Lima Dosen UMI Makassar Tampil di Konferensi Internasional Malaysia, Soroti Moderasi Beragama di Era Digital

1965926_11zon

Malaysia | Serulingmedia.com – Lima dosen Fakultas Agama Islam (FAI) dan Program Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tampil sebagai pemateri dalam seminar internasional yang digelar di Johor, Malaysia.

 

Konferensi internasional tersebut berlangsung pada 1–2 September 2026 di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Johor, dengan mengangkat tema “Al-Quran and Al-Sunnah: Text, Context and Contemporary Applications” yang membahas berbagai isu Aqidah, Ushuluddin, Dakwah dan pemikiran Islam.

Kegiatan itu diikuti sejumlah akademisi dan utusan perguruan tinggi Islam dari Indonesia serta Malaysia sebagai negara tuan rumah.

Kehadiran para dosen UMI Makassar dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan cakrawala keilmuan akademisi dalam membaca berbagai persoalan kehidupan beragama, khususnya di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Salah satu pemateri, Prof. Dr. Hj. Nurlaelah, M.Hum., yang juga Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam UMI Makassar, mengangkat materi “Religious Moderation & Digital Literacy in Strengthening Social Cohesion in Multicultural Societies.”

Menurut Prof. Nurlaelah, masyarakat multikultural menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era digital.

 

Teknologi memang membuat komunikasi dan pertukaran informasi menjadi lebih cepat, namun pada saat yang sama juga membuka ruang lebih besar bagi penyebaran misinformasi, hoaks, ujaran kebencian dan berbagai konten yang berpotensi memicu konflik sosial.

“Teknologi yang semakin maju harus disikapi dengan bijak. Kemajuan digital harus digunakan sebaik mungkin, bukan disalahgunakan untuk merusak kehidupan masyarakat, apalagi menyebarkan kebencian,” ujar Prof. Nurlaelah.

Ia menegaskan, masyarakat, khususnya kalangan pendidik, memiliki tanggung jawab untuk mendorong pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

Menurutnya, literasi digital tidak cukup hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi.

 

Lebih jauh, masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi, memahami konteks, serta mempertimbangkan dampak sosial dan moral sebelum menyebarkan sebuah informasi.

“Sebagai seorang pendidik, kita harus selalu mengingatkan seluruh lapisan masyarakat agar menggunakan kemajuan digital sebagai sumber kemaslahatan umat, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Prof. Nurlaelah juga menempatkan moderasi beragama sebagai salah satu pendekatan penting dalam menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama, budaya dan pandangan yang beragam.

Ia menjelaskan, sikap moderat dapat menjadi jembatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, terutama ketika ruang digital semakin menjadi bagian penting dalam interaksi sosial.

Seminar internasional di Johor tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran gagasan antara akademisi Indonesia dan Malaysia untuk merespons berbagai persoalan keislaman kontemporer.

Keterlibatan lima dosen UMI Makassar di forum tersebut menunjukkan semakin terbukanya ruang akademik internasional bagi perguruan tinggi Islam Indonesia untuk menyampaikan gagasan, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan dengan perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara.( Yahya Patta/ Buang Supeno).