Berburu Diskon di Akhir Ramadan: Ibadah atau Euforia Konsumsi?
Oleh: Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H
(Dosen Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Malang | Serupingmedia.com –
Menjelang penghujung Ramadan, pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun adalah membludaknya pusat-pusat perbelanjaan.
Berbagai mal menawarkan diskon besar-besaran sampai 70%, gerai pakaian dipenuhi pembeli, dan antrean kasir mengular hingga larut malam. Fenomena ini seolah menjadi “ritual baru” masyarakat menjelang Hari Raya berburu pakaian murah demi menyambut Lebaran.
Bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap lumrah. Lebaran memang identik dengan tradisi mengenakan pakaian baru. Baju terbaik menjadi simbol kebahagiaan setelah sebulan menjalani ibadah puasa. Tidak sedikit keluarga yang menjadikan aktivitas berbelanja bersama sebagai bagian dari tradisi menyambut hari kemenangan.
Namun di balik itu, ada pertanyaan yang patut direnungkan bersama. Mengapa euforia belanja justru memuncak ketika Ramadan memasuki fase yang paling sakral, yakni sepuluh malam terakhir?
Malam-malam yang diyakini penuh keberkahan, yang dalam ajaran Islam menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah, memperdalam doa, dan melakukan refleksi diri.
Al-Qur’an sendiri menegaskan kemuliaan bulan Ramadan sebagai momentum spiritual yang sangat istimewa. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan dan pengendalian diri. Ramadan adalah madrasah spiritual yang melatih manusia untuk menahan hawa nafsu, termasuk dorongan berlebih dalam urusan duniawi.
Bahkan pada sepuluh malam terakhir, umat Islam dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah).”
Hadis ini menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW memberikan teladan bahwa akhir Ramadan adalah puncak kesungguhan spiritual, bukan justru masa untuk larut dalam kesibukan duniawi.
Namun realitas sosial hari ini sering menunjukkan gambaran yang berbeda. Di tengah suasana spiritual Ramadan, pasar bergerak dengan logikanya sendiri. Strategi promosi, potongan harga, hingga program midnight sale seakan berlomba menarik perhatian masyarakat. Diskon besar sering kali memicu perilaku konsumsi impulsif membeli bukan semata karena kebutuhan, tetapi karena khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya konsumsi modern semakin kuat mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum pengendalian diri, kesederhanaan, serta empati kepada sesama justru sering berjalan beriringan dengan lonjakan belanja yang tidak selalu rasional.
Padahal Islam juga mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam urusan konsumsi. Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A’raf: 31).
Pesan ayat ini tidak hanya berlaku pada makanan dan minuman, tetapi juga pada pola hidup secara umum, termasuk dalam hal berbelanja dan mengonsumsi barang.
Tentu saja meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang Lebaran juga memiliki sisi positif.
Perputaran uang di sektor ritel mampu menggerakkan roda perekonomian, memberikan keuntungan bagi pelaku usaha, sekaligus membuka peluang kerja musiman bagi banyak orang. Dalam konteks ini, Ramadan memang menjadi momentum penting bagi dunia perdagangan.
Namun demikian, yang perlu dijaga adalah keseimbangan. Tradisi membeli pakaian baru tidak seharusnya berubah menjadi perlombaan konsumsi yang berlebihan. Ramadan sejatinya mengajarkan nilai kesederhanaan, pengendalian diri, serta kepekaan sosial nilai-nilai yang justru sering terlupakan ketika masyarakat larut dalam euforia diskon.
Kita sering kali lupa bahwa makna berhari raya bukan semata-mata karena mengenakan baju baru atau menghias rumah dengan berbagai ornamen yang indah. Lebih dari itu, Hari Raya adalah perayaan spiritual atas keberhasilan kita menjalani Ramadan dengan penuh ketaatan.
Kemenangan sejati bukanlah apa yang tampak di luar, melainkan bagaimana Ramadan mampu menambah kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13).
Pada akhirnya, berburu diskon bukanlah persoalan benar atau salah. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap orang mampu menempatkan prioritas dengan bijak. Apakah akhir Ramadan akan diisi dengan kesibukan memenuhi keranjang belanja, atau justru dimanfaatkan untuk memperdalam makna spiritual bulan suci?
Pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Sebab kemenangan di Hari Raya tidak hanya diukur dari pakaian baru yang kita kenakan, tetapi dari sejauh mana Ramadan berhasil membentuk kesadaran, kesederhanaan, dan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT.( Eno).






