Parman, Camat Junrejo yang Menyemai Guyub Rukun dari Akar Tradisi

Screenshot_2025-10-13-14-51-14-253_com.android.chrome-edit

Batu | Serulingmedia. Com – Sinar matahari sore menembus rindang pepohonan di halaman Kantor Desa Tlekung. Suara tawa anak-anak berpadu dengan alunan gamelan, sementara aroma jajanan tradisional menyeruak di udara.

Di tengah keramaian itulah sosok Camat Junrejo, Parman, melangkah perlahan, menyalami warga satu per satu. Tidak ada jarak, tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyat.

Ia tersenyum lebar setiap kali berjumpa dengan warga, seolah ingin mengatakan bahwa kebersamaan adalah rumah bagi semua.

Kegiatan “Junrejo Tempo Doeloe” hari itu bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-24 Kota Batu. Lebih dari itu, ia menjadi ruang bagi masyarakat untuk menatap masa depan dengan akar yang kuat — akar tradisi dan budaya.

Di tangan Parman, selama dua hari Kami- Jum’at (8-9/10/2025 ) halaman balai desa Tlekung, lokasi acara Junrejo Tempo Doeloe menjelma menjadi gerakan kebersamaan.

“Kegiatan ini adalah hasil musyawarah semua kepala desa dan lurah di Junrejo,” ujarnya dengan nada pelan namun tegas. “Kami ingin menghidupkan semangat Guyub Rukun, karena di situlah kekuatan Junrejo sesungguhnya.”

Sebagai pemimpin wilayah, Parman memilih untuk hadir dan menyatu. Ia tidak duduk di kursi kehormatan terlalu lama.

Ia turun ke lapangan, menengok stand UMKM, menegur warga dengan hangat, bahkan sempat membantu anak-anak yang sedang menganyam daun menjadi mainan.

Di matanya, kegiatan sederhana itu memiliki makna besar. “Kalau anak-anak mencintai tradisi sejak kecil, mereka tidak akan kehilangan arah di masa depan,” katanya sambil menepuk pundak seorang bocah yang menunjukkan wayang mendong buatannya.

Bagi Parman, Junrejo Tempo Doeloe adalah panggung kecil untuk menumbuhkan harapan besar.

Ia ingin warga belajar bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan masa lalu. Justru dari akar tradisi itulah, masyarakat bisa tumbuh dengan jati diri yang kuat.

“Budaya bukan penghambat kemajuan,” ujarnya. “Budaya itu fondasi agar kita tidak kehilangan arah ketika melangkah.”

Selain menggugah kesadaran budaya, acara ini juga menjadi momentum kebangkitan ekonomi lokal.

Parman menegaskan, setiap kegiatan di kecamatan akan melibatkan pelaku UMKM. Ia ingin mereka merasakan manfaat nyata dari setiap acara pemerintah.

“Pemberdayaan bukan teori,” tuturnya. “Pemberdayaan adalah ketika warga bisa tersenyum karena dagangannya laku, karena mereka merasa dihargai.”

Kehangatan itu terasa nyata di mata para warga. Salah satunya, Mardi, Kepala Desa Tlekung yang menjadi tuan rumah acara, mengaku bangga atas kepemimpinan Parman yang membumi.

“Pak Camat ini orangnya sederhana tapi tegas. Beliau tidak hanya memerintah, tapi memberi contoh. Warga merasa dekat, dan itu membuat kami semua bersemangat,” ujar Mardi sambil tersenyum.

Puncak kegiatan ditandai dengan peluncuran Batik Guyub Rukun Versi 2, simbol persatuan masyarakat Junrejo.

Bagi Parman, batik itu bukan sekadar kain indah, melainkan representasi filosofi hidup warga Junrejo: saling menggenggam, saling menguatkan, tanpa melihat perbedaan.

Kehadiran Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman, yang juga istri Wali Kota Batu, Nurochman, menambah makna tersendiri dalam kegiatan tersebut.

Dengan penuh kehangatan, ia berkeliling meninjau stan-stan UMKM, berbincang dengan para pelaku usaha kecil yang menampilkan produk khas Junrejo.

Siti Faujiyah Nurochman mengaku terkesan dengan konsep acara yang mampu menghidupkan potensi lokal dan memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Kegiatan seperti ini sangat penting, karena mengangkat potensi masyarakat dari bawah. Ketika UMKM lokal tumbuh, maka kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat,” tuturnya dengan penuh apresiasi.

Sebagai sosok yang juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan perempuan, Siti Faujiyah Nurochman menilai semangat Guyub Rukun yang ditunjukkan warga Junrejo patut dijadikan contoh bagi kecamatan lain di Kota Batu.

Bagi istri Wali Kota yang dikenal ramah dan sederhana itu, pemberdayaan perempuan dan ekonomi keluarga adalah fondasi kuat bagi pembangunan masyarakat.

“PKK siap bersinergi dengan kecamatan untuk mendukung kegiatan semacam ini. Karena dari ekonomi rumah tangga yang kuatlah, lahir masyarakat yang tangguh,” tambahnya dengan penuh keyakinan.

Menjelang senja, ketika lampu-lampu di tenda mulai menyala, Parman berdiri di tepi halaman, menatap warga yang masih ramai bercengkerama. Ia tidak banyak bicara. Hanya menundukkan kepala, seperti mensyukuri sesuatu yang lebih besar dari sekadar suksesnya acara.

“Inilah yang saya sebut kemajuan,” katanya lirih. “Bukan hanya infrastruktur yang megah, tapi hati warga yang hangat dan saling menyapa.”lanjutnya.

Dari Junrejo, dari tangan seorang camat yang percaya pada kekuatan kebersamaan, lahirlah pelajaran berharga: bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, tapi soal kehadiran.

Dan Guyub Rukun bukan sekadar slogan, melainkan napas yang membuat Junrejo tetap hidup, berbudaya, dan berdaya.

Parman, Siti Faujiyah Nurochman, dan warga Junrejo telah menanam benih sederhana bernama kepedulian. Dari benih itu, tumbuhlah Junrejo yang tak pernah layu di musim apa pun.(Eno).