PSGAD UIN Malang Perkuat Garda Pendamping Mahasiswa, Dosen dan Pengasuh Ma’had Dibekali Deteksi Dini Kasus Kekerasan
Malang | Serulingmedia.com – Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memperkuat sistem perlindungan mahasiswa dengan meningkatkan kapasitas dosen dan pengasuh Ma’had sebagai garda terdepan pendampingan.
Upaya itu diwujudkan melalui Kajian Gender Synergy bertajuk “Mengurai Bias, Membangun Inklusi di Seluruh Rumpun Keilmuan” yang dirangkai dengan pelatihan penguatan kapasitas dosen dan pengasuh Ma’had, Senin (27/7/2026), di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Dr. (HC) Ir. H. Soekarno.
Kegiatan tersebut diikuti dosen, pengasuh Ma’had, serta perwakilan dari delapan fakultas di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan pendamping dalam mengenali persoalan mahasiswa, khususnya terkait isu gender, kekerasan, dan kesehatan mental.

Ketua PSGAD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega, M.Si., mengatakan penguatan kapasitas menjadi langkah strategis karena persoalan yang ditangani PSGAD terus berkembang dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut menuntut dosen dan pengasuh Ma’had memiliki kompetensi yang lebih memadai dalam memberikan pendampingan.
“Peserta berasal dari delapan fakultas dan pengasuh Ma’had yang selama ini menjadi garda terdepan mendampingi mahasiswa. Mereka dibekali keterampilan melakukan intervensi awal, membangun inner healing, sekaligus memperkuat ketahanan sebagai pendamping agar mampu memberikan penanganan yang tepat,” ujar Mega.
Ia berharap pelatihan tersebut menjadi awal dari program penguatan kapasitas yang berkelanjutan sehingga seluruh sivitas akademika memiliki kesiapan menghadapi berbagai persoalan yang dialami mahasiswa.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Mohammad Mahpur, M.Si., menilai peningkatan kapasitas dosen dan pengasuh Ma’had merupakan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kompleksitas persoalan psikologis maupun kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.
Menurut Mahpur, pendamping mahasiswa harus memiliki kepekaan psikologis untuk mengenali gejala awal, memberikan respons yang tepat, serta menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh mahasiswa.
“Kasus kekerasan dapat terjadi di berbagai lingkungan tanpa memandang latar belakang pelaku maupun korban. Karena itu, seluruh elemen kampus harus membangun sistem pendampingan yang kuat melalui peningkatan kapasitas dosen, musyrif, dan musyrifah,” katanya.
Ia menegaskan, pelatihan tersebut merupakan investasi jangka panjang dalam membangun budaya kepedulian sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tinggi.
Dalam kesempatan itu, peserta juga memperoleh materi dari Guru Besar Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada, Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada penguatan kapasitas dosen dan pengasuh Ma’had melalui keterampilan intervensi awal, inner healing, serta penguatan ketahanan pendamping dalam menangani kasus kekerasan.
Melalui Kajian Gender Synergy ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya membangun lingkungan akademik yang inklusif, aman, dan berkeadilan.
Kampus juga terus memperkuat kapasitas sivitas akademika agar mampu memberikan layanan pendampingan yang profesional, responsif, dan berpihak pada keselamatan serta kesejahteraan mahasiswa.( Eno).






