Dr. H. M. Hasanuddin Wahid: Mahasiswa UIN Malang Harus Menguasai AI, Bukan Menjadi Alat bagi AI

1901774_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Sekjen DPP PKB, Dr. H. M. Hasanuddin Wahid, M.Hum., meminta mahasiswa baru tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya modal menghadapi dunia kerja.

 

Pesan itu disampaikan Hasanuddin Wahid saat memberikan pembekalan pada hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Gedung Jenderal Besar Soeharto, Sport Center Kampus 1, Rabu (19/8/2026).

Hasanuddin Wahid mengangkat tema “Menavigasi Disrupsi BANI-AI Menuju Indonesia Emas 2045: Merajut Cahaya Dharma di Tengah Realitas 1 Juta Sarjana Menganggur.”

Ia mengajak mahasiswa memahami perubahan dunia yang semakin rapuh, cemas, tidak linear, dan sulit dipahami. Kondisi tersebut tergambar dalam konsep BANI, yakni Brittle, Anxious, Non-linear, dan Incomprehensible.

Menurut dia, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mempercepat perubahan tersebut. Teknologi itu dapat menghilangkan sebagian pekerjaan, tetapi sekaligus membuka jenis pekerjaan baru.

“Mahasiswa harus menguasai AI, bukan menjadi alat bagi AI,” kata Hasanuddin Wahid dalam pembekalan tersebut.

Ia menilai mahasiswa perlu menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab. Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, kata dia, dapat melemahkan kemampuan berpikir apabila mahasiswa tidak memiliki literasi yang memadai.

Hasanuddin Wahid juga menyoroti tantangan pasar kerja bagi lulusan perguruan tinggi. Berdasarkan materi yang disampaikan, lebih dari satu juta lulusan D4 hingga S3 tercatat berstatus penganggur pada Mei 2026.

Kondisi itu menunjukkan bahwa ijazah belum cukup untuk menjamin seseorang memperoleh pekerjaan. Mahasiswa, menurut dia, perlu membangun kemampuan, pengalaman, portofolio, jejaring, dan karakter sejak awal perkuliahan.

“Gelar akademik saja tidak cukup. Mahasiswa harus memiliki karya, kemampuan, jaringan, dan karakter yang membedakannya ketika memasuki dunia profesional,” demikian pesan yang ditekankan dalam pembekalan.

Ia kemudian menawarkan empat modal non-transkrip yang perlu dibangun mahasiswa selama menjalani pendidikan. Keempat modal tersebut meliputi kedalaman ilmu, jejak karya, silaturahmi dan jejaring, serta karakter.

Hasanuddin Wahid yang asli Kota Batu juga mengaitkan penguasaan ilmu dan teknologi dengan identitas pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

Ia menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman melalui konsep epistemologi pohon ilmu.

Dalam konsep tersebut, Al-Qur’an dan Hadis menjadi akar spiritual, sedangkan berbagai disiplin ilmu berkembang sebagai cabang keilmuan. Integrasi itu diarahkan agar ilmu tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi menghasilkan kemanfaatan dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, rangkaian hari terakhir PBAK UIN Malang juga menghadirkan sejumlah materi dari unsur universitas. Biro Administrasi Akademik (BAK), Perpustakaan, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA U), serta Senat Mahasiswa Universitas (SEMA U) memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru.

Kegiatan diawali dengan opening dan ice breaking. Mahasiswa baru juga menyaksikan penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), antara lain UKM PSM dan UKM Kommust.

Setelah sesi pembekalan, panitia memberikan cendera mata dan sertifikat kepada pemateri. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.

Hasanuddin Wahid meminta mahasiswa menjadikan masa kuliah sebagai periode membangun kapasitas, bukan sekadar mengejar nilai dan ijazah.

Ia mengajak mahasiswa membawa tiga komitmen selama menjalani pendidikan, yakni menjaga kehormatan keilmuan, mengabdi kepada kemanusiaan, dan merajut Cahaya Dharma.

Pesan tersebut menjadi penutup pembekalan sekaligus penegasan bahwa mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja tanpa meninggalkan karakter serta nilai kemanusiaan.

Dengan bekal ilmu, karya, jejaring, dan karakter, mahasiswa baru diharapkan mampu menyelesaikan pendidikan sebagai pribadi Ulul Albab yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat. ( Eno).