Menyalakan Cahaya Al-Qur’an: Pondok Ramadhan SMPS Islam Bani Hasyim Hadirkan Ulama Palestina

PALESTINA EDIT_11zon

Singosari | Serulingmedia.com – Suasana religius dan penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan Pondok Ramadhan yang diselenggarakan SMPS Islam Bani Hasyim dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu–Minggu, 7–8 Maret 2026 tersebut mengangkat tema “Al-Qur’an: Cahaya di Tengah Kegelapan Dunia.”

Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu (7/3/2026) pukul 14.00 WIB dengan kedatangan para santri di lingkungan sekolah. Para santri kemudian bersama-sama membersihkan ruang kelas yang akan digunakan sebagai tempat istirahat selama kegiatan berlangsung. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Ashar berjamaah di Masjid Bani Hasyim.

Memasuki waktu sore, para santri mengikuti kajian Nuzulul Qur’an yang menghadirkan ulama tamu dari Palestina, Syeikh Islam Anwar Al-Kurdi. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan kandungan Surah Al-Isra ayat 1 yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa.

Menurutnya, ayat tersebut tidak hanya menggambarkan peristiwa Isra Mi’raj, tetapi juga menunjukkan kedudukan penting Masjid Al-Aqsa dalam sejarah Islam.

“Masjid Al-Aqsa bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah dan perjuangan umat Islam. Karena itu kita tidak boleh melupakan Palestina dan saudara-saudara kita di sana,” ujar Syeikh Anwar Al-Kurdi di hadapan para santri.

Dalam kajiannya, ia menyampaikan dua alasan utama mengapa umat Islam harus peduli terhadap Palestina. Pertama, Masjid Al-Aqsa merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW memindahkan arah kiblat ke Masjidil Haram di Mekkah.

Kedua, Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya menyebutkan tiga masjid yang sangat dimuliakan dan dianjurkan untuk diziarahi, yaitu Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsa di Palestina.

Syeikh Anwar Al-Kurdi juga mengajak umat Islam untuk membantu masyarakat Palestina sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Kita mungkin tidak berada di Palestina, tetapi kita bisa membantu dengan doa, menyebarkan kepedulian, serta meningkatkan ilmu dan persatuan umat,” katanya.

Setelah kajian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan berbuka puasa bersama, shalat Maghrib berjamaah, makan malam bersama, serta shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Pada malam harinya, para santri juga mengikuti kegiatan tadarus Al-Qur’an sebelum beristirahat.

Keesokan harinya, Minggu (8/3/2026), kegiatan dimulai sejak dini hari dengan qiyamul lail, sahur bersama, serta shalat Subuh berjamaah. Para santri kemudian melanjutkan dengan dzikir pagi, membaca Surah Al-Waqiah dan Ar-Rahman, serta melaksanakan shalat Dhuha berjamaah.

Kegiatan Pondok Ramadhan juga diisi dengan ngaji kitab dan tasmi’ Al-Qur’an yang bertujuan memperkuat pemahaman dan kecintaan para santri terhadap Al-Qur’an.

Selain itu, panitia juga mengadakan penampilan Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dan tampilan pego sebagai sarana mengembangkan bakat para santri. Dalam kegiatan tersebut, tim AM-KKM 41 Nuradaya UIN MALIKI berperan sebagai juri dalam penilaian lomba MSQ.

Sebelum kegiatan berlangsung, tim AM-KKM 41 Nuradaya UIN Maliki juga telah memberikan pendampingan kepada para peserta selama satu minggu. Para santri dilatih untuk memahami isi ayat Al-Qur’an sekaligus menyampaikan pesan ayat secara baik di hadapan audiens.

Melihat penampilan para santri yang penuh semangat dan percaya diri, tim AM-KKM 41 Nuradaya UIN Maliki merasa bangga atas perkembangan yang ditunjukkan para peserta.

Panitia kemudian melanjutkan kegiatan dengan lomba Rangking 1 Keislaman untuk menguji wawasan para santri tentang ajaran Islam.

Rangkaian kegiatan Pondok Ramadhan akhirnya ditutup dengan pelaksanaan shalat Dzuhur berjamaah. Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan selama dua hari, para santri kembali ke rumah masing-masing dengan membawa pengalaman spiritual yang berkesan.

Melalui kegiatan tersebut, SMPS Islam Bani Hasyim berharap para santri tidak hanya memperingati Nuzulul Qur’an secara seremonial, tetapi juga semakin mencintai Al-Qur’an, memahami maknanya, serta menjadikannya sebagai cahaya petunjuk dalam kehidupan sehari-hari. ( Eno)