Merawat Muktamirin dengan Kearifan Nusantara, 96 Terapis Pagar Nusa Diterjunkan ke Jombang

1947946_11zon

Jombang | Serulingmedia.com – Di tengah padatnya rangkaian Muktamar NU ke-35 di Jombang, perhatian terhadap kesehatan peserta menjadi bagian penting yang tak boleh diabaikan.

 

Ribuan muktamirin datang dari berbagai daerah dengan kondisi fisik dan usia yang beragam. Sebagian harus menghadapi kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dan mengikuti agenda Muktamar yang padat.

 

Di tengah situasi tersebut, Lembaga Ketabiban Pagar Nusa hadir memberikan pelayanan pengobatan berbasis tradisi leluhur Nusantara.

 

Layanan ini dipusatkan di kawasan STIKES Tambakberas, Jombang, serta disiapkan pula untuk melayani tamu-tamu di kediaman Gus Am, Wakil Ketua Umum PP Pagar Nusa, yang membutuhkan bantuan pengobatan dan pemulihan kebugaran.

 

Pelayanan tersebut dipimpin langsung Ketua Lembaga Ketabiban PW PSNU Pagar Nusa Jawa Timur, Ki Ageng Purwo Noto Negoro Suryo Ningrat.

 

Bagi Ki Ageng, momentum Muktamar bukan hanya tentang berkumpulnya warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Indonesia. Lebih dari itu, Muktamar menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa Pagar Nusa juga memiliki tradisi pengabdian kepada umat melalui bidang ketabiban.

 

“Kami hadir untuk membantu dan melayani para peserta Muktamar maupun tamu yang membutuhkan. Ini bagian dari pengabdian Pagar Nusa kepada umat dan bentuk menjaga warisan pengobatan leluhur Nusantara,” ujar Ki Ageng, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan pelayanan ketabiban tersebut, Sabtu ( 29/8/2026).

 

Menurutnya, para terapis yang diterjunkan merupakan bagian dari tim yang telah memiliki pengalaman di bidang ketabiban.

 

Mereka disiapkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta yang mengalami berbagai keluhan kesehatan dan kebugaran.

 

“Yang kami kedepankan adalah pelayanan. Siapa pun yang membutuhkan bantuan akan kami layani semaksimal mungkin,” demikian penekanan Ki Ageng.

96 Terapis dari Enam Wilayah

Skala pelayanan ketabiban Pagar Nusa dalam momentum Muktamar NU ke-35 tergolong besar. Sebanyak 96 terapis diterjunkan dari enam wilayah.

 

Komposisinya terdiri atas 50 terapis dari Lembaga Ketabiban PW PSNU Pagar Nusa Jawa Timur, 10 terapis dari DKI Jakarta, 5 terapis dari Jawa Barat, 20 terapis dari Jawa Tengah, 10 terapis dari DI Yogyakarta, serta 1 terapis dari Papua.

 

Para terapis tersebut ditempatkan di empat posko pelayanan. Setiap posko dipersiapkan untuk melayani peserta yang membutuhkan penanganan selama berlangsungnya kegiatan.

 

Kehadiran terapis dari berbagai daerah sekaligus memperlihatkan adanya semangat gotong royong di tubuh Pagar Nusa. Mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi bertemu dalam satu tugas pelayanan.

Dari Kelelahan hingga Keluhan Kesehatan
Berbagai keluhan menjadi perhatian tim ketabiban di lokasi. Di antaranya stroke, vertigo, asam urat, kolesterol, gangguan lambung, rabun mata, penurunan kondisi tubuh atau imun, hingga kelelahan.

Bagi peserta Muktamar, keberadaan posko ketabiban menjadi tempat untuk mendapatkan pertolongan awal ketika kondisi tubuh mulai menurun akibat padatnya aktivitas.

