Takjub di Negeri Sakura, Mahasiswa KKM UIN Malang Temukan Kehangatan Islam Multinasional di Satu-satunya Masjid Kanazawa
Kanazawa, Jepang | Serulingmedia.com — Di tengah kota Kanazawa yang dikenal modern, tertib, dan didominasi budaya non-Muslim, sekelompok mahasiswa Indonesia menemukan kehangatan spiritual yang tak terduga. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang tergabung dalam Tim Kirana Nagisa takjub saat menyaksikan denyut kehidupan Islam multinasional di Masjid Umar bin Al-Khattab Kanazawa, satu-satunya masjid di Kota Kanazawa, Minggu ( 1/2/2026).
Kunjungan edukatif ini menjadi pengalaman yang membekas bagi para mahasiswa. Bagi mereka, masjid tersebut bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang hidup yang mempersatukan umat Muslim dari berbagai bangsa di tengah realitas sebagai kelompok minoritas di Jepang.
Masjid Umar bin Al-Khattab Kanazawa berdiri sebagai pusat aktivitas Muslim di Prefektur Ishikawa.
Jamaahnya datang dari beragam latar belakang negara, dengan mayoritas berasal dari Indonesia, disusul Muslim dari Asia Selatan, Timur Tengah, hingga kawasan lainnya.
Sementara Muslim asli Jepang masih tergolong minoritas, peran mereka tetap penting dalam menjaga keberlangsungan dan dinamika komunitas masjid.
Masjid ini dikelola oleh Ishikawa Muslim Society (IMS), komunitas Muslim multinasional yang beranggotakan warga dari Pakistan, Mesir, Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Jepang, dan negara lainnya.
Pengelolaan masjid dilakukan secara disiplin dan transparan, dengan aturan resmi yang dipublikasikan melalui laman masjid.
Ketertiban ini diterapkan demi menjaga kenyamanan jamaah sekaligus keharmonisan dengan warga sekitar yang mayoritas non-Muslim.
Karena dikelola secara swadaya, setiap anggota IMS diharapkan memberikan sedekah rutin bulanan untuk menopang operasional dan perawatan masjid. Bahkan, penggunaan masjid dan lingkungan sekitarnya telah diatur melalui nota kesepahaman dengan warga sekitar, sebagai wujud komitmen menjaga hubungan sosial yang harmonis di tengah perbedaan keyakinan.
Selama kunjungan, mahasiswa mendapat pemaparan tentang sejarah pendirian masjid, peran strategisnya bagi Muslim minoritas, serta sistem pengelolaan kolektif yang penuh kehati-hatian.
Kegiatan ini didampingi oleh Ustadz Ilyas Maulana, pendakwah asal Purworejo dan alumni Darul Uloom Zakariyya Afrika Selatan, serta Miss Hikmah, warga Indonesia yang menetap di Jepang dan terlibat langsung dalam pembangunan masjid.
Namun, momen paling menyentuh terjadi saat mahasiswa menyimak lantunan ayat suci Al-Qur’an dari anak-anak yang tengah menjaga hafalan mereka.
Di ruangan sederhana masjid itu, suara merdu Muhammad Durveisy, Muhammad Umar Hanan, dan Muhammad Ammar Abdillah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh semangat—sebuah pemandangan yang mencengangkan di negeri minoritas Muslim.
“Kami benar-benar tidak menyangka. Di tengah kota Jepang yang modern dan tertib, ada anak-anak Muslim yang dengan penuh kesungguhan menghafal Al-Qur’an. Pengalaman ini sangat baru, mencengangkan, dan menyentuh hati kami,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM Internasional 2026 Tim Kirana Nagisa.
Dari sisi aktivitas ibadah, masjid ini juga menunjukkan geliat yang cukup signifikan. Pada pelaksanaan salat Jumat, jumlah jamaah bisa mencapai lebih dari 100 orang, sebagian besar berasal dari komunitas Muslim internasional.
Sementara pada salat wajib harian, jumlah jamaah menyesuaikan dengan aktivitas masing-masing, umumnya di bawah 100 orang.
Keberagaman latar belakang jamaah justru menghadirkan wajah Islam yang inklusif dan penuh solidaritas.
“Kami belajar bahwa menjadi Muslim minoritas justru melahirkan ikatan persaudaraan yang kuat. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga titik temu berbagai bangsa dengan satu nilai yang sama,” ungkap perwakilan mahasiswa lainnya.
Melalui kunjungan ke Masjid Umar bin Al-Khattab Kanazawa, mahasiswa KKM Internasional 2026 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tim Kirana Nagisa tidak hanya membawa pulang catatan akademik dan sosial, tetapi juga pengalaman spiritual yang mendalam. Sebuah pelajaran bahwa Islam, di mana pun berada, mampu beradaptasi, bertahan, dan menyatukan manusia lintas budaya dan bangsa. (Eno)






