Prof. Dr. Taufiqurrochman: Bahasa Arab Tak Cukup Jadi Identitas, Harus Menjadi Kekuatan Ilmu
Malang I Serulingmedia.com – Bahasa Arab di perguruan tinggi Islam tidak cukup dipertahankan sebagai identitas keislaman. Bahasa tersebut harus menjadi kekuatan intelektual yang mendorong mahasiswa membaca sumber primer, mengembangkan penelitian, dan menghasilkan pemikiran yang diperhitungkan di tingkat internasional.
Pandangan itu disampaikan Prof. Dr. H. R. Taufiqurrochman, M.A., Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam refleksinya menyambut Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang diperingati pada 28 Oktober 2026.
Menurutnya, momentum ulang tahun ke-65 menjadi kesempatan untuk mengevaluasi peran bahasa Arab dalam kehidupan akademik kampus. Persoalannya bukan sekadar seberapa tinggi kedudukan bahasa Arab dalam tradisi pendidikan Islam, melainkan sejauh mana bahasa tersebut berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
“Bahasa tidak memperoleh martabat hanya karena diagungkan. Martabatnya tumbuh ketika digunakan untuk mengembangkan pemikiran, mempertemukan gagasan, dan menjawab persoalan masyarakat,” demikian gagasan utama yang ditekankan dalam refleksi tersebut, Sabtu ( 24/10/2026 )
Taufiqurrochman menilai, penguasaan kosakata, tata bahasa, dan kemampuan menyusun kalimat merupakan fondasi penting dalam pembelajaran bahasa Arab. Namun, kemampuan teknis itu belum cukup apabila mahasiswa belum mampu membaca argumentasi secara kritis, menelusuri sumber, membandingkan pandangan, dan merumuskan gagasan baru.
Karena itu, pendidikan bahasa Arab perlu diarahkan untuk membangun nalar ilmiah, bukan sekadar memenuhi standar kelulusan mata kuliah.
Sejarah Kejayaan Bahasa Arab dan Tantangan Kampus
Taufiqurrochman mengingatkan bahwa sejarah peradaban Islam memperlihatkan hubungan erat antara bahasa Arab dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada masa kejayaan peradaban Islam, bahasa Arab menjadi medium pertukaran pengetahuan lintas bangsa dan tradisi intelektual. Berbagai karya diterjemahkan, dipelajari, diperdebatkan, kemudian dikembangkan untuk melahirkan pemikiran baru.
Pelajaran penting dari sejarah tersebut, menurutnya, bukan hanya kebesaran khazanah klasik, tetapi juga tradisi intelektual yang menghidupkannya melalui pembacaan kritis, pengujian gagasan, dan keberanian mengembangkan pemikiran.
Ia merujuk pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Al-Mustashfa, yang menempatkan pengetahuan bahasa dan tata bahasa sebagai bagian penting dari kecakapan seorang mujtahid.
Penguasaan bahasa diperlukan untuk memahami tuturan, menangkap maksud, dan membedakan lapisan makna secara cermat. Dalam konteks perguruan tinggi, kemampuan tersebut perlu dikembangkan menjadi kecakapan memahami argumentasi, memeriksa dasar pemikiran, dan menguji kesimpulan secara akademik.
Dengan demikian, bahasa Arab tidak semestinya berhenti sebagai perangkat linguistik, tetapi menjadi jalan untuk memperdalam pengetahuan.
Program Bahasa Harus Berlanjut ke Penelitian
Persoalan lain yang disoroti ialah keberlanjutan kemampuan bahasa Arab setelah mahasiswa menyelesaikan program pembelajaran intensif.
Menurut Taufiqurrochman, kemampuan yang telah diperoleh berisiko menjadi pasif apabila tidak digunakan dalam perkuliahan, penelitian, dan kegiatan akademik sehari-hari.
Karena itu, keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur melalui nilai ujian atau pencapaian kompetensi pada akhir program. Universitas juga perlu menilai apakah mahasiswa terus menggunakan bahasa Arab untuk memperdalam bidang keilmuannya.
Mahasiswa syariah, misalnya, perlu mampu membaca argumentasi hukum dari sumber primer. Mahasiswa pendidikan membutuhkan akses terhadap penelitian dan pemikiran tentang pembelajaran. Sementara itu, mahasiswa sejarah, filsafat, dan studi Islam dapat memanfaatkan bahasa Arab untuk memperluas sumber kajian.
Taufiqurrochman mendorong UIN Maliki Malang memperkuat kesinambungan antara program bahasa dan program studi melalui kelompok baca, diskusi teks primer, pendampingan penelitian, serta publikasi ilmiah mahasiswa.
