UIN Maliki: OBH Ibn Sina Uji Harmoni, Disiplin, dan Integritas Mahasantri Baru

Screenshot_2026-08-18-07-47-37-524_com.android.chrome-edit

Malang | Serulingmedia.com — Orientasi mahasiswa baru di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tak berhenti pada seremoni penyambutan.

 

Melalui Orientation for Building Harmony with Avicenna (OBH), Mabna Ibn Sina mulai menanamkan disiplin, kebersamaan, sekaligus integritas moral kepada para mahasantri baru.

 

Kegiatan yang digelar di depan Mabna Ibn Sina, Sabtu (15/8/2026), menjadi pintu masuk bagi seluruh Mahasantri Baru Mabna Ibn Sina untuk mengenal lingkungan kepesantrenan sekaligus keluarga besar Avicenna.

Pesan utama disampaikan Pengasuh Mabna Ibn Sina, Prof. Dr. H. Wildana Wargadinata, Lc., M.Ag. Ia menekankan bahwa kehidupan akademik tidak boleh dipisahkan dari pembentukan karakter dan moral.

“Kita memiliki potensi intelektual yang besar. Tetapi kecerdasan saja tidak cukup. Intelektualitas harus berjalan bersama moralitas, integritas, dan akhlak yang baik.”

 

Wildana mengingatkan, keberhasilan seorang mahasiswa tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik atau prestasi yang diraih. Karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga hubungan dengan orang lain menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

“Jangan hanya menjadi mahasiswa yang pintar, tetapi jadilah manusia yang memiliki integritas. Ilmu yang tinggi harus melahirkan sikap dan perilaku yang baik.”

Menurut Wildana, keberadaan ma’had memiliki posisi strategis dalam membentuk keseimbangan tersebut. Mahasantri tidak hanya belajar memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga ditempa melalui kehidupan bersama, pembiasaan ibadah, kedisiplinan, dan penguatan akhlakul karimah.

“Ma’had bukan hanya tempat tinggal. Di sini kalian belajar hidup bersama, belajar disiplin, belajar menghargai orang lain, sekaligus belajar mempertanggungjawabkan setiap tindakan.”

Pesan tersebut menjadi titik tekan OBH. Sebab, mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang harus mampu beradaptasi dalam satu lingkungan dengan aturan dan kultur yang sama.

Rangkaian kegiatan diawali penampilan banjari dan lantunan shalawat. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan penyambutan, mau’idoh hasanah, doa, hingga foto bersama.

Para mahasantri baru juga diperkenalkan dengan para musyrif yang akan mendampingi kehidupan mereka selama berada di Mabna Ibn Sina.

Tak berhenti pada perkenalan personal, OBH memperkenalkan sistem kehidupan mabna melalui sejumlah divisi, antara lain Divisi Ubudiyah, Taklim Al-Qur’an, Taklim Afkar, Keamanan, K3O, Bahasa, dan Kesantunan.

 

Masing-masing divisi menjelaskan tugas, kegiatan, serta aturan yang akan menjadi bagian dari keseharian mahasantri.

Bagi Wildana, sistem tersebut bukan untuk membatasi ruang gerak mahasiswa, melainkan membangun kebiasaan yang diperlukan agar mereka mampu hidup tertib dan bertanggung jawab.

“Aturan itu bukan sekadar untuk ditaati karena ada yang mengawasi. Yang lebih penting adalah tumbuh kesadaran dari dalam diri bahwa disiplin dan tanggung jawab merupakan bagian dari karakter seorang mahasiswa.”

Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan OBH dalam konteks yang lebih luas. Harmoni tidak cukup dibangun melalui kegiatan bersama, tetapi harus dibuktikan melalui perilaku sehari-hari.

Di sinilah tantangan pendidikan ma’had: nilai-nilai yang disampaikan dalam satu hari orientasi harus mampu menjadi kebiasaan selama mahasiswa menjalani kehidupan di kampus dan masyarakat.

Wildana juga mendorong para mahasantri baru untuk tidak melihat perbedaan latar belakang sebagai jarak.

“Kalian datang dari daerah dan keluarga yang berbeda. Sekarang kalian berada dalam satu keluarga besar. Jadikan perbedaan itu sebagai kekuatan untuk saling belajar dan saling menguatkan.”

Suasana keakraban terlihat ketika para mahasantri mulai berinteraksi dengan musyrif dan sesama penghuni mabna.

 

Senyum, percakapan, dan antusiasme mewarnai kegiatan yang menjadi awal perjalanan mereka di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly.

Namun, ukuran keberhasilan OBH tidak berhenti pada meriahnya acara.
Setelah panggung dibongkar dan kegiatan berakhir, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah disiplin, harmoni, akhlak, dan integritas benar-benar hidup dalam keseharian para mahasantri.

 

Bagi UIN Maliki, tantangan pendidikan bukan sekadar mencetak mahasiswa berprestasi secara akademik. Kampus juga dituntut melahirkan lulusan yang memiliki karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.

OBH Mabna Ibn Sina menjadi langkah awal menuju tujuan tersebut. Dari sebuah kegiatan ta’aruf, para mahasantri baru mulai memasuki proses yang lebih panjang: belajar, hidup bersama, disiplin, dan membangun karakter.

Sebab, mahasiswa yang cerdas mungkin mudah ditemukan. Tetapi mahasiswa yang cerdas sekaligus berintegritas membutuhkan proses pendidikan yang konsisten.( Eno).