Pagi yang Menyambut di Seremban: Jejak 38 Mahasiswa UIN Malang dalam Pelukan Budaya MTAS

1235475_11zon

Malaysia, Seremban | Serulingmedia.com — Pagi itu, matahari baru mengintip dari balik pepohonan ketika halaman Ma’had Tahfidz As-Saidiyyah (MTAS) Seremban mulai dipenuhi langkah-langkah muda penuh harapan.

 

Kamis, (  2 /4/ 2026 ) menjadi hari ketika 38 mahasiswa dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menginjakkan kaki di bumi Seremban sebagai peserta International Internship Program.

 

Mereka datang bukan sekadar untuk menuntaskan kewajiban akademik, tetapi untuk menyelami kehidupan, budaya, dan hikmah yang mungkin tak mereka temukan di ruang-ruang kelas kampus.

Jejak Pertama di Tanah Seberapa

Tepat pukul 07.30, udara pagi yang sejuk membelai wajah para mahasiswa, seolah ikut menyambut kedatangan mereka.

 

Di halaman MTAS, para siswa dan siswi telah berbaris rapi, menghadirkan pemandangan penuh kedisiplinan yang tertata halus. Di balik barisan itu, tampak senyum-senyum kecil yang mencoba menyampaikan pesan sederhana:“Selamat datang, kami menerimamu seperti saudara.”

 

Di antara 38 mahasiswa tersebut, Ja’far berdiri sedikit di belakang, memperhatikan setiap detail dengan mata yang tak bisa menyembunyikan rasa takjub.

Ia tak menyangka bahwa perjalanan jauh dari Malang ke Malaysia akan disambut dengan hangatnya kebersamaan yang begitu tulus.

“Begitu kami datang, guru dan para siswa langsung menyapa dengan senyum tulus,” ucapnya pelan, seolah mencoba menahan getaran dalam suara. “Rasanya seperti disambut keluarga sendiri.

Di Mana Adab Menjadi Cahaya

Acara perkenalan budaya dimulai dengan keteraturan yang lembut. Para mahasiswa diajak menyelami lingkungan MTAS—sebuah institusi yang menghidupkan nilai Islami bukan melalui kata-kata, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari yang telah menjadi jati diri.

Ja’far bercerita bahwa di Indonesia, ia sering mendengar tentang adab dan kedisiplinan dalam dunia pesantren. Namun di MTAS, ia merasakannya lebih dekat, lebih nyata, lebih menyentuh.

“Di sini,” katanya, “adab itu bukan sekadar mata pelajaran. Ia adalah napas. Cara mereka menundukkan kepala saat menyapa, cara mereka menjaga kebersihan hati dan perilaku—semuanya mengajarkan kami tentang ketulusan.”

Dalam suasana itu, mahasiswa tak hanya belajar mengenai budaya, tetapi juga tentang kesederhanaan dan rasa hormat yang mampu menembus batas bahasa dan negara.

Ketika Kebersamaan Menjadi Bahasa yang Sama

Tak perlu waktu lama bagi para mahasiswa untuk larut dalam kehangatan suasana. Sapaan kecil, tawa ringan, bahkan saling bertukar pandang menjadi bentuk komunikasi yang menghapus jarak budaya.

 

Guru-guru MTAS menyambut mereka dengan cara yang lembut, seakan memahami bahwa para mahasiswa ini tidak hanya mencari tempat magang, tetapi juga pengalaman yang akan membentuk kedewasaan batin mereka.

Para siswa pun tak kalah ramah. Mereka mendekat dengan rasa penasaran yang polos, menanyakan nama, asal, hingga budaya Indonesia.

Dari percakapan itu, tumbuh jembatan kecil yang menghubungkan dua bangsa.

Di tengah kesibukan acara, Ja’far sempat menatap langit pagi Seremban. Langit yang sama seperti di Indonesia, namun hari itu terasa lebih luas. Seolah memberi ruang bagi harapannya yang perlahan tumbuh.

Sesi Foto: Momen yang Tak Sekadar Simbol

Menjelang akhir acara, para guru mengajak seluruh peserta untuk berfoto bersama. Para mahasiswa berdiri diapit oleh siswa-siswa MTAS, membentuk formasi sederhana yang memancarkan kebersamaan.

Ja’far memandangi hasil foto di layar ponselnya. Dalam foto itu, ia melihat lebih dari sekadar gambar. Ia melihat perjalanan—dari Malang ke Seremban—yang kini mulai terukir menjadi kenangan.

“Mungkin nanti kami kembali ke Indonesia,” katanya pelan, “tetapi pagi ini… akan selalu kami bawa pulang.”

Menjawab Tantangan Global dengan Hati yang Siap Belajar

Bagi UIN Malang, International Internship Program ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas akademik dan daya saing global mahasiswa.

 

Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi pedagogik, kemampuan interkultural, serta kesiapan mereka menghadapi dunia kerja internasional.

Namun bagi 38 mahasiswa FITK, hari pertama ini telah mengajarkan sesuatu yang lebih dari itu: bahwa menjadi pendidik berarti menjadi manusia yang mampu merangkul perbedaan, memahami nilai-nilai baru, dan menyerap kebaikan dari setiap tempat yang mereka singgahi.

Pagi di Seremban bukan sekadar awal program magang. Ia adalah awal perjalanan batin—perjalanan yang akan mengubah cara mereka memandang dunia, pendidikan, dan diri mereka sendiri.( Ja’far/Eno)