Langkah tersebut penting agar bahasa Arab tidak menjadi bidang yang terpisah dari disiplin ilmu lainnya, tetapi menjadi jembatan menuju penguasaan pengetahuan yang lebih mendalam.
UIN Maliki Malang Didorong Melahirkan Gagasan untuk Dunia
Taufiqurrochman juga menekankan pentingnya perubahan orientasi perguruan tinggi Islam, dari sekadar mengakses pengetahuan menjadi ikut menghasilkan pemikiran yang diperhitungkan dunia.
Indonesia memiliki pengalaman luas dalam pendidikan pesantren, kehidupan beragama di tengah masyarakat majemuk, hubungan agama dan kebudayaan, serta pengembangan pendidikan Islam. Pengalaman tersebut, menurutnya, berpotensi menjadi sumber kontribusi ilmiah bagi komunitas internasional.
Namun, pengalaman lokal tidak otomatis dikenal dunia. Diperlukan penelitian berkualitas, argumentasi yang kuat, penyuntingan yang baik, dan publikasi yang menjangkau pembaca lintas negara.
Untuk itu, ia mengusulkan agar UIN Maliki Malang mempertimbangkan pembentukan Rumah Terjemah dan Transformasi Peradaban.
Wadah tersebut diharapkan mempertemukan ahli bahasa, peneliti lintas disiplin, mahasiswa, dan mitra internasional untuk mengembangkan pertukaran pengetahuan dua arah.
Karya penting berbahasa Arab dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia untuk memperkaya kajian nasional. Sebaliknya, hasil penelitian terpilih mengenai Indonesia dapat disunting dan diterbitkan dalam bahasa Arab agar menjangkau pembaca internasional.
Keberhasilan program itu perlu diukur melalui kualitas karya terjemahan, jangkauan pembaca, tanggapan akademik, dan penelitian lanjutan yang dihasilkan.
Dengan pendekatan tersebut, internasionalisasi kampus tidak berhenti pada kerja sama kelembagaan atau kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan pertukaran gagasan yang nyata.
Kecerdasan Artifisial Menuntut Ketajaman Berpikir
Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam refleksi tersebut.
Teknologi penerjemahan dan perangkat generatif dapat membantu mahasiswa memahami teks serta menyusun bahan awal penelitian. Namun, kelancaran bahasa yang dihasilkan teknologi tidak selalu menjamin ketepatan makna dan kedalaman pemahaman.
Mahasiswa tetap harus mampu memeriksa istilah, menelusuri sumber, membandingkan hasil terjemahan, dan mempertanggungjawabkan interpretasinya.
Karena itu, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kerja intelektual.
Taufiqurrochman melihat perkembangan teknologi juga membuka peluang penelitian lintas disiplin antara ahli bahasa Arab, peneliti studi Islam, dan bidang informatika. Pengembangan korpus bahasa, teknologi penerjemahan, serta pengujian ketepatan perangkat linguistik dapat menjadi agenda kolaborasi yang relevan bagi universitas.
Melalui pendekatan itu, UIN Maliki Malang berpeluang tidak hanya mendidik pengguna teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan perangkat pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan akademik.
Dies Natalis ke-65 Menjadi Momentum Evaluasi
Pada usia ke-65, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dinilai perlu menempatkan pengembangan bahasa Arab dalam kerangka tanggung jawab universitas sebagai lembaga ilmu.
Ukuran keberhasilannya tidak semata-mata terletak pada tingginya minat belajar atau pencapaian nilai mahasiswa. Kedalaman membaca, ketajaman argumentasi, keberlanjutan penelitian, kualitas publikasi, dan kontribusi pengetahuan juga perlu menjadi perhatian.
Taufiqurrochman menegaskan bahwa identitas dan ilmu tidak harus dipertentangkan. Identitas memberikan akar, sedangkan pengembangan ilmu membuka jalan bagi pertumbuhan.
Bahasa Arab akan semakin bermakna ketika tidak hanya dipelajari sebagai warisan, tetapi juga digunakan untuk memahami persoalan kontemporer dan melahirkan pemikiran baru.
Refleksi tersebut menempatkan Dies Natalis ke-65 UIN Maliki Malang sebagai momentum untuk memperkuat peran bahasa Arab dalam membangun tradisi akademik yang produktif, kritis, dan terbuka terhadap perkembangan dunia.
Pada akhirnya, keberhasilan bahasa Arab di kampus Islam tidak hanya diukur dari kedudukannya dalam tradisi, tetapi juga dari kemampuannya membantu sivitas akademika memahami dunia, mengembangkan pengetahuan, dan memberikan jawaban atas persoalan zamannya. ( Eno)
