Kades Pendem Soroti Krisis Sampah Pempres, Minta DLH Kota Batu Segera Bertindak

1052263_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Kepala Desa Pendem, Triwayuono Effendi, menyoroti krisis sampah pempres (popok sekali pakai) yang hingga kini menumpuk di Tempat Penampungan Sementara (TPS) desa.

 

Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu (DLH) segera mengambil langkah konkret karena permohonan bantuan yang telah disampaikan belum membuahkan penanganan nyata.

 

“Sampah pempres sampai saat ini belum bisa kami atasi. Kami sudah meminta bantuan DLH, namun belum ada respons untuk menanganinya,” ujar Effendi, yang akrab disapa Fendi, dengan nada kesal, di kantornya Jum’at ( 20/2/2026 ).

Menurut Fendi, persoalan pempres menjadi serius mengingat jumlah balita di Desa Pendem mencapai sekitar 700 anak.

 

Dengan frekuensi penggantian popok 1–3 kali per hari, volume sampah pempes diperkirakan mencapai sekitar 3- 5 kilogram per hari.

 

“Jika dibiarkan, tentu akan terus menumpuk dan berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan serta kesehatan warga,” jelasnya.

 

Desa Pendem sebenarnya telah memiliki TPS 3R yang melakukan pengelolaan dan pemilahan sampah. Namun, residu pempres menjadi kendala utama karena tidak dapat didaur ulang.

 

“Residu yang tidak bisa diolah ini yang menjadi hambatan kami. Pembakaran konvensional pun tidak maksimal karena pempres harus dikeringkan terlebih dahulu, sementara kami tidak memiliki peralatan pendukung,” ungkap Fendi.

 

Ia berharap pemerintah kota dapat mengambil residu pempres dari TPS 3R agar lingkungan tetap terjaga.

Kondisi di lapangan turut diperkuat oleh data pengelola TPS 3R. Menurut Sri Rahma, Ketua KSM Sejahtera, jumlah pelanggan sampah rumah tangga yang ditangani TPS 3R mencapai 1.348 rumah, terdiri dari 787 rumah di Dusun Caru dan 561 rumah di Dusun Pendem.

 

“Setiap hari sampah yang masuk sekitar delapan tossa, masing-masing sekitar 250 kilogram. Komposisinya didominasi sampah anorganik, terutama pampers untuk anak-anak dan manula,” jelas Sri Rahma.

 

Setelah proses pemilahan, rata-rata setiap hari tersisa sekitar 20 arco sampah organik, lima zak pampers balita dan manula, serta empat keranjang sampah anorganik jenis plastik sebelum dipilah.

 

Sementara itu, sampah kardus dan duplek berkisar satu hingga dua keranjang.

 

Ia menambahkan, pada hari libur jumlah sampah organik cenderung meningkat. “Saat libur, hampir semua rumah tangga memasak di rumah, sehingga sampah organik bertambah,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, ketika dikonfirmasi menanggapi keluhan tersebut dengan menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan.

 

“Inggih Pak, terima kasih infonya. Kami akan teruskan ke UPTD Persampahan,” ujarnya singkat.

 

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Desa Pendem dan pengelola TPS 3R masih menunggu langkah konkret dari Pemerintah Kota Batu untuk penanganan residu pempres agar tidak terus menumpuk dan menimbulkan dampak lingkungan maupun kesehatan masyarakat. ( Eno).