DLH Batu Bongkar Pola Kumpul-Angkut-Buang, RW 9 Sisir Didorong Jadi Percontohan Sampah Terpilah

SAMPAH2_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Pola kumpul, angkut, buang mulai didorong untuk ditinggalkan dalam pengelolaan sampah di Kota Batu. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu mengembangkan program RW Mandiri Sampah dengan menempatkan pemilahan sampah sejak dari rumah sebagai pintu masuk perubahan sistem.

RW 9 Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, menjadi lokasi berikutnya yang disiapkan untuk menjalankan program tersebut. Sosialisasi digelar di Graha Wangsa Kelurahan Sisir, Rabu sore (16/9/2026), bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Sisir.

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan DLH Kota Batu, Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan DLH Kota Batu, Ketua RW 9, para ketua RT, perwakilan dasawisma serta pengurus KSM TPS3R Kelurahan Sisir.

Program RW Mandiri Sampah sebelumnya telah dimulai di Desa Oro-Oro Ombo. Di Kelurahan Sisir, Kepala DLH Kota Batu kemudian meminta agar ditunjukkan lokasi yang akan menjadi sasaran program. RW 9 akhirnya diarahkan sebagai lokasi pelaksanaan.

Manager Program Zero Waste Ecoton Tonis Afrianto, S.I.Kom, mengatakan perubahan sistem pengelolaan sampah tidak akan berjalan tanpa perubahan perilaku masyarakat di tingkat rumah tangga.

Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 yang menunjukkan masih rendahnya kebiasaan memilah sampah. Sebanyak 57,91 persen rumah tangga disebut tidak memilah sampah. Sementara yang selalu memilah 9,14 persen, kadang-kadang 21,70 persen dan sering memilah 11,26 persen.

“Pentingnya gerakan memilah sampah,” ujar Tonis.

Menurut dia, pemilahan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan rumah tangga. Sistem di tingkat RT, RW, desa dan kelurahan harus ikut berubah agar sampah yang telah dipilah tidak kembali tercampur saat diangkut.

Angkut Sampah Tak Lagi Dicampur

Tonis mendorong perubahan mendasar pada sistem pengangkutan sampah. Setelah masyarakat memilah sampah di rumah, petugas pengangkut juga harus mempertahankan pemilahan tersebut hingga ke tempat pengolahan.

“Kalau dari rumah tangga sudah dipilah, nantinya petugas sampah punya kewajiban untuk melakukan pengangkutan yang sudah terpilah. Jadi tidak dicampur dalam satu gerobak atau mobil,” katanya.

Sarana pengangkutan, menurut dia, dapat dimodifikasi. Sampah organik ditempatkan dalam wadah tersendiri, sedangkan sampah anorganik dapat dimasukkan ke karung atau dipisahkan menggunakan sekat pada kendaraan.

Dengan sistem tersebut, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai barang buangan. Sampah yang memiliki nilai guna dan ekonomi dapat dipisahkan sejak awal untuk kemudian diolah atau dimanfaatkan.

Tonis menyebut pengelolaan sampah di tingkat desa dan kelurahan setidaknya membutuhkan lima aspek, yakni pendanaan, kelembagaan, partisipasi masyarakat, regulasi dan operasional.

Aspek operasional mencakup teknologi yang digunakan dalam pengolahan. Untuk sampah organik, misalnya, dapat dikembangkan pengomposan dengan dekomposter.

Sampah Organik dan Ancaman Metana

Khusus Kota Batu, Tonis menilai sampah organik perlu mendapat perhatian serius karena jumlahnya cukup besar. Bila tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menghasilkan gas metana.

Karena itu, pemilahan sampah organik harus dilakukan sejak sumbernya. Pemerintah Kota Batu, kata dia, telah menunjukkan komitmen melalui pembangunan rumah kompos serta berbagai kegiatan pengolahan sampah organik.

Pengolahan dapat diarahkan menjadi kompos, maggot maupun eco enzyme.

“Mulai dari sumbernya sampah organik sudah harus dipilah dengan baik,” katanya.

Sampah Bisa Jadi Sumber Ekonomi

Program RW Mandiri Sampah juga tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Pengelolaan sampah dinilai dapat membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah refill system, berupa toko curah atau isi ulang yang dapat dikembangkan di tingkat desa, kelurahan, RW maupun RT.

Toko tersebut dapat menjual kebutuhan rumah tangga sistem refill, sekaligus menjadi tempat pemasaran produk UMKM, kompos dan maggot.

“Ekonomi sudah harus dibangun dari pengelolaan sampah yang berhasil,” kata Tonis.

Produk yang dikembangkan nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Jika hasil survei menunjukkan masyarakat membutuhkan produk bermerek, sistem refill juga dapat diarahkan melalui kerja sama dengan produsen kebutuhan rumah tangga.

Dengan demikian, program RW Mandiri Sampah tidak berhenti pada ajakan memilah sampah. Sistem tersebut diarahkan membangun rantai pengelolaan dari rumah tangga, pengangkutan terpilah, pengolahan hingga menjadi produk bernilai ekonomi.

RW 9 Kelurahan Sisir kini menjadi salah satu titik yang diharapkan dapat membuktikan apakah perubahan tersebut bisa berjalan dari lingkungan terkecil di Kota Batu. ( Eno)