Dua Jawara Karate dari Junrejo, Berprestasi di Arena, Menanti Perhatian Kota Batu

KENZO6_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Dua remaja asal Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Kenzo Arja Ariendra (14) dan Kenzie Arja Ariendra (14), terbiasa menghabiskan waktu di arena latihan.

Bagi keduanya, sepulang sekolah bukan berarti waktu untuk bersantai. Ada latihan karate yang harus dijalani. Ada pula renang yang menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Dari ketekunan itu, satu demi satu prestasi lahir.

Kenzo dan Kenzie, dua saudara kembar yang kini duduk di kelas IX SMP Negeri 7 Batu, telah mengumpulkan sejumlah prestasi karate sejak 2023. Mereka tampil dalam berbagai kejuaraan tingkat daerah hingga internasional.

Di balik perjalanan kedua atlet muda tersebut, ada sosok Sri Rahayu. Ia merupakan ibu tunggal yang selama ini mendampingi anak-anaknya menjalani latihan dan pertandingan.

Sri bukan pelatih karate. Ia juga bukan guru olahraga. Ia hanya seorang ibu rumah tangga yang memilih mencurahkan waktunya untuk mendampingi perkembangan kedua anaknya.

“Yang penting mencari kegiatan positif. Selain itu supaya sekolahnya juga lebih gampang melalui jalur prestasi. Saya ingin akademik dan non-akademik mereka seimbang,” kata Sri.

Kenzo, dari Kata hingga Kumite

Kenzo mulai menorehkan prestasi karate pada 2023.

Ia meraih juara pertama kata perorangan pra-pemula putra dalam Karate Open & Festival Tournament Piala Kemerdekaan RI. Pada tahun yang sama, Kenzo meraih juara kedua kata Grade 4-6 Elementary School dalam International Karate Championship UNESA Rector Cup 2023.

Prestasinya berlanjut pada 2024.

Kenzo meraih juara kedua kata perorangan pemula putra dalam Kejuaraan Karate FORKI Jawa Timur 2024.

Ia kemudian meraih juara pertama kata perorangan SMP putra dalam Kejuaraan Karate Jatim Open dan Antar Pelajar Piala KONI Pusat di GOR Kanjuruhan Malang.

Dalam Kejuaraan Karate Open FORKI se-Jawa Timur AKAI Cup 2024 di GOR Ken Arok Malang, Kenzo juga meraih juara pertama kumite perorangan kelas -40 dan 45 kilogram SMP putra festival.

Prestasi lainnya diraih dalam International Karate UNESA Rector Cup, dengan menjadi juara pertama kumite 50 kilogram SMP putra.

Pada 2025, Kenzo kembali naik podium. Ia meraih juara pertama kumite 45 kilogram usia 12-13 tahun putra dalam East Java Karate Championship Piala Kemerdekaan RI di GOR Ken Arok Malang.

Deretan prestasi itu menunjukkan bahwa Kenzo tidak hanya mengandalkan satu nomor. Ia mampu turun di nomor kata maupun kumite.

Kenzie, Spesialis Kata

Sementara Kenzie lebih banyak menekuni nomor kata.

Pada 2023, ia meraih juara ketiga kata perorangan pra-pemula putra dalam Kejuaraan Karate Festival and Open Tournament Piala Wali Kota Malang.

Di tahun yang sama, Kenzie meraih juara pertama kata Grade 4-6 Elementary School dalam International Karate Championship UNESA Rector Cup.

Tahun 2024 menjadi salah satu periode penuh prestasi bagi Kenzie.

Ia meraih juara pertama kata perorangan pemula dalam Kejuaraan Jatim Open Piala Kemenpora RI di GOR Kanjuruhan Malang.

Prestasi berikutnya datang dari International Karate UNESA Rector Cup Surabaya. Kenzie kembali menjadi juara pertama kata perorangan SMP putra.

Di Kejuaraan Karate Open FORKI se-Jawa Timur AKAI Cup 2024 di GOR Ken Arok Malang, ia juga meraih juara pertama kata perorangan SMP putra festival.

Tidak berhenti di situ, Kenzie kembali meraih juara pertama kata perorangan SMP putra dalam Jatim Open & Pelajar Piala KONI Pusat RI di GOR Kanjuruhan Malang.

Ia juga meraih juara pertama kata perorangan pemula putra dalam Kejuaraan Karate FORKI Jawa Timur.

Pada 2025, Kenzie kembali menunjukkan konsistensinya. Ia meraih juara pertama kata perorangan usia 12-13 tahun putra dalam East Java Karate Championship Piala Kemenpora RI di GOR Ken Arok Malang.

Dari Karate ke Kolam Renang

Karate bukan satu-satunya olahraga yang ditekuni Kenzo dan Kenzie.

Keduanya juga aktif dalam renang. Kenzo lebih banyak turun di nomor sprint, termasuk 50 meter dan estafet 4 x 50 meter. Sementara Kenzie biasa mengikuti nomor 100 dan 200 meter.

