Jungrahab, Tanaman Khas Kalimantan yang Dikaji sebagai Kandidat Antiinflamasi Modern

949659_11zon

Oleh: Abdul Wahid Suleman *Mahasiswa Program Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Yogyakarta | Serulingmedia.com – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Di antara ribuan tanaman obat yang tumbuh subur, jungrahab (Baeckea frutescens L.), tanaman khas Kalimantan, mulai menarik perhatian dunia ilmiah sebagai kandidat bahan obat antiinflamasi berbasis alam.

Sejak lama, masyarakat lokal Kalimantan memanfaatkan jungrahab sebagai obat tradisional untuk meredakan nyeri, pembengkakan, serta berbagai keluhan yang berkaitan dengan peradangan.

Penggunaan tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal.
Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana klaim tradisional tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah?

Inflamasi merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang penting. Namun, jika berlangsung secara kronis, kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit serius, seperti gangguan sendi, penyakit metabolik, hingga penyakit kardiovaskular.

Meski terapi antiinflamasi sintetis terbukti efektif, penggunaannya dalam jangka panjang kerap disertai risiko efek samping.

Hal inilah yang mendorong para peneliti untuk kembali melirik tanaman obat sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan.

Dalam praktik tradisional, daun dan bagian tertentu dari jungrahab umumnya digunakan dalam bentuk rebusan atau ramuan sederhana.

Kendati demikian, pengobatan berbasis tradisi menghadapi tantangan besar, seperti tidak adanya standardisasi dosis, variasi kualitas bahan baku, serta keterbatasan bukti ilmiah yang terverifikasi.

Di sinilah peran ilmu farmasi modern menjadi sangat penting.
Sejumlah penelitian terkini mulai mengkaji jungrahab dengan pendekatan ilmiah yang lebih sistematis.

Salah satu fokus utama adalah optimasi metode ekstraksi untuk memperoleh senyawa bioaktif secara maksimal.

Dengan mengatur jenis pelarut, suhu, dan waktu ekstraksi, proses ini bertujuan menghasilkan ekstrak yang konsisten dan terukur, sesuai dengan standar pengembangan obat modern.

Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa jungrahab mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.

Hubungan erat antara stres oksidatif dan proses inflamasi telah banyak dibuktikan dalam literatur ilmiah.

Senyawa antioksidan berperan menekan pembentukan radikal bebas yang dapat memicu respons inflamasi berlebihan.

Melalui uji in vitro, aktivitas biologis jungrahab dapat dievaluasi secara objektif, termasuk kemampuannya menghambat mediator inflamasi.

Menariknya, penelitian jungrahab juga mulai memanfaatkan pendekatan in silico atau pemodelan komputasi.

Metode seperti molecular docking memungkinkan peneliti memprediksi interaksi antara senyawa aktif jungrahab dengan target molekuler yang berperan dalam inflamasi, seperti enzim atau protein regulator.

Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat riset sekaligus memberikan gambaran awal mekanisme kerja pada tingkat molekuler.

Meski menunjukkan potensi menjanjikan, para peneliti mengingatkan pentingnya sikap kritis. Aktivitas antiinflamasi yang teramati melalui uji laboratorium dan pemodelan komputer belum dapat disamakan dengan efektivitas klinis.

Diperlukan tahapan lanjutan, mulai dari uji toksisitas, uji praklinik pada hewan, hingga uji klinik terkontrol pada manusia.

Selain itu, anggapan bahwa obat herbal selalu “alami dan pasti aman” juga perlu diluruskan.

Tanpa standardisasi dan pengawasan yang ketat, penggunaan tanaman obat justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

Oleh karena itu, pengembangan jungrahab harus ditempatkan dalam kerangka farmasi berbasis bukti, bukan sekadar romantisasi kearifan lokal.

Meski demikian, jungrahab memberikan pelajaran penting bahwa pengetahuan tradisional dapat menjadi titik awal inovasi farmasi modern apabila dipadukan dengan riset yang serius dan berintegritas.

Dengan kekayaan hayati yang dimilikinya, Kalimantan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan obat berbasis bahan alam yang bernilai global.

Pada akhirnya, perjalanan jungrahab dari tradisi menuju potensi terapi antiinflamasi modern mencerminkan arah baru pengembangan obat di masa depan—tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diuji dan diperkuat oleh sains.

Jika penelitian dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, jungrahab berpeluang menjadi simbol kearifan lokal yang bertransformasi menjadi solusi ilmiah bagi tantangan kesehatan modern.(Dosen Farmasi UNIMERZ Makassar*).