KONI Batu Kehilangan 35 Atlet Andalan, Regenerasi Jadi Taruhan Porprov 2027
Batu | Serulingmedia.com — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu menghadapi persoalan serius menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
Sebanyak 35 atlet yang sebelumnya berprestasi pada Porprov 2025 dipastikan tidak dapat kembali bertanding karena terbentur regulasi batas usia.
Ketua KONI Kota Batu, Sentot Ari Wahyudi, mengatakan kondisi tersebut membuat proses regenerasi atlet menjadi pekerjaan mendesak.
KONI kini mulai memusatkan latihan dan melakukan penjaringan atlet baru di sejumlah cabang olahraga (cabor).
“Sekitar 35 atlet berprestasi kita dari Porprov sebelumnya sudah tidak bisa bertanding lagi karena regulasi pembatasan usia,” kata Sentot kepada awak media seusai membuka Kejuaraan Biliar tingkat Jawa Timur di GS Art2 Biliar, Kota Batu, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, persoalan bukan sekadar kehilangan jumlah atlet. Berkurangnya atlet berpengalaman juga berpotensi memengaruhi perolehan medali Kota Batu pada Porprov 2027.
Batas usia atlet berbeda pada setiap cabor. Secara umum, batas maksimal berada di usia 23 tahun. Namun, sejumlah cabang menerapkan batas lebih rendah, seperti gulat maksimal 20 tahun dan beberapa cabor lainnya bahkan membatasi usia hingga 16 tahun.
Karena itu, KONI belum berani memasang target perolehan medali. Organisasi tersebut memilih mengukur kekuatan atlet melalui pemusatan latihan, seleksi kebugaran, serta uji tanding sebelum menentukan target.
“Sekarang masih tahap pemusatan latihan dan seleksi. Kami akan melakukan try out ke berbagai daerah. Setelah melihat kualitas dan kapasitas atlet, baru kami bisa bicara target secara realistis,” ujarnya.
Puslat Jalan, Anggaran Terbatas
KONI mulai menggelar pemusatan latihan di sejumlah cabor. Wushu, MMA, tenis meja, tenis lapangan, biliar, gulat hingga sambo masuk dalam skema pembinaan menghadapi Porprov 2027.
Sejumlah atlet wushu nomor taolu bahkan dititipkan mengikuti pemusatan latihan daerah (Puslatda) Jawa Timur. Langkah itu ditempuh karena keterbatasan pelatih taolu berkualifikasi di daerah.
Sementara atlet gulat dan sambo menjalani latihan intensif di camp gulat Pakisaji, Kabupaten Malang. Atlet menginap dan menjalani program latihan sekaligus mendatangkan lawan tanding dari sejumlah daerah.
Sentot berharap dua cabor tersebut mampu menjadi salah satu sumber medali bagi Kota Batu.
“Harapan saya atlet sambo dan gulat minimal mampu mengukir prestasi terbaik pada Porprov mendatang, khususnya menyumbangkan medali emas untuk Kota Batu,” katanya.
Namun, pembinaan menghadapi persoalan klasik: anggaran.
KONI mengakui keterbatasan anggaran membuat tidak seluruh cabor dapat masuk dalam pemusatan latihan utama. Karena itu, cabor yang tidak masuk program utama diminta menjalankan Puslat Mandiri menggunakan pagu anggaran yang telah dialokasikan KONI.
Medali Porprov 2025 Jadi Tiket Awal
KONI tidak serta-merta memasukkan seluruh atlet ke dalam Puslat. Atlet peraih medali Porprov 2025 menjadi prioritas utama, baik peraih emas, perak maupun perunggu.
Setelah itu, KONI membuka ruang bagi atlet hasil penjaringan baru. Salah satu instrumen yang digunakan adalah tes VO2 Max untuk mengukur kapasitas fisik atlet.
Namun, daftar atlet yang akan dikirim ke Porprov 2027 belum final.
“Yang kami tentukan sekarang baru atlet yang masuk Puslat, bukan atlet yang pasti berangkat ke Porprov,” ujar Sentot.
Penentuan akhir akan bergantung pada evaluasi pelatih, perkembangan selama pemusatan latihan, tes kebugaran, serta hasil try out.
Paralayang Masih Jadi Andalan
Di tengah persoalan regenerasi, KONI juga masih menunggu kepastian teknis terkait cabang olahraga paralayang.
Sebelumnya, paralayang sempat terancam tidak dipertandingkan karena persoalan venue di Surabaya. Namun, berdasarkan komunikasi pengurus paralayang dengan Pengprov, Sentot menyebut cabor tersebut berpeluang tetap masuk pertandingan Porprov.
Bagi Kota Batu, kepastian itu penting. Paralayang selama ini menjadi salah satu cabor andalan untuk mendulang medali.
“Yang terpenting cabor ini tetap dipertandingkan, terlepas dari nanti lokasinya di mana,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Porprov 2027 bukan sekadar agenda pertandingan bagi KONI Batu. Ajang itu menjadi ujian apakah proses regenerasi mampu menggantikan 35 atlet yang selama ini menjadi tumpuan prestasi.
Jika regenerasi gagal, kehilangan atlet senior bukan hanya menjadi persoalan administrasi usia, tetapi bisa berubah menjadi kehilangan medali bagi Kota Batu.( Eno).






