Misteri Terbuka: Payung Pusaka Kanjeng Prabu Jayabaya Resmi Dibuka Usai Jamasan Pamoksan

Screenshot_2025-10-05-20-46-27-218_com.android.chrome-edit

Kediri | Serulingmedia.com – Suasana sakral membalut kediaman Juru Kunci Pamuksan Kanjeng Prabu Sri Aji Jayabaya, Minggu (5/10/2025) sore.

Tepat pukul 15.59 WIB, dilangsungkan prosesi pembukaan payung pusaka usai pelaksanaan jamasan pamuksan, sebuah ritual bulanan setiap malam Senin legi penuh makna spiritual untuk mengenang kebesaran Sang Raja Bijak Nusantara.

Menjelang prosesi pembukaan payung, para peziarah tampak memenuhi rumah juru kunci tempat menyimpan payung.

Mereka mengenakan pakaian kebesaran GPN kaos hitam dan ikat kepala sederhana, tanda kerendahan hati di hadapan leluhur.

Aroma dupa membumbung pelan, berpadu dengan temaram sinar sore yang menembus celah rumah juru kunci.

Makruf alias Tosok dan Bagyo yang dipercaya mulai membuka payung berwarna 4 Payung Pusaka dari 5 peninggalan Prabu Jayabaya.

Di hadapan penziarah tampak 4 payung pusaka berwarna merah, putih, hijau dan kuning warna emas dengan ornamen ukir tradisional Jawa yang dibuka tinggal satu yang dibiarkan tertutup. Tidak ada penjelasan kenapa tidak dibuka sekalian.

Saat juru doa Subagyo perlahan mengangkat payung itu, seluruh hadirin hening. Hanya asap kemenyan lembut melambung ke langit-langit rumah dan gemerisik dedaunan yang terdengar.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan oleh Yayasan Gajah Purwo Nusantara (GPN), yang dikenal selalu hadir di berbagai haul dan ziarah ulama besar di seluruh Tanah Air.

Seperti biasanya, GPN menjadi penggerak dapur umum dengan menyediakan makan dan minuman gratis bagi puluhan warga yang tinggal dekat dengan Pamoksan Prabu Sri Aji Jayabaya, sebagai wujud nyata dari semboyannya, “Salam Loman Sugih.”

Menurut Subagyo yang memimpin pembukaan dan doa mengungkapkan payung pusaka Jayabaya bukan sekadar seremoni.

“Payung ini bukan hanya lambang kehormatan, tapi juga perlindungan dan wahyu. Setiap tahun, payung dibuka sebagai pertanda dibukanya pintu berkah dan restu leluhur bagi siapa pun yang datang dengan niat suci,” ujar Subagyo dengan suara bergetar di tengah kepulan dupa dan lantunan tembang doa Jawa kuno.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Gajah Purwo Nusantara, Ahmad Thohir Setyawan menegaskan partisipasi GPN dalam prosesi spiritual ini adalah bentuk pengabdian dan cinta terhadap tradisi leluhur.

“Kami hadir setiap bulan, Senin legi, bukan untuk mencari nama, tetapi untuk ngalap berkah dan melanjutkan tradisi mulia warisan para wali dan raja Nusantara. Prabu Jayabaya mengajarkan agar manusia selalu eling lan waspada — sadar atas asalnya dan arah hidupnya,” tutur Ahmad Thohir Setyawan penuh haru.

” “Nalika payung pusaka dipunbikak, maknanipun dudu mung tandha pangreksa, nanging pralambang pangayomaning leluhur kang nglindhungi sakabehing putu.”( Ketika payung pusaka dibuka, itu bukan sekadar tanda perlindungan, melainkan lambang kasih dan naungan leluhur yang menaungi seluruh cucu dan keturunannya.” Lanjutnya.

Pesan Moral dari Pamuksan Jayabaya

Ritual pembukaan payung pusaka Kanjeng Prabu Sri Aji Jayabaya bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pengingat spiritual.

Ia mengajarkan manusia agar senantiasa menjaga keseimbangan antara lahir dan batin, antara kekuasaan dan kebijaksanaan.

Ziarah ini menjadi penegasan bahwa dalam keheningan dan kesederhanaan, tersimpan nilai luhur: ngabdi tanpa pamrih, loman tanpa batas, dan sugih dalam budi.( Eno).