Kesempatan mereka mengikuti kompetisi renang sempat terhambat persoalan mutasi klub.

Sri mengatakan, selama sekitar dua tahun kedua anaknya tidak dapat mengikuti sejumlah event renang karena persoalan tersebut. Setelah proses mutasi selesai, keduanya kemudian resmi bergabung dengan klub Lotus.

“Selama dua tahun kami vakum, karena mutasi kami dibekukan dan tidak diberikan surat mutasi,” ujar Sri.

Setelah kembali aktif, prestasi pun mulai menyusul.

Dalam O2SN tingkat Kota Batu, salah satu dari mereka berhasil meraih juara pertama dan berhak mewakili Kota Batu ke tingkat provinsi.

Pada kejuaraan renang lainnya, salah satu dari mereka juga meraih medali perak nomor estafet 50 meter dalam kompetisi di kawasan Kanjuruhan.

“Kalau Kenzo sprinter. Dia biasanya 50 meter. Kalau Kenzie biasanya 100 dan 200,” kata Sri.

Latihan Dimulai Sejak Subuh

Rutinitas kedua remaja itu cukup padat.

Sekolah, les, kemudian latihan. Untuk renang, mereka bahkan harus bangun sejak subuh.

“Full. Sudah habis waktunya untuk les. Paling pulang sekolah, les, habis les latihan. Renang juga mulai subuh,” tutur Sri.

Sri sengaja mengarahkan anak-anaknya pada kegiatan olahraga. Ia ingin waktu luang mereka diisi dengan aktivitas yang menurutnya bermanfaat.

Ia juga membatasi penggunaan telepon seluler.

“Saya tidak memperbolehkan HP. Mau tidak mau saya mengalihkan ke kegiatan seperti ini,” katanya.

Bagi Sri, olahraga bukan semata-mata tentang medali.

Di dalam latihan, anak-anak belajar disiplin. Di pertandingan, mereka belajar menghadapi tekanan, kemenangan, sekaligus kekalahan.

Ibu Tunggal di Balik Perjalanan Dua Atlet

Sri membesarkan tiga anak seorang diri.

Anak sulungnya, seorang perempuan, kini telah bekerja sebagai perawat di Surabaya. Sementara Kenzo dan Kenzie yang kini berusia 14 tahun menjadi bagian terbesar dari kesehariannya.

“Saya single parent. Mulai kecil mereka yang saya rawat sendiri,” ujar Sri.

Hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk mendampingi anak-anak.

Mengantar latihan, mendampingi pertandingan, mempersiapkan keperluan kompetisi, hingga memastikan pendidikan mereka tetap berjalan.

Sri mengaku bukan berasal dari dunia olahraga. Ia hanya ingin anak-anaknya memiliki kegiatan positif dan bekal untuk masa depan.

“Minimal bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik dari saya,” katanya.

Ia pun tidak memaksakan anak-anaknya kelak harus menjadi atlet profesional.

Menurut Sri, kemampuan yang terbentuk melalui olahraga dapat menjadi bekal apa pun profesi yang dipilih anak-anaknya kelak.

“Dengan olahraga otomatis otaknya juga selalu bekerja. Insya Allah jadi pintar juga. Mau bekerja di mana pun, fisik dapat,” tuturnya.

Menunggu Perhatian dari Kota Batu

Deretan prestasi Kenzo dan Kenzie menjadi gambaran bahwa potensi atlet muda tidak selalu lahir dari pusat pembinaan besar.

Dari lingkungan Desa Junrejo, dua anak ini tumbuh melalui latihan rutin dan dukungan keluarga.

Namun, di balik prestasi yang mereka raih, Sri berharap ada perhatian yang lebih besar terhadap atlet-atlet muda di daerah.

Perhatian itu tidak harus selalu berupa penghargaan setelah mereka menjadi juara. Menurutnya, pembinaan sejak proses latihan, dukungan mengikuti kompetisi, serta kesempatan berkembang juga penting.

Selama ini, perjalanan mereka masih banyak ditopang keluarga.

“Yang penting mencari kegiatan positif,” kata Sri.

Harapan Sri sebenarnya sederhana. Ia ingin prestasi anak-anaknya tidak berhenti sebagai koleksi medali pribadi, tetapi bisa menjadi bagian dari perjalanan pendidikan sekaligus kebanggaan daerah.

Kenzo dan Kenzie telah beberapa kali membawa nama sekolah dan daerah dalam pertandingan.

Mereka telah mengenal podium sejak usia belia.

Kini, dari Desa Junrejo, dua saudara kembar itu terus berlatih dan menatap pertandingan berikutnya.

Di arena, mereka berusaha menaklukkan lawan.

Di luar arena, Sri terus berdiri di belakang mereka.

Bukan untuk memastikan anak-anaknya selalu menang, melainkan memastikan mereka tetap memiliki kesempatan untuk berjuang.

Dua jawara muda itu sudah menunjukkan prestasi. Yang masih mereka tunggu adalah seberapa jauh perhatian dan pembinaan daerah dapat ikut mengiringi langkah mereka.