Suasana Muktamar yang berlangsung selama beberapa hari membuat faktor kebugaran menjadi penting. Peserta tidak hanya membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan mengikuti agenda organisasi, tetapi juga membutuhkan kondisi fisik yang memungkinkan mereka menjalani seluruh rangkaian kegiatan.

Di sinilah para terapis Pagar Nusa mengambil peran.
Mereka bekerja dari posko ke posko, melayani peserta yang datang dengan beragam keluhan.

 

Sentuhan pengobatan tradisional menjadi bagian dari upaya memberikan rasa nyaman sekaligus mempertahankan tradisi ketabiban yang berkembang di lingkungan Pagar Nusa.

 

Ketabiban sebagai Jalan Pengabdian
Ki Ageng Purwo Noto Negoro menempatkan ketabiban bukan semata-mata sebagai keterampilan pengobatan. Di dalamnya terdapat nilai pengabdian dan kepedulian terhadap sesama.

Tradisi pengobatan Nusantara, menurut semangat yang dibawa tim ketabiban, merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dirawat.

 

Pengetahuan tersebut tidak cukup hanya disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi juga perlu dikenalkan dan dikembangkan secara bertanggung jawab.

“Kami ingin tradisi leluhur tetap memiliki tempat dan memberikan manfaat. Tetapi pelayanan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan melihat kondisi orang yang kami bantu,” kata Ki Ageng.

Pesan tersebut penting karena pengobatan tradisional memiliki batas. Untuk penyakit atau kondisi medis tertentu yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan dokter, pasien tetap perlu diarahkan mendapatkan layanan kesehatan medis.

Dengan demikian, ketabiban tidak ditempatkan sebagai pengganti layanan medis, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar dan pendamping dalam menjaga kebugaran serta membantu keluhan tertentu.

Dari Jawa Timur hingga Papua

Muktamar NU ke-35 mempertemukan para terapis Pagar Nusa dari berbagai penjuru Indonesia.

Jawa Timur mengirimkan 50 terapis. Jawa Tengah 20 terapis. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing 10 terapis. Jawa Barat mengirimkan 5 terapis, sementara Papua turut mengirimkan 1 terapis.

Angka tersebut bukan sekadar statistik.
Di balik 96 terapis itu terdapat perjalanan panjang, kesiapan tenaga, dan semangat untuk hadir di tengah masyarakat.

Mereka meninggalkan aktivitas di daerah masing-masing untuk bergabung dalam pelayanan di Jombang. Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa Pagar Nusa tidak hanya berbicara tentang seni bela diri, tetapi juga memiliki ruang pengabdian melalui ketabiban.

Merawat Tubuh, Merawat Tradisi

Muktamar NU pada akhirnya bukan hanya peristiwa besar organisasi. Di dalamnya terdapat berbagai cerita kecil tentang pengabdian yang berlangsung di balik panggung.

Ada peserta yang datang membawa gagasan. Ada ulama yang hadir membawa pesan keumatan. Ada kader yang menjalankan tugas kepanitiaan. Dan ada para terapis yang bekerja dari posko pelayanan untuk membantu peserta yang membutuhkan.

Di tengah semua itu, Lembaga Ketabiban Pagar Nusa mencoba menghidupkan satu pesan sederhana: bahwa mengabdi kepada umat juga berarti merawat mereka ketika membutuhkan pertolongan.

Bagi Ki Ageng Purwo Noto Negoro dan timnya, pengobatan ala leluhur Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga kesehatan, merawat kearifan lokal, sekaligus menghadirkan Pagar Nusa lebih dekat dengan masyarakat.

Dari STIKES Tambakberas, Jombang, para terapis itu bekerja dalam senyap. Tidak berada di panggung utama Muktamar, tetapi kehadiran mereka dirasakan oleh mereka yang datang dalam kondisi lelah, sakit, atau membutuhkan bantuan.

Merawat tubuh menjadi jalan untuk merawat sesama. Dan merawat sesama menjadi bentuk lain dari pengabdian kepada umat. ( Eno).