Keris dan Meteorite Jadi Aset Peradaban, FPN Dorong Malang Bangun Ekonomi Berbasis Warisan
Kota Malang | Serulingmedia.com — Malam mulai larut ketika pembicaraan tentang pembangunan justru bergerak ke arah yang tidak biasa.
Bukan tentang gedung tinggi. Bukan pula sekadar soal jalan dan infrastruktur.
Di sebuah pertemuan rutin para penggiat Tosan Aji, Selasa (1/9/2026), pembicaraan mengalir dari keris, pamor, sejarah Nusantara hingga batu meteor yang datang dari langit.
Ketua Umum Formasy Praja Nusantara (FPN) Dodik Purwoko duduk bersama Wahyu Eko Setiawan dan sejumlah penggiat Tosan Aji.
Awalnya, pertemuan tersebut membahas persiapan kegiatan 17-19 November 2026 di Taman Krida serta dukungan terhadap HUT Disway dan Dahlan Iskan.
Namun, malam itu ternyata membawa pembicaraan pada gagasan yang jauh lebih besar.
Tentang bagaimana sebuah warisan masa lalu bisa menjadi energi bagi masa depan.
Dodik melihat pembangunan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak bangunan berdiri atau seberapa besar anggaran yang dibelanjakan.
Menurut dia, pembangunan juga harus mampu menemukan dan menghidupkan aset yang sudah dimiliki masyarakat.
“Kita punya aset peradaban. Jangan sampai warisan yang luar biasa ini hanya menjadi cerita. Harus kita rawat, kita kembangkan, dan kita jadikan nilai tambah untuk masyarakat.”
Dalam konteks pembangunan kawasan, FPN menyatakan dukungan terhadap Road Map Megapolitan yang diinisiasi Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, sekaligus mengawal Koridor Selatan 2045.
Bagi Dodik, kedua gagasan tersebut tidak harus dipertentangkan.
Justru harus dipertemukan.
“Megapolitan itu bicara daya saing. Koridor Selatan bicara pemerataan. Dua-duanya penting. Kota boleh maju, tetapi wilayah selatan jangan ditinggalkan.”
Mpu Fanani
Keris, kata Mpu Fanani, tidak cukup dilihat sebagai senjata atau benda pusaka.
Di balik bilahnya terdapat sejarah. Pada pamornya tersimpan simbol. Pada proses pembuatannya terdapat ketekunan dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Keris adalah kitab
Kalimat itu kemudian menjadi semacam jembatan menuju pembicaraan tentang aset peradaban lainnya: meteorite.
Mpu Fanani mengungkapkan mimpinya membangun Museum Meteorite.
Museum tersebut tidak ingin berhenti sebagai ruang pajang.
Lebih jauh, ia dibayangkan sebagai pusat edukasi dan penelitian yang dilengkapi laboratorium, sekaligus tempat lahirnya ilmuwan-ilmuwan baru di bidang meteorite dan metalurgi.
Bahkan, suatu hari Indonesia diharapkan mampu menyelenggarakan lelang meteorite bertaraf internasional.
Gagasan itu tidak muncul tiba-tiba.
Mpu Fanani telah menjalani perjalanan panjang meneliti dan mengoleksi batu meteor yang ditemukan di berbagai wilayah Nusantara.
Batu-batu tersebut datang dari langit, jatuh ke bumi, kemudian tersimpan di tanah Indonesia.
Selama ini, sebagian masyarakat mungkin hanya melihatnya sebagai batu.
Tetapi di mata seorang peneliti dan kolektor, benda tersebut adalah arsip alam semesta yang menyimpan cerita tentang ruang, waktu, material dan sejarah pembentukan benda langit.
Dodik pun menyatakan dukungan penuh.
“Meteorite bukan hanya batu. Di sana ada ilmu pengetahuan, ada penelitian, ada teknologi, bahkan ada peluang ekonomi. Kalau kita serius mengelolanya, ini bisa menjadi aset peradaban.”
Bagi FPN, gagasan tersebut sejalan dengan semangat “Aset Peradaban, Nawa Bhumi Nitimira Ibu Pertiwi”—sembilan bakti untuk bumi pertiwi.
Salah satunya adalah menjaga warisan agar tidak punah, sekaligus menjadikannya sumber pertumbuhan baru.
Dodik menegaskan, pembangunan masa depan membutuhkan cara pandang yang lebih luas.
“Jangan hanya berpikir apa yang bisa kita bangun. Kita juga harus bertanya, apa yang sudah kita punya dan belum kita hidupkan.”
Pertanyaan itu menjadi penting ketika dikaitkan dengan Road Map Megapolitan dan Koridor Selatan 2045.
Megapolitan membutuhkan kawasan yang memiliki identitas dan karakter. Sementara Koridor Selatan membutuhkan potensi lokal yang mampu menghasilkan nilai tambah.
Dan potensi itu tidak selalu berbentuk sumber daya alam dalam pengertian konvensional.
Ia bisa berupa budaya.
Bisa berupa keterampilan para Mpu.
Bisa berupa pengetahuan tentang keris.
Bisa pula berupa batu meteor yang selama ini tersimpan di berbagai penjuru Nusantara.
Karena itu, menurut Dodik, pekerjaan berikutnya harus konkret.
“Siapkan tempatnya, siapkan orangnya, siapkan pasarnya. Jangan berhenti pada wacana.”
Taman Krida pada 17-19 November 2026 diharapkan menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan gagasan tersebut dengan masyarakat.
Di sana, keris bukan hanya ditampilkan sebagai pusaka.
Meteorite bukan sekadar benda langit.
Keduanya dapat diperkenalkan sebagai bagian dari cerita besar tentang Indonesia yang memiliki warisan, pengetahuan dan peluang.
Pada akhirnya, pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru.
Kadang-kadang, pembangunan justru dimulai dengan membuka kembali apa yang sudah lama kita miliki.
Dari bilah keris yang ditempa dengan kesabaran.
Dari batu meteor yang jatuh dari langit.
Dari tangan para Mpu.
Dan dari keberanian untuk mengubah warisan menjadi masa depan.
Sebab aset peradaban tidak boleh hanya disimpan untuk dikenang. Ia harus dihidupkan agar mampu menghidupi. ( Eno).






