Dr. Hairur Rahman: UIN Malang Butuh Insinyur Ulul Albab, Cerdas Teknologi dan Kokoh Beretika
Malang I Serulingmedia.com – Kemajuan teknologi tidak cukup hanya melahirkan insinyur yang mahir merancang bangunan, menciptakan aplikasi, atau mengembangkan kecerdasan buatan. Dunia juga membutuhkan insinyur yang memiliki kepedulian terhadap sesama, menjaga kelestarian lingkungan, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian.
Gagasan itulah yang disampaikan Dekan Fakultas Teknik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Hairur Rahman, M.Si., dalam refleksi Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII kampus tersebut.
Melalui pemikiran bertajuk “Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa dalam 65 Tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”, Hairur mengajak perguruan tinggi Islam memperkuat integrasi antara ilmu teknik, nilai keislaman, dan tanggung jawab sosial.
Menurut dia, perjalanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang selama 65 tahun menunjukkan bahwa pendidikan Islam mampu berkembang melampaui batas kajian keagamaan. Kampus kini juga berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, rekayasa material, hingga pembangunan infrastruktur.
“Islam dan teknologi bukan dua dunia yang terpisah, melainkan satu kesatuan ikhtiar untuk memakmurkan bumi,” demikian gagasan utama yang ditekankan Hairur dalam refleksinya.
Bagi Hairur, integrasi ilmu tersebut harus tercermin dalam karakter lulusan. Seorang insinyur tidak cukup hanya mampu menghitung kekuatan struktur bangunan atau menulis kode program. Ia juga harus memahami dampak pekerjaannya terhadap keselamatan manusia, keadilan, dan kelestarian alam.
Konsep itulah yang disebutnya sebagai insinyur ulul albab: sosok yang cerdas secara teknis, matang secara etis, dan kokoh secara spiritual.
Menjawab Tantangan Teknologi
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), energi terbarukan, kota cerdas, dan manufaktur digital, Hairur menilai pendidikan teknik harus terus beradaptasi agar lulusannya tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Ia mengidentifikasi tiga tantangan utama, yakni kesenjangan kurikulum dengan kebutuhan industri, belum optimalnya riset terapan yang menghasilkan produk nyata, serta persoalan etika dalam pemanfaatan teknologi.
Menurutnya, penelitian di bidang teknik tidak seharusnya berhenti sebagai laporan akademik. Hasil riset perlu didorong menjadi prototipe, paten, maupun produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Di sisi lain, kemajuan teknologi juga perlu diimbangi kesadaran moral. Kecerdasan buatan, misalnya, dapat menghadirkan bias, sementara otomatisasi berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja. Pembangunan fisik pun harus memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi Islam memiliki peluang untuk menawarkan pendidikan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi juga berlandaskan nilai kemanusiaan.
Kampus Harus Menghadirkan Solusi
Untuk memperkuat peran tersebut, Hairur menawarkan empat langkah strategis bagi pengembangan Fakultas Teknik dan bidang keteknikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pertama, mengintegrasikan nilai keislaman dan etika ke dalam kurikulum teknik. Mahasiswa perlu dibiasakan tidak hanya bertanya bagaimana sebuah teknologi dibuat, tetapi juga untuk siapa teknologi itu dikembangkan dan apa dampaknya bagi masyarakat.
Kedua, membangun pusat inovasi dan teknopreneur yang mempertemukan mahasiswa, dosen, laboratorium, dan dunia industri. Melalui ekosistem tersebut, kampus diharapkan mampu melahirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari aplikasi layanan keumatan dan sistem informasi pesantren hingga teknologi tepat guna bagi petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketiga, menjadikan kampus sebagai laboratorium hidup bagi pengembangan teknologi cerdas dan ramah lingkungan. Pemanfaatan panel surya, pengelolaan air hujan, pengolahan sampah terpadu, serta tata kelola berbasis data dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Keempat, memperkuat kolaborasi lintas disiplin. Persoalan masyarakat, menurut Hairur, tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu bidang ilmu.
Pengembangan sistem zakat digital, misalnya, membutuhkan keahlian informatika dan ekonomi syariah. Demikian pula perancangan rumah sakit yang ramah bagi penyandang disabilitas memerlukan keterlibatan ahli teknik, kesehatan, dan psikologi.
Integrasi keilmuan, dengan demikian, harus diwujudkan melalui kerja sama dan proyek nyata, bukan berhenti sebagai gagasan akademik.
Membangun Teknologi yang Memanusiakan
Memasuki usia ke-65, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki modal berupa tradisi keilmuan, budaya ma’had yang membentuk karakter, serta sumber daya manusia yang terus berkembang.
Hairur memandang, perpaduan modal tersebut dengan keberanian berinovasi dapat membawa kampus menjadi pusat pengembangan teknologi yang berlandaskan nilai dan tanggung jawab sosial.
Baginya, kemajuan perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari banyaknya program studi atau kecanggihan fasilitas laboratorium. Ukuran penting lainnya ialah sejauh mana ilmu pengetahuan mampu menjawab persoalan masyarakat dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Semangat insinyur ulul albab menjadi pengingat bahwa teknologi pada akhirnya harus melayani manusia, bukan sebaliknya.
Melalui refleksi Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII, Hairur berharap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus melahirkan generasi insinyur yang mampu membangun negeri dengan ilmu, iman, dan amal.
Sebuah cita-cita agar kemajuan teknologi tidak kehilangan arah kemanusiaan, dan pendidikan Islam terus mengambil peran dalam membangun peradaban yang lebih adil, beradab, serta berkelanjutan. ( Eno)
