Dr. Zainal Habib: Kampus Tak Boleh Menjadi Pabrik Ijazah, Mahasiswa Harus Memadukan Pikir dan Zikir

1708133_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Di tengah gegap gempita penerimaan mahasiswa baru dan derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga dosen filsafat, Dr. Zainal Habib, melontarkan kritik mendasar terhadap arah pendidikan tinggi di Indonesia.

 

Menurutnya, tantangan terbesar perguruan tinggi saat ini bukan sekadar mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, melainkan melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, berkarakter, dan memiliki kedalaman spiritual.

 

Bagi Dr. Zainal, menjadi mahasiswa bukanlah garis akhir perjuangan setelah dinyatakan lolos masuk perguruan tinggi.

 

Justru saat itulah dimulai perjalanan panjang membangun kualitas intelektual, moral, dan spiritual sebagai bekal menghadapi kehidupan.

Mengutip filsuf Yunani Plato, ia menjelaskan bahwa pendidikan merupakan proses membawa manusia keluar dari “gua” ketidaktahuan menuju cahaya pengetahuan.

 

Namun, menurutnya, perjalanan itu tidak berhenti pada penguasaan ilmu semata. Pendidikan harus melahirkan cara berpikir yang matang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral agar ilmu pengetahuan tetap berpihak pada kemanusiaan.

 

“Menjadi mahasiswa bukan sekadar memulai pendidikan baru. Ini adalah awal perjalanan intelektual sekaligus spiritual. Mahasiswa belajar memahami dunia melalui akal, tetapi juga belajar mengenal dirinya melalui refleksi dan kedekatan kepada Allah SWT,” ujar Dr. Zainal Habib.

 

Ia menilai, fenomena yang berkembang saat ini menunjukkan banyak mahasiswa masih terjebak pada orientasi nilai akademik, indeks prestasi, sertifikat, hingga gelar.

 

Padahal, kata dia, universitas sejatinya merupakan ruang pembentukan jati diri, tempat mahasiswa belajar berpikir, berdialog, menguji gagasan, sekaligus membangun integritas.

 

Menurut Dr. Zainal, perkembangan AI justru semakin menegaskan bahwa kemampuan menghafal bukan lagi ukuran kecerdasan. Mesin dapat mengolah jutaan data dalam hitungan detik, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menimbang nilai moral, empati, maupun kebijaksanaan.

 

“Di era kecerdasan buatan, ukuran mahasiswa bukan lagi seberapa banyak ia menghafal. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan berpikir kritis, menghubungkan berbagai pengetahuan, memahami persoalan secara utuh, lalu mengambil keputusan yang bijaksana. Teknologi dapat mengolah data, tetapi tidak dapat menggantikan hati nurani manusia,” katanya.

 

Karena itu, ia mengingatkan agar perguruan tinggi tidak kehilangan tradisi akademiknya sebagai ruang dialog dan pencarian kebenaran.

 

Mahasiswa harus berani bertanya, mengkritisi, sekaligus mempertanggungjawabkan setiap gagasan secara ilmiah.

Mengutip pemikiran Socrates, René Descartes, Immanuel Kant hingga Aristoteles, Dr. Zainal menegaskan bahwa ilmu pengetahuan berkembang karena keberanian manusia untuk berpikir, mempertanyakan sesuatu, dan terus mencari kebenaran.

 

Namun demikian, menurutnya, pendidikan tinggi Islam memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kekuatan spiritual. Ilmu tanpa nilai-nilai ketuhanan berpotensi kehilangan arah.

 

“Belajar bukan hanya aktivitas berpikir (fikr), tetapi juga berzikir (dzikr). Berpikir melahirkan ilmu, sedangkan zikir menjaga agar ilmu tetap memiliki arah, adab, dan keberkahan. Ketika akal dan hati berjalan bersama, ilmu tidak akan melahirkan kesombongan, tetapi melahirkan kebijaksanaan,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut menjadi ruh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

Kampus tidak hanya ingin menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk insan Ulul Albab, yaitu pribadi yang mampu memadukan kekuatan berpikir, kedalaman spiritual, dan kepedulian sosial.

