Andrek Prana : Pokja Inginkan Walikota Batu 2024 Wong Batu 

Screenshot_20240425-062200_Gallery

 

Batu | serulingmedia.com – Sejak sekian periode, Walikota Batu telah dijabat oleh orang luar kota, menyisakan pertanyaan tentang relevansi dan pentingnya keterlibatan putra daerah dalam kepemimpinan lokal.

Andrek Prana, ketua Pokja Batu, menilai hal ini dengan serius, menyuarakan kebutuhan untuk memberikan kesempatan kepada putra daerah untuk memimpin kotanya.

Disebutkan, pentingnya identitas lokal dalam kepemimpinan kota tidak bisa diabaikan. Putra daerah memiliki kedalaman pemahaman tentang budaya, sejarah, dan kebutuhan masyarakat setempat.

” Mereka memiliki ikatan emosional dan komitmen yang kuat terhadap wilayah tempat mereka dibesarkan, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang lebih relevan dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat ” ungkap Andrek Prana yang dihubungi melalui jaringan Seluler, Rabu Malam ( 24/4/2024 ).

Selain itu, memberikan kesempatan kepada putra daerah untuk memimpin juga memperkuat rasa memiliki dan partisipasi warga lokal dalam proses pembangunan kota.

Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan dan implementasi program-program yang sesuai dengan kebutuhan riil mereka.

Namun, bukan berarti bahwa hanya karena seseorang adalah putra daerah, dia otomatis cocok untuk menjadi pemimpin.

Kompetensi, visi, dan integritas tetap menjadi faktor penentu utama dalam menilai kualifikasi seorang pemimpin. Proses seleksi yang transparan dan berbasis pada kinerja harus tetap dipertahankan untuk memastikan bahwa yang terbaik dipilih untuk memimpin kota.

” namun, memberikan kesempatan kepada putra daerah untuk memimpin Kota Batu adalah langkah yang penting untuk memperkuat identitas lokal dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan kota. hal ini juga harus didukung oleh kompetensi dan kualifikasi yang memadai agar kepemimpinan tersebut efektif dalam mencapai tujuan pembangunan dan kesejahteraan bersama ” tandasnya.

Dalam menentukan calon walikota, aspek karakter dan pengalaman dalam memimpin menjadi kunci utama. Batu, sebagai kota yang kaya akan sejarah dan identitasnya, membutuhkan sosok yang mampu mencerminkan nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks ini, Andrek Prana mengusulkan nama Krisdayanti, Abd.Madjid dan Punjul Sabtoso layak dipertimbangkan.

Krisdayanti (KD) muncul sebagai figur yang menarik perhatian.Krisdayanti, selain memiliki popularitas yang kuat di kalangan masyarakat Batu, juga telah membuktikan kapasitasnya dalam dunia politik dengan pengalamannya sebagai anggota DPR RI dari dapil Malang Raya.

Keberadaannya dalam pemerintahan sebelumnya memberikan wawasan yang luas mengenai dinamika politik lokal maupun nasional. Hal ini menjadi modal yang sangat berharga dalam mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin kota.

Namun, tidak boleh diabaikan bahwa Abd. Madjid juga memiliki potensi yang signifikan. Meskipun belum berhasil memenangkan pilkada sebelumnya, suaranya yang cukup besar menunjukkan bahwa dirinya memiliki basis dukungan yang solid, terutama di wilayah Tempat tinggalnya, Temas.

Konsistensinya dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat setempat merupakan nilai tambah yang tidak boleh diremehkan.

” dua kali pilkada lewat jalur independen, suaranya cukup banyak terakhir sekitar 29 ribu, sedangkan pemenangnya dapet 39 ribuan. Padahal modalnya hanya urunan gotong royong orang Batu dan sejarah pilkada Batu mencatat, selama dua kali maju, calon siapapun tidak pernah bisa ngalahkan suara Abdul Majid di tempat tinggalnya Temas ” ujarnya.

Figur lainnya Punjul Santoso, dengan pengalamannya sebagai anggota DPRD dan wakil walikota, juga memiliki keunggulan tersendiri. Keterlibatannya dalam pemerintahan sebelumnya memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika lokal dan tantangan yang dihadapi oleh kota Batu.

Kehadirannya sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat dan paham akan kebutuhan mereka menjadi nilai tambah yang sangat berarti.

Dalam mengevaluasi ketiga calon ini, penting untuk mempertimbangkan sejauh mana karakter dan pengalaman mereka dapat diintegrasikan dalam visi dan misi yang jelas untuk kemajuan Kota Batu.

Masyarakat perlu memilih sosok yang tidak hanya memiliki popularitas dan basis dukungan yang kuat, tetapi juga mampu mengartikulasikan solusi konkret atas permasalahan yang dihadapi oleh kota ini. Maka, dalam menentukan pilihan, karakter, pengalaman, dan kapasitas untuk memimpin serta mewujudkan perubahan yang dibutuhkan harus menjadi pertimbangan utama.

Sebagai pendiri Kota Batu, Pokja mencatat sejumlah permasalahan mendesak yang membutuhkan penyelesaian cepat. Salah satunya adalah persoalan sampah, yang telah menjadi pemandangan umum di kota ini.

Namun, solusi tidak hanya dapat ditemukan melalui kebijakan di atas kertas; perlu keterlibatan aktif dari tingkat terendah, yaitu RT dan RW.

” Mereka merupakan ujung tombak yang harus terlibat dalam diskusi dan implementasi program-program penanganan sampah. Dengan membuka pintu komunikasi sebesar-besarnya, solusi yang tepat dapat ditemukan ” tandas mantan Wartawan yang pernah mendapat penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim.

Tidak hanya sampah, penataan kota juga menjadi isu penting. Penerangan jalan yang kurang, pengelolaan anggaran yang tidak efisien, dan penggunaan dana SILFA yang tidak optimal menjadi sorotan utama.

” Masak setiap tahun anggaran yang bisa digunakan dan kembali ke kas negara ratusan miliar, rata- rata tiap tahun 200 M, mendingan dibagikan buat kegiatan kesejateraan warga. Ini terjadi karena pejabat gak mampu membuat program kerja dan perencanaan anggaran yang benar” paparnya.

Oleh karena itu diperlukan program kerja yang jelas dan pengelolaan anggaran yang transparan untuk memastikan dana publik digunakan secara efektif dan efisien. Hal ini juga melibatkan pengadaan kegiatan yang berorientasi pada kesejahteraan warga.

Masalah lainnya meliputi nasib anak-anak honorer, penataan kaki lima, dan kegiatan pariwisata yang hanya bersifat seremonial. Diperlukan tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas hidup warga, termasuk memberikan perlindungan dan kesempatan yang setara bagi anak-anak honorer serta menyusun program pariwisata yang berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Selain itu, reformasi birokrasi juga diperlukan untuk menghindari praktik suka dan tidak suka ( like & dislike ) yang dapat menghambat pembangunan.

” Kepemimpinan yang tepat dan berintegritas menjadi kunci dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Walikota kedepan harus memiliki visi yang jelas untuk menjadikan Kota Batu sebagai tempat yang harmonis, sejahtera, dan bahagia bagi seluruh warganya. Dengan membagi misi-visi ini secara sederhana, langkah menuju perubahan yang positif dapat dilakukan secara bersama-sama ” Pungkasnya. ( Eno )