UIN Malang Mantapkan Arah Baru Integrasi Sains–Islam, Rumuskan Pedoman Final Setelah Dua Dekade

Screenshot_2025-11-16-02-54-53-442_com.android.chrome-edit

Malang | Serulingmedia.com – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) kembali menegaskan diri sebagai poros penting integrasi sains dan Islam melalui sebuah forum akademik strategis yang digelar diruang rapat lt. 111 Gedung Dr. Ir. Soekarno UIN. MalikiS, Sabtu (15/11/2025).

Forum ini bukan sekadar diskusi biasa, tetapi langkah awal menuju lahirnya pedoman integrasi—dokumen yang selama dua dekade menjadi harapan namun belum pernah difinalisasi secara institusional.

UIN Malang Mantapkan Jati Diri Integrasi

Ketua LP2M, Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag, menyebut integrasi sebagai “napas keilmuan UIN Malang”. Ia menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan menuntut kerangka metodologis yang kokoh agar integrasi tidak berhenti sebagai jargon.

“Integrasi adalah jati diri kita. Ia harus bergerak mengikuti dinamika zaman, tetapi tetap berakar kuat pada nilai Ulul Albab,” ujarnya.

Dr. Basri: UIN Malang Harus Melahirkan Model Sendiri

Pada sesi pertama, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D, Wakil Rektor Bidang Akademik, menghadirkan paparan historis dan kritis tentang gagasan integrasi tiga pemikir besar: al-Faruqi, al-Attas, dan Ziauddin Sardar.

Namun ia menegaskan bahwa UIN Malang tidak cukup menjadi pengekor.

“Kita harus melahirkan model integrasi versi UIN Malang. Bukan meniru, tapi melahirkan kerangka yang kontekstual dengan realitas Indonesia,” tegasnya.

Basri juga menambahkan bahwa tradisi keilmuan Islam sejak abad pertengahan menunjukkan integrasi yang natural. Ia mencontohkan Canon of Medicine karya Ibn Sina yang ditulis dengan standar ilmiah tinggi.

“Para ilmuwan Muslim saat itu tidak harus mencantumkan ayat. Mereka meneliti fenomena alam dengan pendekatan ilmiah yang matang,” ujarnya, sembari menyebut manuskrip asli Canon konon tersimpan di perpustakaan Prancis.

Ia mengingatkan bahwa integrasi harus masuk ke ruang riset, ruang kelas, hingga etos berpikir akademisi.

Dr. Luthfi Musthofa: Integrasi adalah Transformasi Cara Pandang

Pembicara kedua, Dr. H. M. Luthfi Musthofa, M.Ag, membawa perspektif hermeneutis yang menajamkan paradigma integrasi.

“Ayat bukan ornamen dalam sains. Ayat adalah cahaya yang menuntun kita membaca realitas lebih dalam,” ujarnya.

Ia mencontohkan pendekatan Tafsir al-Misbah dan Paradigma Ma’na Cum Maghza sebagai jembatan antara teks wahyu dan fenomena ilmiah modern. Integrasi, katanya, harus memunculkan analisis bermakna, bukan sekadar mencantumkan ayat di awal slide presentasi.

Suara Akademisi: Butuh Pedoman yang Jelas dan Terukur

Forum menjadi semakin hidup dengan berbagai tanggapan:

Dr. Drs. M. Yunus, M.Si: UIN Malang sudah memiliki modal kuat, tinggal menyiapkan standar operasional yang disepakati bersama.

Dr. Halimi, M.Pd dan Prof. Dr. Sudirman, M.A: Integrasi harus memuat nilai spiritual agar tidak kering makna.

Dr. Muallifah, M.A dan Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd: Mendesak adanya rumusan operasional yang terukur dan mudah diimplementasikan.

Penutup oleh Dr. Zaenul Mahmudi, M.A menegaskan perlunya pedoman resmi sebagai komitmen lembaga, bukan sekadar wacana akademik.

Dua Dekade Perjalanan: Momentum Mengokohkan Pedoman Integrasi

Moderator, Dr. Dewi Chamidah, M.Pd, merangkum bahwa sejak 2004 integrasi telah menjadi ruh UIN Malang, namun belum memiliki roadmap final yang menjadi acuan seluruh sivitas akademika.

Forum ini menandai tekad baru: menyusun pedoman integrasi yang matang, terukur, aplikatif, dan tetap berpijak pada karakter Ulul Albab.

Acara ditutup dengan optimisme bahwa UIN Malang akan menjadi pelopor model integrasi baru yang bukan hanya kuat secara konsep, tetapi juga berpengaruh dalam peta keilmuan Islam di tingkat nasional dan global.( Eno).