Prof Uril Bahruddin: Menjaga Bahasa Arab, Merawat Keunggulan UIN Malang
Malang I Serulingmedia.com – Di usia ke-65, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tidak cukup hanya merayakan perjalanan panjang dan reputasi akademiknya. Ada warisan keilmuan yang perlu terus dirawat, salah satunya ekosistem bahasa Arab yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas kampus.
Pesan itu disampaikan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA, dalam refleksinya memperingati Dies Natalis ke-65 kampus tersebut, Jumat (23/10/2026).
Menurut Uril, keunggulan UIN Malang dalam pengembangan bahasa Arab bukan sekadar hasil dari program pembelajaran, melainkan buah dari ekosistem yang dibangun melalui kebijakan kelembagaan, pembiasaan sehari-hari, dan kesinambungan pendidikan.
“Jika ingin belajar bahasa Arab dan mengembangkannya, silakan datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,” demikian ungkapan yang populer di kalangan penggiat bahasa Arab di Indonesia.
Bagi Uril, ungkapan tersebut bukan sekadar pujian. Di baliknya terdapat kerja panjang yang membuat bahasa Arab tumbuh menjadi bagian dari kehidupan akademik kampus.
Bukan Sekadar Belajar di Kelas
Ekosistem itu dibangun melalui Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab (PKPBA), yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti pembelajaran bahasa Arab secara intensif selama satu tahun pada awal perkuliahan.
Namun, penguasaan bahasa tidak cukup hanya mengandalkan teori dan latihan di ruang kelas. Mahasiswa membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly memiliki peran penting. Kehidupan berasrama memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membiasakan diri berkomunikasi dalam bahasa Arab sekaligus menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman nyata.
Pembinaan itu berlanjut melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) pada jenjang sarjana, magister, hingga program doktor Pendidikan Bahasa Arab.
Rangkaian tersebut, menurut Uril, membentuk kesinambungan antara penguasaan dasar bahasa, praktik komunikasi, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Karena itulah, kekuatan UIN Malang tidak tepat jika hanya diukur dari keberadaan PKPBA, ma’had, atau program studi tertentu secara terpisah. Kekuatan sesungguhnya terletak pada keterhubungan seluruh unsur tersebut,” tulisnya.
Ia mengingatkan, jika salah satu unsur melemah, dampaknya dapat dirasakan oleh keseluruhan sistem. Pembelajaran intensif tanpa praktik berisiko membuat mahasiswa hanya memahami kaidah, tetapi kurang terampil berkomunikasi.
Sebaliknya, lingkungan berbahasa yang tidak ditopang pengembangan akademik juga dapat membuat kemampuan mahasiswa kehilangan arah keilmuan.
Reputasi yang Harus Terus Dijaga
Model pengembangan bahasa Arab UIN Malang telah menjadi inspirasi bagi sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
Meski demikian, Uril mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut tidak bisa diperoleh hanya dengan meniru bentuk program atau membangun fasilitas serupa.
Dibutuhkan visi kelembagaan yang jelas, kebijakan yang konsisten, tenaga pengajar berkualitas, dukungan pendanaan, serta evaluasi berkelanjutan.
Bahasa Arab juga memiliki peran lebih luas daripada sekadar sarana komunikasi. Penguasaan bahasa ini membuka akses terhadap khazanah keilmuan Islam, memperluas jejaring akademik internasional, dan membantu sivitas akademika menjangkau literatur dari berbagai disiplin ilmu.
Koleksi buku berbahasa Arab di perpustakaan, misalnya, memiliki nilai strategis karena menyediakan sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh mahasiswa keislaman, tetapi juga oleh mereka yang mendalami ekonomi, kesehatan, teknik, dan bidang lainnya.
Dengan demikian, bahasa Arab menjadi bagian dari infrastruktur intelektual yang mendukung reputasi universitas.
