HPN 2026 Diwarnai Peluncuran Buku Karya Jurnalistik, Tegaskan Komitmen Literasi Pers

PELUNCURAN BUKUDI HPN_11zon

Serang, Banten | Serulingmedia.com — Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan pers Indonesia, tetapi juga momentum penguatan tradisi literasi di kalangan insan jurnalistik. Hal tersebut ditandai dengan peluncuran sejumlah buku karya wartawan pada puncak peringatan HPN 2026.

Peluncuran buku digelar di Lapangan Masjid Raya Al Bantani, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, Senin (9/2/2026), dan menjadi bagian dari rangkaian resmi HPN 2026. Kegiatan ini mencerminkan komitmen pers untuk tetap menghadirkan karya-karya bernas di tengah derasnya arus informasi cepat dan budaya instan.

Sebanyak tujuh buku jurnalistik diluncurkan, yang mengangkat beragam tema mulai dari biografi tokoh pers, sejarah jurnalistik, refleksi masa depan pers Indonesia, hingga kekayaan kearifan lokal. Menariknya, dua buku secara khusus mengangkat kekhasan Banten, yakni kehidupan masyarakat adat Baduy serta kuliner tradisional daerah.

Karya-karya tersebut menegaskan peran strategis pers dalam menjaga identitas budaya sekaligus merekam denyut sosial masyarakat melalui karya jurnalistik yang mendalam dan bertanggung jawab.
Adapun judul buku yang diluncurkan pada HPN 2026 meliputi:

  1. Langkah Sunyi Menuju Puncak
  2. Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy
  3. Wajah Pers Indonesia Kini dan Esok
  4. Melawat ke Talawi, Tapak Langkah Wartawan Adinegoro Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025
  5. Jojorong, Kuliner Tradisional Khas Banten
  6. Panggil Saya Tommy

Buku Langkah Sunyi Menuju Puncak sendiri merupakan karya biografi Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, yang merekam perjalanan kepemimpinan dan pengabdian dalam dunia pers nasional.

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menilai, peluncuran buku-buku tersebut mencerminkan keberagaman wajah pers Indonesia, mulai dari profesionalisme, sejarah perjuangan jurnalistik, hingga penguatan nilai-nilai kearifan lokal.
Menurutnya, di tengah tantangan disrupsi digital dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), kualitas tulisan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap media.

“Kepercayaan publik lahir dari karya yang ditulis dengan pengetahuan, empati, dan tanggung jawab. Buku-buku ini adalah bukti bahwa wartawan PWI terus berpikir jauh ke depan,” ujar Akhmad Munir.
Munir menambahkan, literasi menjadi kunci utama untuk menjaga marwah profesi wartawan di tengah banjir informasi instan yang kerap mengabaikan kedalaman dan akurasi.

“Teknologi boleh berkembang, tetapi nurani, integritas, dan kualitas tulisan wartawan tidak boleh ditinggalkan. Literasi adalah benteng terakhir pers,” tegas Munir yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara.

Peluncuran tujuh buku jurnalistik ini sekaligus mengingatkan bahwa kerja pers tidak semata berpacu pada kecepatan, tetapi juga menuntut ketajaman analisis, kedalaman makna, serta tanggung jawab moral terhadap sejarah dan peradaban bangsa. (Eno)