UIN Malang Teguhkan Kampus Inklusif, Mahasiswa Difabel Dapat Ruang Setara di PBAK 2026

Screenshot_2026-08-19-16-09-55-732_com.whatsapp-edit

Malang | Serulingmedia.com – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) meneguhkan komitmennya membangun kampus inklusif melalui pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Tahun 2026.

 

PBAK UIN Malang yang berlangsung pada Selasa (18/8/2026) tidak hanya menjadi ruang pengenalan kehidupan akademik bagi mahasiswa baru, tetapi juga menjadi momentum untuk menegaskan bahwa setiap mahasiswa memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan menjadi bagian dari keluarga besar kampus.

Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., secara simbolis menyematkan jas almamater kepada perwakilan mahasiswa difabel dan mahasiswa asing.

 

Momen tersebut menjadi simbol kuat bahwa UIN Malang membuka ruang pendidikan bagi mahasiswa tanpa membedakan latar belakang, budaya, maupun kondisi fisik.

Rektor UIN Malang menegaskan keberagaman bukan alasan untuk membatasi kesempatan mahasiswa.

“Mahasiswa kita datang dari berbagai latar belakang, budaya, pengalaman, dan kondisi. Perbedaan itu justru menjadi kekuatan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh mahasiswa untuk belajar dan berkembang,” ujar Prof. Ilfi.

Semangat inklusivitas tersebut semakin terlihat dari kehadiran dua mahasantri Mabna Fatimah Az-Zahra dalam prosesi penyematan jas almamater.

Salah seorang mahasantri memiliki tinggi badan sekitar 120 sentimeter. Sementara seorang mahasantri lainnya masih menjalani masa pemulihan akibat patah tulang dan harus menggunakan tongkat untuk membantu aktivitasnya.

Kondisi tersebut tidak menghalangi keduanya untuk mengikuti salah satu momentum penting sebagai mahasiswa baru UIN Malang.

Keduanya tetap hadir dan mengambil bagian dalam prosesi penyematan jas almamater bersama mahasiswa baru lainnya.

Kehadiran dua mahasantri tersebut menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menghilangkan kesempatan seseorang untuk memperoleh pendidikan, berorganisasi, berprestasi, dan membangun masa depan.

Pengasuh Mabna Fatimah Az-Zahra, Ummina Dewi, turut menyampaikan rasa bangga atas semangat yang ditunjukkan kedua mahasantri tersebut.

Menurut Ummina Dewi, kondisi yang sedang dihadapi keduanya tidak seharusnya menjadi penghalang untuk terus berproses dan meraih cita-cita.

“Semangat mereka menjadi motivasi bagi kita semua. Masing-masing punya ujian dan keterbatasan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita tetap mau berusaha dan tidak menyerah,” ungkapnya.

Bagi UIN Malang, kampus inklusif bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan melalui kesempatan yang setara dalam kehidupan akademik.

Prof. Ilfi mengatakan PBAK 2026 harus menjadi pengalaman pertama yang positif bagi mahasiswa baru. Karena itu, seluruh rangkaian kegiatan diarahkan berlangsung edukatif, humanis, aman, tertib, inklusif, dan bermartabat.

“PBAK ini merupakan awal bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan kampus. Karena itu, kami ingin seluruh proses berlangsung edukatif, humanis, aman, tertib, inklusif, dan tetap menjaga martabat mahasiswa,” katanya.

Ia menegaskan PBAK bukan ruang untuk menghadirkan perlakuan yang merendahkan mahasiswa baru. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi proses pengenalan budaya akademik sekaligus pembentukan karakter.

“PBAK bukan tempat untuk merendahkan mahasiswa. PBAK adalah proses mendidik, mengenalkan budaya akademik, membangun kedisiplinan, dan menanamkan nilai saling menghormati,” tegas Prof. Ilfi.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui pendampingan mahasiswa baru dengan mengedepankan edukasi, keteladanan, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap sesama.

UIN Malang juga memastikan PBAK 2026 tidak disertai pungutan pembayaran dalam bentuk apa pun. Kebijakan itu menjadi bagian dari komitmen kampus agar seluruh mahasiswa baru dapat mengikuti proses pengenalan kehidupan kampus secara setara dan nyaman.

Komitmen terhadap keberagaman dan kesetaraan tersebut juga sejalan dengan capaian UIN Malang pada 2026 yang meraih Predikat Utama Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Award III.

Capaian tersebut memperkuat komitmen UIN Malang dalam membangun tata kelola pendidikan yang adil, aman, setara, dan inklusif.

Prof. Ilfi menegaskan penghargaan tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan kampus sehari-hari, termasuk dalam memberikan ruang bagi mahasiswa dengan kebutuhan dan kondisi yang beragam.

“Yang paling penting bukan hanya penghargaan, tetapi bagaimana nilai-nilai itu benar-benar dirasakan oleh mahasiswa. Kita ingin membangun kampus yang aman, setara, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan seluruh mahasiswa,” ujarnya.

Kisah dua mahasantri Mabna Fatimah Az-Zahra pun menjadi pesan kuat dalam pelaksanaan PBAK tahun ini.

Mereka menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang dapat menjalani aktivitas dengan mudah, ada pula yang membutuhkan dukungan.

 

Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengurangi kesempatan seseorang dalam memperoleh pendidikan.

Langkah mereka mungkin berbeda, tetapi tujuan pendidikan tetap sama: belajar, berkembang, dan meraih masa depan.

Melalui PBAK 2026, UIN Malang ingin memastikan langkah pertama mahasiswa baru memasuki dunia perguruan tinggi dimulai dari pengalaman yang mendidik sekaligus memanusiakan.

Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, menghargai keberagaman, memperkuat kepedulian, dan tumbuh bersama.

PBAK UIN Malang 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa keberagaman merupakan bagian dari wajah kampus dan setiap mahasiswa berhak mendapatkan ruang yang setara.

UIN Malang meneguhkan pesan bahwa kampus adalah ruang untuk semua: berbeda dalam kondisi, tetapi setara dalam kesempatan.( Eno).