Ojek Menantang Lumpur, Warga Seko Membayar Jarak dengan Harga
Kabupaten Luwu | Serulingmedia.com –Mesin ojek meraung pelan menembus kabut pegunungan. Di atas jalur tanah yang licin dan berlumpur, seorang pengendara memacu motornya dengan kehati-hatian.
Bagi warga Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, inilah pemandangan sehari-hari: perjalanan panjang yang bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga isi dompet.
Seko berada di ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, di wilayah perbatasan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah.
Meski masih satu kabupaten dengan Masamba, ibu kota Luwu Utara, kondisi akses jalannya jauh dari kata layak. Hingga kini, jalur utama menuju Seko belum tersentuh aspal.
Jarak lebih dari 120 kilometer dari Masamba harus ditempuh melewati tanjakan terjal, bebatuan, dan lumpur tebal.
Saat hujan turun, perjalanan bisa berubah menjadi pertaruhan keselamatan. Tak heran, ongkos ojek menjadi sangat mahal.
“Sekali jalan dari Masamba ke Seko bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp700 ribu. Kalau hujan, bisa lebih mahal lagi,” ungkap Rektor Universitas Andi Jemma Luwu, Dr. Anas Boceng, kepada Serulingmedia.com melalui sambungan telepon, Minggu ( 1/2/2026).

Menurutnya, ongkos tersebut menjadikan jalur Masamba–Seko sebagai salah satu rute ojek termahal di Sulawesi Selatan. Namun, yang lebih berat dari biaya perjalanan adalah dampaknya bagi kehidupan warga.
Harga kebutuhan pokok melonjak tinggi. Semen bisa mencapai ratusan ribu rupiah per sak, sementara barang-barang lain ikut melambung.
“Biaya hidup menjadi sangat mahal karena semuanya bergantung pada transportasi. Warga seolah membayar mahal untuk sebuah keterisolasian,” kata Anas.
Kondisi ini mencerminkan ketimpangan pembangunan infrastruktur yang masih dirasakan warga Seko. Jalan yang seharusnya menjadi penghubung justru menjadi pembatas antara harapan dan kenyataan.
Di tengah alam yang indah, masyarakat harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Anas menambahkan, ketertinggalan pembangunan infrastruktur jalan di wilayah ini juga memunculkan kegelisahan yang lebih besar.
Ketimpangan tersebut menjadi salah satu alasan munculnya wacana pemekaran wilayah di Luwu Raya sebagai daerah otonomi baru.
Bagi warga Seko, ojek bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah urat nadi kehidupan—pengantar hasil bumi, penjemput harapan, sekaligus saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah akses jalan.
Selama jalur menuju Seko masih berlumpur, selama itu pula warga harus membayar jarak dengan harga yang tak ringan. ( Yah/Eno).






