Prof. Dr. Nur Hadi: Kampus Dunia, Jangan Berhenti pada Slogan
Malang I Serulingmedia.com – Refleksi Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Pada 28 Oktober 2026, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang genap berusia 65 tahun. Umur yang cukup panjang bagi sebuah perguruan tinggi untuk membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar warisan, melainkan modal untuk melangkah ke masa depan.
Tema Dies Natalis ke-65, “Dari Malang Menuju Kampus Dunia”, menyiratkan ambisi besar. Namun, ambisi saja tidak cukup. Menjadi kampus dunia bukan perkara memasang target internasional, memperbanyak kerja sama luar negeri, atau memburu peringkat global. Ukurannya jauh lebih mendasar: seberapa bermutu ilmu yang dihasilkan, seberapa tangguh lulusannya, dan seberapa nyata manfaatnya bagi masyarakat.
Di titik itulah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang perlu membaca ulang perjalanan panjangnya. Bukan untuk meragukan cita-cita, melainkan untuk memastikan bahwa langkah menuju dunia tidak berhenti sebagai bahasa seremoni.
Sejarah Panjang, Pekerjaan Rumah Belum Usai
Perjalanan UIN Malang bermula pada 1961, ketika institusi ini masih berupa bagian kecil dari perkembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Transformasi menjadi universitas pada 2004 membuka ruang yang lebih luas bagi integrasi ilmu agama dan ilmu umum.
Gagasan pohon ilmu menjadi salah satu identitas akademiknya. Al-Qur’an dan Sunnah ditempatkan sebagai akar nilai, sementara ilmu pengetahuan berkembang melalui berbagai disiplin untuk menghasilkan manusia yang berkarakter ulul albab: berpengetahuan, beriman, dan bertanggung jawab atas kehidupan.
Konsep itu menawarkan sesuatu yang penting di tengah dunia akademik yang kerap memisahkan kecakapan intelektual dari kedalaman moral. Namun, gagasan besar baru mempunyai arti ketika hadir dalam praktik. Integrasi keilmuan tidak cukup menjadi konsep yang dipajang dalam dokumen institusi. Ia harus terlihat dalam kurikulum, penelitian, cara dosen mengajar, keberanian mahasiswa berpikir kritis, serta kemampuan lulusan menyelesaikan persoalan nyata.
Pertanyaannya, sejauh mana pohon ilmu itu telah berbuah? Seberapa banyak penelitian yang lahir dari integrasi keilmuan tersebut mampu menjawab persoalan masyarakat dan memperoleh pengakuan internasional?
Pertanyaan semacam ini justru penting bagi kampus yang ingin melangkah lebih jauh.
Peringkat Bukan Segalanya
Dalam persaingan pendidikan tinggi global, pemeringkatan menjadi salah satu instrumen untuk mengukur reputasi dan daya saing perguruan tinggi. Publikasi ilmiah, sitasi, kualitas pengajaran, reputasi akademik, dan jejaring internasional ikut menentukan posisi sebuah universitas.
Akan tetapi, peringkat tidak boleh berubah menjadi berhala baru dunia akademik.
Kampus bisa saja memperbaiki posisinya dalam pemeringkatan, tetapi belum tentu berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran secara merata. Publikasi bisa bertambah, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan masyarakat. Kerja sama internasional dapat terlihat mengesankan di atas kertas, tetapi belum tentu menghasilkan riset bersama, pertukaran pengetahuan, atau inovasi yang berkelanjutan.
Karena itu, cita-cita menjadi kampus dunia perlu diterjemahkan ke dalam ukuran yang lebih substantif.
Pertama, riset harus berkembang menjadi kekuatan utama universitas. Dosen memerlukan dukungan pendanaan, fasilitas, kebebasan akademik, dan sistem penghargaan yang adil. Produktivitas ilmiah tidak semestinya hanya dihitung dari banyaknya artikel, tetapi juga dari kebaruan gagasan, mutu metodologi, pengaruh keilmuan, dan manfaat hasil penelitian.
Kedua, internasionalisasi harus menghasilkan hubungan akademik yang hidup. Mahasiswa asing yang belajar di Malang, dosen yang berkolaborasi dengan peneliti mancanegara, serta penelitian lintas negara perlu menjadi bagian dari ekosistem akademik, bukan sekadar angka dalam laporan tahunan.
Ketiga, kualitas lulusan harus menjadi ukuran utama. Gelar akademik dan kemampuan bahasa asing penting, tetapi tidak cukup. Lulusan juga harus mampu berpikir mandiri, beradaptasi dengan perubahan, bekerja lintas budaya, serta mempertahankan integritas ketika berhadapan dengan kepentingan dan tekanan.
Kampus dunia, dengan demikian, bukan hanya kampus yang dikenal di luar negeri. Ia adalah kampus yang menghasilkan pengetahuan bermutu dan manusia yang mampu memberi kontribusi di mana pun berada.
Tantangan Terbesar Ada di Dalam Kampus
Sering kali, pembicaraan mengenai universitas kelas dunia terlalu berpusat pada fasilitas, anggaran, pemeringkatan, dan pembangunan fisik. Padahal, kekuatan utama perguruan tinggi terletak pada manusia dan budaya akademiknya.
