Sunyi di Hari Buku Sedunia, Aries Harianto: Literasi Kian Terasing di Tengah Riuh Digital

1333636_11zon

Jember | Serulingmedia.com – Di tengah peringatan Hari Buku Sedunia yang jatuh pada 23 April 2026, suasana justru terasa hening. Tak banyak gaung, tak banyak percakapan.

 

Hanya beberapa selebaran digital yang beredar di grup WhatsApp, tanpa resonansi berarti. Di tengah sunyi itu, Dr. Aries Harianto, SH., MH., Dewan Majelis Pakar Hukum dan Ketenagakerjaan DMN FPN, menyuarakan kegelisahan tentang nasib literasi yang kian terpinggirkan.

 

“Tidak ada goresan respon dan pernik wacana. Sepi,” ungkapnya lirih. Baginya, kondisi ini menjadi cermin bahwa literasi perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing, ketika buku tak lagi dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari.

Aries memaknai buku bukan sekadar kumpulan kertas berisi tulisan, melainkan jendela dunia—yang sayangnya, tak semua orang bersedia membukanya.

 

Ia menggambarkan buku sebagai ruang kontemplasi yang mampu menghadirkan keindahan “krepuskular”, cahaya senja yang perlahan menerangi huruf demi huruf, membantu manusia memahami pesan semesta.

 

Lebih jauh, ia mengibaratkan buku sebagai lautan luas, tempat manusia berselancar di atas gelombang pengetahuan. Dalam setiap halaman, tersimpan tantangan sekaligus keindahan, yang mengajak pembaca untuk berpikir, merasakan, dan menaklukkan “rumus-rumus Tuhan” melalui akal dan keberanian.

“Buku adalah lentera,” lanjutnya, “yang menerangi kegelapan nalar dan menjadi suluh kearifan.” Dalam pandangannya, buku memiliki peran penting dalam mengikis sikap kultus dan ambisi yang berlebihan, sekaligus menuntun manusia pada pemahaman yang lebih jernih.

Ia juga menekankan bahwa buku merupakan samudera pengetahuan yang mendokumentasikan berbagai peristiwa, data, hingga proyeksi masa depan. Dari sanalah, hipotesis lahir, diuji, dan berkembang menjadi realitas, bahkan melahirkan fakta-fakta baru yang memperkaya peradaban.

Tak hanya itu, Aries mengingatkan bahwa sejarah bangsa Indonesia pun tak lepas dari peran buku. Para pendiri bangsa, termasuk Soekarno dan para founding fathers, menggali berbagai pemikiran dunia melalui bacaan, lalu meramunya menjadi dasar negara, Pancasila.

“Buku bukan sekadar benda mati. Ia adalah verbalitas dalam diam, yang mampu menggerakkan rasa malu dan memunculkan kesadaran diri,” ujarnya.

Di akhir refleksinya, Aries menegaskan bahwa buku adalah toa pencerahan—pengingat bahwa hidup bukan sekadar mencari validasi dan puja puji.

 

Justru di dalam dinamika kehidupan, terdapat seni dan makna yang hanya bisa disentuh melalui perenungan yang mendalam, salah satunya melalui membaca.

Di tengah derasnya arus digital dan instan, pesan Aries menjadi pengingat sederhana namun mendalam: mungkin bukan bukunya yang hilang, melainkan kemauan untuk membuka dan memahaminya yang mulai memudar.( Eno)