Budi Santoso – Ketika Alam Menjerit: Menyikapi Efek Gas Rumah Kaca dan Alih Fungsi Lahan, Pentingnya Tata Ruang yang Berkelanjutan
Batu I Serulingmedia.com – Di tengah kemajuan peradaban manusia, lagu Ebiet G. Ade, “Berita Kepada Kawan”, terus menjadi pengingat abadi. Senandungnya yang lirih mengajak kita bertanya, “Mengapa di tanahku terjadi bencana?” Kalimat sederhana namun penuh makna ini mencerminkan keresahan terhadap rusaknya hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Kerusakan ini salah satunya dipicu oleh peningkatan efek “Greenhouse Gases” (gas rumah kaca) yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Gas seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen dioksida (NO2) sebenarnya berfungsi menjaga suhu bumi tetap hangat. Namun, saat konsentrasinya berlebih berakibat pembakaran bahan bakar fosil, kebakaran hutan, dan polusi industri, bumi menghadapi ancaman serius berupa pemanasan global (Global Warming).
Pemanasan global menjadi akar dari perubahan iklim ekstrem, sehingga munculnya gelombang panas, curah hujan intensif yang memicu banjir dan longsor, serta naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es kutub. Dampak ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memengaruhi produktivitas pertanian, kesehatan masyarakat, dan keberlangsungan kehidupan manusia.
Alih fungsi lahan di kawasan perbukitan menjadi salah satu kontributor utama bencana. Hutan-hutan yang dahulu berfungsi sebagai penahan air kini berganti dengan tanaman semusim atau bangunan permanen alias tanaman Cor beton. Hal ini menyebabkan berkurangnya daya resap tanah sehingga air hujan langsung mengalir ke dataran rendah, memicu banjir dan tanah longsor.
“Potret Bencana di Kota Batu”
Kota Batu, salah satu wilayah yang dikelilingi perbukitan, tidak luput dari dampak ini. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, menunjukkan peningkatan kejadian bencana setiap tahun. Dari angin puting beliung di Desa Sumberbrantas pada 2019 hingga banjir bandang di beberapa desa pada 2021, setiap peristiwa mengingatkan kita pentingnya menjaga lingkungan.
Data tahun 2024 mencatat 122 kejadian bencana di Kota Batu, termasuk tanah longsor, cuaca ekstrem, banjir, dan kebakaran hutan. Sebagai catatan, menjelang akhir tahun 2024 yang baru saja kita tinggalkan, sebuah vila di Desa Oro-Oro Ombo ambruk akibat longsor. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa alih fungsi lahan dan tata ruang yang buruk dapat memperparah dampak perubahan iklim.
“Langkah Preventif untuk Masa Depan “
Meskipun perubahan iklim bersifat inevitable (tak terhindarkan), kita dapat memitigasi dampaknya dengan adaptasi dan inovasi. Beberapa rekomendasi untuk pencegahan bencana meliputi:
- Peringatan Dini: Sistem informasi cepat dari BMKG dan BPBD untuk memberikan peringatan cuaca ekstrem hingga tingkat desa.
- Pemetaan dan Tata Guna Lahan:Mengidentifikasi aliran air di kawasan dataran tinggi untuk mencegah banjir di dataran rendah.
3.Pertanian Ramah Lingkungan: Memadukan tanaman semusim dengan tanaman keras untuk menjaga kestabilan tanah.
- Pengawasan Pembangunan: BPBD dilibatkan dalam perencanaan tata ruang dan pemberian izin bangunan di kawasan rawan bencana.
- Kerjasama Wilayah: Menyusun rencana tata ruang kawasan rawan bencana secara kolektif di Malang Raya.
Inovasi juga diperlukan, seperti penggunaan teknologi greenhouse untuk pertanian atau pengelolaan peternakan berbasis sistem tertutup. Dalam jangka panjang, upaya ini akan membantu kita beradaptasi dengan perubahan iklim sekaligus meminimalkan kerusakan lingkungan.
“Menjaga Warisan untuk Anak Cucu”
Bencana yang kita alami saat ini menjadi pelajaran penting bagi generasi mendatang. Seperti pesan Ebiet G. Ade, mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita ingin mewariskan bumi yang rusak kepada anak cucu? Jika tidak, maka tindakan nyata harus dimulai dari sekarang.
Penutup,menjadi pengingat global. Pada 7 Januari 2025, kebakaran hutan besar terjadi di Los Angeles, menjadi salah satu yang terparah dalam abad ini. Bencana ini adalah alarm bagi seluruh dunia bahwa kita harus bersatu menyelamatkan bumi dengan menjaga kelestarian alam dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Hanya dengan cara ini, kita dapat memastikan masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang.
“Selamatkan bumi hari ini, agar esok tetap ada ruang untuk hidup sehat, aman, dan berkelanjutan.”. ( Ir.Budi Santoso MS, ,Mantan Ketua Bappeda Kab.Kediri. Kota Pasuruan dan Kota Batu ).