 

“Kami ingin melahirkan insan Ulul Albab. Mereka bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, akhlak, dan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.

 

Dalam pandangannya, kebebasan yang dimiliki mahasiswa selama kuliah juga harus diimbangi dengan tanggung jawab moral. Tidak ada lagi guru yang setiap hari mengingatkan belajar atau menyelesaikan tugas. Semua bergantung pada kesadaran pribadi.

 

Karakter, kata dia, tidak dibangun melalui aturan yang keras, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari.

 

Kejujuran tumbuh ketika seseorang menolak berbuat curang meski tidak ada yang mengawasi. Disiplin lahir ketika seseorang menghargai waktu tanpa dipaksa.

 

Integritas tumbuh ketika seseorang tetap memegang prinsip meski menghadapi berbagai godaan.

 

“Kejujuran, disiplin, dan integritas tidak lahir karena takut dihukum. Semua itu tumbuh dari hati nurani. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya,” katanya.

Karena itu, Dr. Zainal Habib mengajak seluruh mahasiswa baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadikan kampus bukan sekadar tempat menempuh perkuliahan, melainkan ruang menempa akal budi, memperluas cakrawala berpikir, memperkaya pengalaman hidup, sekaligus membangun karakter yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

 

Menurutnya, setiap ruang kuliah, diskusi ilmiah, organisasi kemahasiswaan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat merupakan proses pembelajaran yang akan membentuk kualitas kepemimpinan dan kepribadian mahasiswa di masa depan.

 

“Jadikan kampus sebagai tempat bertumbuh. Jangan hanya mengejar nilai dan gelar, tetapi manfaatkan setiap kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir, memperkuat zikir, memperluas wawasan, belajar menghargai perbedaan, dan membangun integritas. Sebab, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas karakter dan cara berpikir generasi mudanya,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan menjadi generasi Ulul Albab, yaitu insan yang mampu memadukan kekuatan intelektual, kedalaman spiritual, dan kepedulian sosial. Dengan bekal itulah, lulusan perguruan tinggi tidak hanya siap menghadapi persaingan global, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa dengan ilmu yang berpijak pada akhlak dan hati nurani.

 

Dr. Zainal juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari cepatnya memperoleh pekerjaan, tingginya gaji, atau banyaknya gelar akademik.

 

Menurutnya, ukuran tersebut terlalu sempit jika tidak disertai kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab sosial.

“Mesin bisa menjawab pertanyaan tentang apa dan bagaimana. Tetapi pertanyaan mengapa kejujuran harus dijaga, mengapa keadilan harus diperjuangkan, dan mengapa ilmu harus diabdikan untuk kemanusiaan, hanya bisa dijawab oleh manusia yang memiliki akal budi dan hati nurani,” tegasnya.

 

Menutup refleksinya, Dr. Zainal mengingatkan bahwa universitas tidak sekadar meluluskan dokter, guru, ekonom, insinyur, ataupun pemimpin. Perguruan tinggi harus melahirkan manusia yang mampu menggunakan ilmunya secara bijaksana untuk kemaslahatan umat.

 

“Jangan datang ke universitas hanya untuk mengejar gelar. Datanglah untuk mengasah akal, memperkuat zikir, memperluas wawasan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri menjadi manusia yang bermanfaat. Universitas tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi melahirkan manusia yang menggunakan ilmu dengan kebijaksanaan, integritas, dan hati nurani,” pungkasnya.

 

Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, pesan Dr. Zainal Habib menjadi refleksi bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas manusia yang mampu memadukan pikir, zikir, dan amal.

 

Di situlah perguruan tinggi menemukan makna sejatinya: bukan sekadar mencetak lulusan, melainkan membentuk peradaban melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian. ( Eno)