila diperlukan.

 

Pemenuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus diperhatikan dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

“Konsumsi sayur dan buah tinggi serat penting untuk membantu rasa kenyang lebih lama dan menjaga kestabilan energi. Makanan berkuah juga bisa menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan,” tambahnya.

Ia menegaskan, puasa Ramadan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga dapat menjadi momentum memperbaiki pola hidup dan kebiasaan makan.

 

“Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh, sehingga puasa tetap aman, nyaman, dan menyehatkan,” pungkasnya. (Dini/Eno)