Pascaramadhan, Dr. Abbas Selong Ingatkan Ancaman ‘Iblis Sosial’: Agama Harus Terlihat dalam Perilaku
Makassar | Serulingmedia.com — Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UMI Makassar sekaligus Penasehat LSM Maung Sulawesi Selatan, Dr. Abbas Selong, memberikan refleksi tajam mengenai perilaku sosial umat setelah berlalunya bulan suci Ramadan 1447 H.
Ia menegaskan, kualitas keberagamaan seseorang bukan terletak pada banyaknya bicara atau ritual, tetapi pada perilaku nyata sehari-hari.
“Ramadan baru saja pergi. Pertanyaannya, berubahkah kita setelahnya? Masih adakah Nur Ilahi yang memancar dari ucapan dan tindakan kita?” kata Dr. Abbas dalam keterangannya, Rabu ( 8/4/2026).
Menurutnya, setiap Ramadan umat berbondong-bondong bertaubat dan berjanji memperbaiki diri, namun godaan kehidupan setelahnya sering kali membuat manusia kembali pada kebiasaan lama.
Ia mengingatkan bahwa bumi ini adalah milik Allah, sehingga perilaku buruk seperti fitnah, korupsi, menggunting dalam lipatan, hingga merampas hak orang lain merupakan bentuk pengkhianatan terhadap nilai agama.
Mengutip filsuf Rusia Leo Tolstoy, Dr. Abbas menegaskan bahwa agama bukan untuk diperbincangkan, tetapi ditunjukkan melalui sikap.
“Jangan banyak bicara denganku tentang agama, izinkan aku melihat agama dalam perilakumu,” ujarnya mengulang pesan Tolstoy.
Ia juga menegaskan bahwa pandangan keagamaan harus melahirkan akhlak mulia sebagaimana tujuan diutusnya Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Selain itu, Dr. Abbas mengingatkan bahwa setelah Ramadan, godaan semakin kuat.
“Waspadalah! Iblis bisa saja hadir dalam bentuk teman palsu yang mengajak pada kejahatan, atau bahkan muncul dari diri kita sendiri ketika menolak berbuat baik dan kembali pada sifat buruk,” tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan peringatan keras:
“Jangan banyak bicara tentang agama jika engkau tidak mampu memperlihatkan agama dalam perilakumu.”
Peringatan ini, menurutnya, penting agar masyarakat tidak terjebak pada simbolisme dan rutinitas religius semata, tetapi benar-benar menjadikan nilai keagamaan sebagai cahaya yang menerangi tindakan sehari-hari. (Yah/Eno)