Gedung megah tidak otomatis melahirkan penelitian bermutu. Teknologi modern tidak dengan sendirinya menghasilkan pembelajaran yang baik. Bahkan, kerja sama dengan universitas ternama tidak akan banyak berarti apabila sivitas akademika belum terbiasa bekerja secara disiplin, terbuka terhadap kritik, dan menghargai kebebasan berpikir.
Budaya akademik semacam itu membutuhkan kepemimpinan yang memberi teladan. Pimpinan universitas perlu membuka ruang dialog, memperkuat meritokrasi, memastikan transparansi tata kelola, serta memberikan kesempatan yang proporsional kepada dosen dan mahasiswa untuk berkembang.
Dosen harus memiliki ruang untuk meneliti dan mengembangkan gagasan. Mahasiswa perlu didorong bertanya, menguji argumentasi, dan tidak sekadar menghafal jawaban. Administrasi kampus pun harus bergerak mengikuti kebutuhan zaman melalui layanan yang cepat, transparan, dan mudah diakses.
Di sinilah tantangan yang sesungguhnya: membangun kebiasaan untuk terus memperbaiki diri, bahkan ketika capaian yang diraih sudah cukup membanggakan.
Universitas yang ingin masuk ke panggung global harus berani mengakui kekurangannya sendiri. Sebab, pengakuan atas kelemahan bukan tanda ketertinggalan, melainkan titik awal untuk melakukan pembenahan.
Mendunia Tanpa Kehilangan Jati Diri
Ada satu hal yang tidak boleh luput dalam perjalanan UIN Malang menuju kampus dunia: identitas.
Globalisasi akademik bukan alasan untuk menyalin seluruh model universitas asing. Dunia tidak kekurangan kampus yang menawarkan pendidikan sains, teknologi, ekonomi, atau ilmu sosial. Yang dibutuhkan adalah universitas dengan kontribusi khas, yang mampu memperkaya percakapan ilmiah global melalui pengalaman, perspektif, dan tradisi intelektualnya sendiri.
Dalam hal ini, UIN Malang memiliki peluang untuk memperkuat dialog antara Islam, sains, dan kemanusiaan. Tradisi ma’had, penguatan bahasa Arab dan Inggris, serta gagasan ulul albab dapat menjadi fondasi untuk melahirkan ilmuwan yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga mempunyai kepekaan sosial dan tanggung jawab moral.
Namun, kekhasan itu harus dibuktikan melalui karya. Moderasi beragama, misalnya, akan lebih meyakinkan apabila hadir dalam penelitian yang kuat, praktik pendidikan yang inklusif, dan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan kemanusiaan.
Begitu pula integrasi agama dan sains. Gagasan tersebut akan memperoleh tempat di tingkat internasional apabila mampu melahirkan pendekatan ilmiah, inovasi, dan perspektif yang memperluas cakrawala pengetahuan.
Malang sendiri merupakan bagian dari kekuatan itu. Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki lingkungan sosial dan akademik yang memungkinkan perjumpaan berbagai latar belakang budaya, pemikiran, dan pengalaman. Dari ruang lokal inilah gagasan universal dapat tumbuh.
Menjadi global tidak berarti meninggalkan akar. Justru akar yang kuat memungkinkan sebuah universitas tumbuh lebih tinggi tanpa kehilangan arah.
Dari Perayaan Menuju Pembuktian
Dies Natalis ke-65 semestinya menjadi lebih dari sekadar perayaan usia. Momentum ini perlu digunakan untuk mengevaluasi perjalanan, mengukur capaian, dan menetapkan pekerjaan yang belum selesai.
Tema “Dari Malang Menuju Kampus Dunia” akan kehilangan makna apabila hanya menjadi kalimat indah dalam pidato dan spanduk. Ia harus diterjemahkan menjadi agenda yang terukur: peningkatan mutu riset, perluasan kolaborasi akademik, penguatan kualitas pengajaran, perbaikan layanan, serta pembentukan lulusan yang berdaya saing sekaligus berkarakter.
Publik juga berhak mengetahui bagaimana target-target tersebut dicapai. Indikator keberhasilan harus jelas, perkembangannya dapat dievaluasi, dan hasilnya dapat dirasakan oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat.
Pada akhirnya, reputasi universitas tidak dibangun melalui klaim tentang kehebatan dirinya sendiri. Reputasi tumbuh ketika karya-karyanya diakui, lulusannya dipercaya, dan keberadaannya memberikan manfaat.
Enam puluh lima tahun merupakan modal sejarah yang berharga. Namun, sejarah tidak dapat menggantikan kerja keras hari ini. UIN Malang harus terus bergerak, berani mengoreksi diri, dan menjaga agar ambisi internasional tidak mengaburkan tanggung jawab utamanya sebagai lembaga pendidikan.
Dari Malang menuju kampus dunia bukan sekadar perjalanan geografis atau perlombaan mengejar peringkat. Ini adalah perjalanan intelektual dan moral untuk membuktikan bahwa universitas Islam mampu melahirkan ilmu yang bermutu, manusia yang berintegritas, dan peradaban yang lebih manusiawi.
Selamat Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semoga pohon ilmu itu tidak hanya tumbuh menjulang, tetapi juga menghasilkan buah yang dapat dinikmati masyarakat dan memberi arti bagi dunia. ( Eno)
