Kafe Ubi: Ketika Sawah, Sepiring Nasi, dan Mikrofon Mengalahkan Hiruk-Pikuk Kota

kafe ubi.jpeg8_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Ada tempat makan yang sengaja dibangun untuk mengejar kemewahan. Ada pula tempat yang justru menemukan daya tariknya dari kesederhanaan.

Kafe Ubi di jalur menuju Air Terjun Coban Lanang, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berada di kategori kedua.

Ia tidak menawarkan kemewahan yang berlebihan. Tidak pula mencoba tampil sebagai restoran eksklusif. Kafe ini justru menjual sesuatu yang semakin mahal di tengah kehidupan kota: suasana yang tenang, udara segar, hamparan sawah, makanan yang bersahabat dengan kantong, dan kebebasan untuk bersenang-senang.

Wisatawan lokal, terutama dari Malang dan kawasan sekitar Batu, mulai memanfaatkan tempat ini sebagai ruang untuk melepas penat.

Mereka datang untuk makan siang. Tetapi kemudian duduk lebih lama.

Memandang sawah.

Mengobrol.

Menikmati udara segar.

Lalu tiba-tiba mengambil mikrofon dan bernyanyi.

Kafe Ubi memang mempunyai satu daya tarik yang membuat pengunjung tidak sekadar datang, makan, lalu pergi. Karaoke tersedia secara gratis.

Di sinilah suasana makan siang bisa berubah menjadi hiburan kecil yang spontan. Tidak diperlukan panggung megah, tiket pertunjukan, maupun penyanyi profesional. Siapa saja boleh bernyanyi.

Dan ketika seseorang yang sudah dikenal karena kemampuan bernyanyinya datang, mikrofon pun seperti memiliki pemilik baru.

Itulah yang dialami Ketua POBSI Kota Batu, Gaib Sampurno.

Sejumlah pengunjung yang selama ini kerap menyaksikan Gaib bernyanyi di ATV Batu, rupanya tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika bertemu langsung dengannya di Kafe Ubi.

Gaib langsung diajak bernyanyi bersama.

Satu lagu belum selesai, permintaan lagu berikutnya sudah datang. Suasana yang semula hanya makan siang berubah menjadi semacam panggung hiburan spontan.

Gaib bahkan sampai kewalahan melayani ajakan bernyanyi dari para penggemarnya.

Namun, justru di situlah letak keakraban Kafe Ubi.

Tidak ada jarak antara orang yang datang sebagai pengunjung dan orang yang kebetulan dikenal publik. Semua melebur dalam suasana santai.

“Sering melihat Gaib nyanyi di ATV Batu. Begitu ketemu di sini, langsung kami ajak nyanyi bersama,” celetuk seorang pengunjung.

Kalimat sederhana itu barangkali cukup menggambarkan suasana Kafe Ubi.

Datang sebagai orang biasa, pulang membawa cerita.

Murah, tetapi Bukan Murahan

Ada satu hal lain yang membuat Kafe Ubi menarik: konsep makanannya.

Sistemnya prasmanan. Pengunjung tinggal memilih menu yang tersedia, mengambil sendiri sesuai selera, kemudian makan sepuasnya.

Konsep seperti ini tentu bukan sesuatu yang baru. Tetapi Kafe Ubi memberikan sentuhan yang membuatnya terasa berbeda: harga murah, tetapi bukan murahan.

Murah dalam arti ramah bagi kantong.

Bukan berarti mengorbankan rasa dan kualitas.

Bagi keluarga atau rombongan wisatawan, konsep makan sepuasnya memberikan keleluasaan. Tidak perlu terlalu banyak berhitung setiap mengambil lauk. Pengunjung bisa menikmati makanan sambil tetap menikmati suasana.

Di sinilah konsep sederhana itu bertemu dengan karakter wisata Kota Batu.

Orang datang bukan hanya mencari makanan. Mereka mencari pengalaman.

Dan pengalaman tersebut tidak harus mahal.

Sepiring nasi, beberapa pilihan lauk, sayuran, sambal, minuman, pemandangan persawahan, udara Bumiaji, serta karaoke gratis sudah cukup untuk membuat makan siang menjadi kegiatan yang panjang.

Mungkin justru karena itulah Kafe Ubi terasa dekat dengan masyarakat.

Wisata Tidak Selalu Harus Megah

Kehadiran Kafe Ubi sekaligus memperlihatkan bahwa potensi wisata di Kota Batu tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bangunan besar, wahana mahal, atau destinasi dengan investasi fantastis.

Kadang-kadang, kekuatan wisata justru berada pada sesuatu yang sudah dimiliki sebuah desa.

Sawahnya. Udaranya. Kulinernya. Dan manusianya.

Desa Pandanrejo memiliki lanskap pertanian yang menjadi bagian dari identitas kawasan Bumiaji. Ketika potensi alam tersebut dipadukan dengan tempat makan yang sederhana dan ruang interaksi masyarakat, lahirlah sebuah pengalaman wisata yang berbeda.

Kafe Ubi menjadi semacam ruang pertemuan.

Wisatawan dari Malang bertemu warga lokal.

Pecinta kuliner bertemu penikmat alam.

Orang yang awalnya hanya ingin makan siang akhirnya ikut bernyanyi.

Dan seseorang seperti Gaib Sampurno, yang semula mungkin hanya ingin menikmati waktu santai, malah menjadi “bintang tamu” dadakan karena pengunjung mengenal suaranya.

Begitulah pariwisata bekerja dalam bentuknya yang paling sederhana.

Bukan hanya soal berapa banyak orang yang datang.

Tetapi tentang berapa banyak cerita yang dibawa pulang.

Dari Makan Siang Menjadi Kenangan

Kota Batu memang telah lama dikenal sebagai kota wisata. Tetapi tantangan pariwisata bukan semata-mata mendatangkan wisatawan.

Yang tidak kalah penting adalah menciptakan alasan agar mereka mau berhenti lebih lama.

Kafe Ubi menawarkan alasan itu dengan cara sederhana.

Makan sepuasnya.

Menikmati udara segar.

Melihat hamparan sawah.

Bersantai bersama keluarga dan teman.

Lalu menyanyi tanpa harus membayar biaya karaoke.

Konsep tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya mudah diterima.

Sebab wisatawan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang spektakuler.

Kadang mereka hanya ingin duduk, makan dengan tenang, tertawa bersama teman, kemudian pulang dengan perasaan lebih ringan.

Dan jika beruntung, bisa membawa pulang satu cerita tambahan: pernah makan di tengah persawahan, lalu ikut bernyanyi bersama orang yang selama ini hanya mereka lihat bernyanyi dari layar televisi.

Kafe Ubi pada akhirnya bukan sekadar tempat makan.

Ia adalah sebuah ruang kecil tempat kuliner, alam, hiburan, dan perjumpaan manusia bertemu dalam satu meja.

Di tengah pariwisata yang kerap berlomba menjadi semakin mahal dan semakin mewah, Kafe Ubi justru mengingatkan bahwa wisata yang menyenangkan bisa lahir dari sesuatu yang sederhana.

Murah boleh. Sederhana boleh. Tetapi pengalaman tidak boleh murahan.

Dan di Kafe Ubi, sepiring makanan, hamparan sawah, udara Bumiaji, serta sebuah mikrofon tampaknya sudah cukup untuk membuat orang berkata:

“Lain kali, kita ke sini lagi.”