Ketika Kemampuan Aktif Perlu Dievaluasi
Di tengah capaian tersebut, Uril mengajak sivitas akademika untuk berani melihat kondisi secara jujur. Ia merasakan adanya indikasi penurunan kualitas pada aspek tertentu dalam ekosistem bahasa Arab UIN Malang, terutama terkait kemampuan aktif mahasiswa dan lulusan.
Ia mengenang masa ketika mahasiswa dari program studi umum, seperti ekonomi dan informatika, mampu menulis tugas akhir menggunakan bahasa Arab. Capaian tersebut, menurut pengamatannya, pernah mendapatkan apresiasi dari pimpinan universitas.
Kini, praktik serupa semakin jarang terdengar.
Uril menegaskan, pengamatan tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui pengumpulan data yang sistematis. Namun, kondisi itu patut menjadi bahan evaluasi bersama agar keberhasilan pembelajaran tidak berhenti pada penyelenggaraan program.
Pertanyaan pentingnya adalah apakah mahasiswa benar-benar mampu menggunakan bahasa Arab setelah mengikuti pembelajaran intensif selama satu tahun.
Apakah mereka mampu membaca literatur sesuai bidang keilmuannya? Bisakah mereka berdiskusi, menulis, dan menyampaikan gagasan dalam bahasa Arab? Sejauh mana kemampuan tersebut bertahan hingga mereka menyelesaikan studi?
Menurut Uril, pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab melalui evaluasi yang terukur. Keberhasilan pembelajaran bahasa Arab semestinya tidak hanya dinilai dari jumlah jam pelajaran atau capaian administratif, tetapi juga dari kemampuan nyata mahasiswa dalam menggunakan bahasa tersebut.
Teknologi Harus Memperkuat Ekosistem
Memasuki era digital, Uril mendorong UIN Malang memperbarui strategi pembelajaran bahasa Arab tanpa meninggalkan fondasi yang telah dibangun.
Pemanfaatan kecerdasan buatan, platform pembelajaran digital, literatur elektronik, dan komunitas komunikasi lintas negara dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk berlatih membaca, menulis, menyimak, serta berbicara dalam bahasa Arab.
Meski demikian, teknologi tidak seharusnya menggantikan interaksi manusia, keteladanan dosen, dan budaya akademik yang menjadi penopang utama pembelajaran.
Bahasa Arab juga perlu semakin terhubung dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer dan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teks keagamaan, tetapi perlu mampu memanfaatkan sumber berbahasa Arab untuk memperluas wawasan dan mengembangkan keilmuan di bidang masing-masing.
Dengan cara itu, bahasa Arab dapat menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern dan pergaulan akademik global.
Warisan Bukan Alasan untuk Berpuas Diri
Pada momentum Dies Natalis ke-65, Uril menyampaikan harapan kepada seluruh sivitas akademika dan para pemimpin UIN Malang, baik saat ini maupun pada masa mendatang, agar terus menjaga dan mengembangkan keunggulan bahasa Arab.
Evaluasi berkala, peningkatan kualitas pengajar, integrasi pembelajaran dengan kebutuhan lintas program studi, serta penguatan lingkungan berbahasa menjadi langkah penting yang perlu dilakukan secara konsisten.
Baginya, reputasi yang telah dibangun selama puluhan tahun bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan amanah yang harus dijaga.
Membangun keunggulan memang membutuhkan perjuangan panjang. Namun, mempertahankannya menuntut keberanian untuk mengakui kekurangan, memperbaiki kebijakan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Uril berharap, UIN Malang tidak hanya dikenang sebagai kampus yang pernah unggul dalam pembelajaran bahasa Arab, tetapi terus menjadi rujukan nasional dan internasional dalam mengembangkan bahasa Arab yang hidup, produktif, dan bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban.
Sebab, warisan akademik yang berharga bukan hanya sesuatu yang dibanggakan dari masa lalu, melainkan sesuatu yang terus dihidupkan agar generasi berikutnya dapat merasakan manfaatnya. ( Eno)
